TAOYUAN, POSNEWS.CO.ID – Presiden Taiwan Lai Ching-te menyampaikan pesan perlawanan kuat setibanya di Bandara Internasional Taoyuan pada Selasa sore. Momentum kembalinya Lai ini menandai akhir misi diplomatik ke Afrika. Namun, perjalanan tersebut menghadapi banyak rintangan logistik akibat intervensi China.
Pemerintah Taiwan mengungkapkan bahwa China sengaja menekan tiga negara di Samudra Hindia. Negara-negara tersebut adalah Seychelles, Mauritius, dan Madagaskar. Tujuannya agar mereka menolak izin lintas udara bagi pesawat kepresidenan. Akibatnya, delegasi Taiwan menempuh rute yang jauh lebih panjang. Hal ini penting guna menjamin keamanan serta kedaulatan perjalanan tersebut.
Rute Melingkar Menghindari “Sahabat” Beijing
Pesawat A340 milik Kerajaan Eswatini terbang jauh ke selatan melewati perairan internasional Samudra Hindia. Kemudian, data pelacakan menunjukkan pesawat tersebut sengaja menghindari wilayah informasi penerbangan (FIR) Mauritius dan Madagaskar. Sebab, kedua negara tersebut memiliki hubungan ekonomi yang sangat erat dengan Beijing.
Pesawat tersebut terbang di atas Pulau Natal Australia setelah melintasi Samudra Hindia. Selanjutnya, armada ini melewati ruang udara Indonesia, Malaysia, dan Filipina. Akhirnya, pesawat memasuki wilayah udara Taiwan dengan selamat. Pilot mengambil strategi navigasi ini guna menggagalkan blokade diplomatik China selama sebulan terakhir.
Pernyataan Tegas: “Taiwan Milik Dunia”
Dalam pidato ketibaannya, Presiden Lai menekankan satu poin penting. Ia menyatakan tekanan luar tidak akan melunturkan semangat rakyat Taiwan dalam menjalin hubungan internasional. Maka dari itu, ia memandang hambatan perjalanan justru membuktikan determinasi kuat Taipei kepada dunia.
“Dunia adalah milik semua orang. Taiwan milik dunia, dan rakyat Taiwan adalah warga dunia,” tegas Lai kepada media. Oleh sebab itu, ia menyatakan hak diplomasi antarnegara merupakan hak yang sah. Selain itu, ia menegaskan Taiwan tidak akan mundur sedikit pun saat menghadapi penindasan.
Retorika Keras China dan Dukungan Amerika Serikat
Serangan verbal dari Beijing semakin memperuncing ketegangan ini. Sebagai contoh, pemerintah China menyamakan langkah diplomatik Lai dengan perilaku “tikus” pada pekan lalu. Di samping itu, China secara konsisten menganggap Taiwan sebagai bagian wilayahnya. Beijing juga menolak pengakuan apa pun terhadap simbol negara Taiwan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di sisi lain, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat membela kunjungan tersebut. Washington menyebut Taiwan sebagai mitra yang andal dan mampu. Terlebih lagi, hubungan global Taipei memberikan manfaat besar bagi tatanan internasional. Dalam pada itu, Wakil Perdana Menteri Eswatini Thulisile Dladla turut mendampingi kunjungan ini. Ia memastikan keamanan perjalanan seluruh delegasi tersebut.
Menjaga Tatanan Internasional
Misi ke Afrika ini menjadi perjalanan luar negeri kedua bagi Lai sejak akhir 2024. Awalnya, ia sempat mengunjungi wilayah Pasifik serta melakukan transit di Hawaii dan Guam. Singkatnya, kunjungan ke Eswatini bukan sekadar upaya memelihara persahabatan lama. Langkah ini membuktikan keinginan kuat Taiwan dalam menjaga tatanan internasional bersama negara-negara sevisi.
Dengan demikian, publik dunia menyaksikan pergeseran persaingan diplomatik pada tahun 2026. Persaingan ini kini beralih ke aspek teknis dan navigasi udara. Meskipun China berupaya mempersempit ruang gerak Taipei, Taiwan justru menunjukkan kreativitas tinggi. Negara ini membuktikan ketahanannya dalam menjalankan hak diplomasi di panggung dunia.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















