RIAU, POSNEWS.CO.ID – Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau terus meluas.
Sepanjang periode 1 Januari hingga 24 Maret 2026, total luas lahan yang terbakar telah mencapai 2.713,26 hektare.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengungkapkan bahwa angka tersebut merupakan akumulasi data terbaru hingga Rabu (25/3/2026).
“Total luasan terbakar sejak awal tahun hingga 24 Maret mencapai 2.713,26 hektare,” ujarnya, Kamis (26/3/2026).
Selanjutnya, BNPB menyoroti tren peningkatan signifikan di sejumlah wilayah rawan.
Kebakaran terus meluas terutama di Kabupaten Siak, Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Indragiri Hulu, serta Kabupaten Indragiri Hilir yang menjadi titik panas utama dalam beberapa pekan terakhir.
Lebih lanjut, Abdul menegaskan bahwa penambahan luas kebakaran terjadi secara konsisten selama periode pelaporan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kondisi cuaca kering, suhu panas, serta minimnya curah hujan turut mempercepat penyebaran api di lahan gambut yang mudah terbakar.
Sementara itu, Pemerintah Provinsi Riau telah bergerak cepat dengan menetapkan status siaga darurat karhutla sejak 13 Februari 2026.
Status ini akan berlaku hingga 30 November 2026 sebagai langkah antisipasi menghadapi puncak musim kemarau.
Tak hanya itu, pemerintah bersama aparat gabungan terus menggencarkan upaya penanganan.
Tim di lapangan melakukan pemadaman melalui jalur darat dan udara, termasuk water bombing, serta meningkatkan patroli di wilayah rawan kebakaran untuk mencegah meluasnya titik api.
Selain pemadaman, BNPB Indonesia bersama BPBD dan instansi terkait juga mempercepat langkah tanggap darurat.
Mereka melakukan evakuasi warga terdampak, pendataan kerusakan, hingga penyaluran bantuan kebutuhan dasar bagi masyarakat.
Dengan kondisi yang terus berkembang, BNPB mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Jika tidak dikendalikan, karhutla berpotensi memicu kabut asap yang mengganggu kesehatan dan aktivitas ekonomi di wilayah Riau dan sekitarnya. (red)
Editor : Hadwan

















