Rezim Toll Booth Hormuz: Iran Legalkan Pungutan Liar

Jumat, 27 Maret 2026 - 09:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Peluang damai dari Buergenstock. Delegasi Amerika Serikat dan Iran menyepakati peta jalan transisi 60 hari guna mengakhiri perang dan memulihkan pasokan energi dunia. Dok: Istimewa.

Peluang damai dari Buergenstock. Delegasi Amerika Serikat dan Iran menyepakati peta jalan transisi 60 hari guna mengakhiri perang dan memulihkan pasokan energi dunia. Dok: Istimewa.

TEHERAN, POSNEWS.CO.ID – Republik Islam Iran kini secara efektif bertindak sebagai penjaga gerbang tunggal bagi Selat Hormuz, arteri pengiriman minyak terpenting di dunia. Teheran mulai meresmikan penguasaan jalur tersebut melalui mekanisme “pos penjagaan” yang mewajibkan setiap kapal menjalani pemeriksaan ketat oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Dalam konteks ini, langkah tersebut memperkuat cengkeraman Iran atas jalur air krusial ini. Akibatnya, Iran dapat memastikan aliran minyaknya menuju Tiongkok tetap berjalan lancar di tengah blokade total terhadap kepentingan Amerika Serikat dan sekutunya.

Kelumpuhan Lalu Lintas dan Ekspor ke Tiongkok

Arus lalu lintas melalui Selat Hormuz telah jatuh sebesar 90 persen sejak awal perang Iran. Oleh karena itu, harga minyak global melonjak tajam dan memicu kelangkaan energi yang mengkhawatirkan di negara-negara Asia. Firma intelijen maritim, Lloyd’s List Intelligence, melaporkan bahwa hanya sekitar 150 kapal yang melintas sejak 1 Maret lalu.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Meskipun demikian, terminal Pulau Kharg milik Iran tetap memuat sekitar 1,6 juta barel minyak sepanjang Maret. Jumlah ini hampir tidak berubah dibandingkan rata-rata bulanan sebelum perang. Bahkan, sebagian besar pembelinya adalah kilang swasta kecil di Tiongkok yang mengabaikan sanksi Amerika Serikat. Strategi ini memungkinkan Teheran mempertahankan pendapatan negara meskipun situasi kawasan sedang membara.

Baca Juga :  Viral Pengeroyokan di SPBU Bungur, Dua Pelaku Akhirnya Menyerahkan Diri

Mekanisme “Toll Booth” dan Pembayaran dalam Yuan

Iran kini memaksa kapal-kapal untuk memasuki perairan teritorial mereka melalui rute utara di sekitar Pulau Larak. Selanjutnya, entitas pelayaran wajib menyerahkan detail kargo, daftar awak, dan tujuan kepada perantara resmi IRGC. Kapal yang mendapatkan persetujuan akan menerima kode khusus dan pengawalan militer langsung.

Terlebih lagi, laporan menyebutkan bahwa setidaknya dua kapal telah melakukan pembayaran langsung untuk mendapatkan izin lintas. Menariknya, transaksi tersebut diselesaikan menggunakan mata uang Yuan, bukan dolar. Oleh sebab itu, Iran berupaya membangun sistem ekonomi tandingan yang kebal terhadap tekanan finansial Barat di tahun 2026.

Kecaman Dunia: “Terorisme Ekonomi”

Tindakan Iran ini memicu kemarahan dari negara-negara tetangga dan badan internasional. Sultan al-Jaber, pemimpin Abu Dhabi National Oil Co. (ADNOC), melontarkan kritik pedas dalam pidatonya di Washington. Ia menyebut penyanderaan Selat Hormuz sebagai bentuk “terorisme ekonomi” terhadap setiap konsumen di dunia.

Baca Juga :  Revolusi Kerja Jarak Jauh: Produktivitas Meningkat

“Ketika Iran menyandera Hormuz, setiap bangsa membayar tebusannya di pompa bensin dan toko kelontong,” tegas al-Jaber. Selain itu, Sekretaris Jenderal Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), Jasem Mohamed al-Budaiwi, menyatakan bahwa pungutan biaya lintas ini merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum laut PBB. Komunitas internasional kini mendesak adanya langkah terkoordinasi guna memulihkan prinsip “lintas damai” yang telah Iran abaikan.

Risiko Maut di Jalur Maritim

Kekhawatiran para pelaut semakin meningkat karena risiko serangan fisik yang sangat nyata. Setidaknya 18 kapal telah terkena serangan dan tujuh awak kapal tewas dalam satu bulan terakhir. Akibatnya, separuh dari kapal yang melintas memilih untuk mematikan sistem identifikasi radio (AIS) mereka guna menghindari deteksi radar.

Pihak parlemen Iran saat ini dikabarkan sedang menyusun rancangan undang-undang untuk melegalkan pungutan biaya lintas tersebut secara formal. Jika berhasil, langkah ini akan semakin memperumit upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan di Timur Tengah. Dunia kini menghadapi tantangan hukum dan militer yang berat dalam menjaga kebebasan navigasi di salah satu titik paling berbahaya di bumi pada tahun 2026.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hiu Viral Bukang-i Kembali Menerobos Masuk ke Kanal Kota Busan
Pembangunan Kota Vietnam Mengancam Keberadaan Hutan
Tiongkok Tampil Sebagai Pemasok Utama Teknologi Air Global
Ancaman Ruyung dan Tabrakan Mobil Memicu Kekhawatiran
Pelajar dan Guru Turun ke Jalanan Athena Menuntut Hunian Murah
Taiwan Keluarkan Peringatan Darat Menyusul Ancaman Topan
Intelijen AS Buka Suara Soal Kampanye Disinformasi Rusia
Marco Rubio Tegaskan Akses Starlink Ukraina Keputusan SpaceX

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 06:00 WIB

Hiu Viral Bukang-i Kembali Menerobos Masuk ke Kanal Kota Busan

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 14:36 WIB

Pembangunan Kota Vietnam Mengancam Keberadaan Hutan

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 13:28 WIB

Tiongkok Tampil Sebagai Pemasok Utama Teknologi Air Global

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 11:25 WIB

Ancaman Ruyung dan Tabrakan Mobil Memicu Kekhawatiran

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 08:21 WIB

Pelajar dan Guru Turun ke Jalanan Athena Menuntut Hunian Murah

Berita Terbaru

Penjualan SUV listrik Volkswagen ID. UNYX 08 hasil kolaborasi dengan Xpeng gagal capai target di Tiongkok. Simak ulasan krisis dan strategi. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Volkswagen dan Xpeng Belum Mengangkat Penjualan Mobil

Selasa, 27 Okt 2026 - 06:03 WIB

Ilustrasi, prakiraan cuaca Jabodetabek Selasa 27 Oktober 2026 dengan potensi hujan di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.
(Posnews/(iSock)

JABODETABEK

Hujan Berpotensi Guyur Jabodetabek Hari Ini, Bogor Waspadai Petir

Selasa, 27 Okt 2026 - 05:54 WIB