Jutaan Warga AS Turun ke Jalan Protes Kebijakan Deportasi

Minggu, 29 Maret 2026 - 20:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Negosiasi di hari lahir. Presiden AS Donald Trump menggelar diplomasi telepon bersama Vladimir Putin dan Volodymyr Zelenskyy menjelang pembukaan KTT G7 di Prancis. Dok: Istimewa.

Negosiasi di hari lahir. Presiden AS Donald Trump menggelar diplomasi telepon bersama Vladimir Putin dan Volodymyr Zelenskyy menjelang pembukaan KTT G7 di Prancis. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Jutaan warga Amerika Serikat membanjiri jalan-jalan kota di seluruh negeri untuk menyuarakan protes terhadap kepemimpinan Presiden Donald Trump. Demonstrasi ini menandai putaran ketiga dari gerakan nasional “No Kings” yang menentang kebijakan otoriter dan perang di Timur Tengah pada hari Sabtu.

Selain itu, penyelenggara mengeklaim telah merencanakan lebih dari 3.200 acara di seluruh 50 negara bagian. Fenomena unik muncul saat partisipasi masyarakat di kota-kota kecil melonjak hingga 40 persen dibandingkan mobilisasi pertama tahun lalu. Hal ini menunjukkan bahwa keresahan publik kian meluas melampaui pusat perkotaan besar.

Minnesota: Titik Api Perlawanan Imigrasi

Secara khusus, negara bagian Minnesota menjadi pusat perhatian utama setelah insiden penembakan fatal dua warga negara AS oleh petugas imigrasi federal di Minneapolis tahun ini. Massa di Saint Paul membawa poster wajah korban, Renee Good dan Alex Pretti, guna menuntut keadilan dan akuntabilitas pemerintah.

Selanjutnya, Gubernur Minnesota, Tim Walz, menyebut para pengunjuk rasa sebagai “jantung dan jiwa” dari nilai-nilai luhur Amerika. “Mereka menyebut kita radikal,” tegas Walz. “Anda benar, rasa kemanusiaan, demokrasi, dan kepatutan meradikalisasi kami untuk melawan otoritarianisme.” Musisi legendaris Bruce Springsteen turut tampil membawakan lagu “Streets of Minneapolis” sebagai bentuk duka atas tragedi kemanusiaan tersebut.

New York dan Washington: Ancaman Eksistensial Kebebasan

Sementara itu, di Manhattan, puluhan ribu pengunjuk rasa membentang sepanjang 10 blok di pusat kota. Aktor kawakan Robert De Niro, yang ikut mengorganisir acara, menyatakan bahwa Donald Trump merupakan ancaman eksistensial terbesar bagi kebebasan dan keamanan nasional.

Bahkan, sentimen serupa menggema di National Mall, Washington. Warga dari berbagai lapisan usia, termasuk kelompok lansia di Chevy Chase, membawa spanduk bertuliskan “Lawan Tirani”. Mereka menyamakan gerakan ini dengan semangat revolusi Amerika dalam melawan kekuasaan raja yang absolut di masa lalu.

Bentrokan di Dallas dan Penangkapan di Los Angeles

Meskipun demikian, ketegangan fisik pecah di Dallas antara demonstran “No Kings” dengan kelompok tandingan sayap kanan. Polisi melakukan beberapa penangkapan setelah perkelahian kecil pecah akibat pemblokiran jalan. Di Los Angeles, otoritas keamanan menyemprotkan gas air mata untuk membubarkan massa setelah beberapa orang melemparkan benda ke arah penjara federal.

Baca Juga :  Front Baru di Laut Merah: Houthi Siaga Blokade Selat Bab al-Mandab

Oleh karena itu, kebijakan agresif Trump justru menyatukan berbagai faksi oposisi. “Satu hal yang saya hargai dari Trump adalah kemampuannya memobilisasi para penentang,” ujar Chris Brendel, seorang pengunjuk rasa di Dallas. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak bisa lagi berdiam diri demi masa depan generasi muda.

Strategi Menjelang Pemilihan Sela November

Terlebih lagi, gerakan ini terjadi saat Amerika Serikat bersiap menghadapi pemilihan sela yang akan menentukan komposisi Kongres. Penyelenggara mencatat lonjakan pendaftaran peserta di negara bagian yang secara tradisional merupakan basis Republik, seperti Idaho dan Wyoming.

Sebagai hasilnya, tekanan terhadap Gedung Putih kian meningkat seiring dengan merosotnya popularitas Trump. Jajak pendapat Reuters/Ipsos terbaru menunjukkan tingkat dukungan publik jatuh ke titik terendah sebesar 36 persen. Perang di Iran, yang dianggap banyak warga sebagai “perang bodoh”, menjadi pendorong utama hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap administrasi Trump di tahun 2026 ini.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mantan PM Hungaria Tuduh Pemerintah Hancurkan Demokrasi
Ribuan Pemuda Bentrok dengan Polisi di New Delhi Desak Menteri
Dua Tanker Minyak Saudi Putar Balik di Laut Merah
Marco Rubio di Manila: Ancaman Tarif Iran di Selat Hormuz
Ibrahim Traore Tegaskan Kekuasaan Tunggal di Burkina Faso
Mayor Mamdani Sebut New York Tak Bisa Tangkap Netanyahu
Diplomasi Manila: Kanada Mendesak Gencatan Senjata
Inflasi Inggris Turun ke 2,6 Persen Dorong Program Ekonomi

Berita Terkait

Jumat, 24 Juli 2026 - 14:22 WIB

Mantan PM Hungaria Tuduh Pemerintah Hancurkan Demokrasi

Jumat, 24 Juli 2026 - 11:11 WIB

Ribuan Pemuda Bentrok dengan Polisi di New Delhi Desak Menteri

Kamis, 23 Juli 2026 - 13:16 WIB

Dua Tanker Minyak Saudi Putar Balik di Laut Merah

Kamis, 23 Juli 2026 - 08:00 WIB

Marco Rubio di Manila: Ancaman Tarif Iran di Selat Hormuz

Kamis, 23 Juli 2026 - 07:30 WIB

Ibrahim Traore Tegaskan Kekuasaan Tunggal di Burkina Faso

Berita Terbaru

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Iman Imanuddin. (Posnews/Humas PMJ)

HUKRIM

Modus Kerja di Turki, 105 WNI Dikirim Ilegal ke Libya

Jumat, 24 Jul 2026 - 17:01 WIB

Panggung politik Hungaria memanas. Mantan PM Viktor Orban merilis Pernyataan Perlawanan pasca-penggeledahan kantor partai Fidesz oleh pihak kejaksaan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Mantan PM Hungaria Tuduh Pemerintah Hancurkan Demokrasi

Jumat, 24 Jul 2026 - 14:22 WIB