Iran Serang Tanker Minyak Prima Menggunakan Drone di Selat Hormuz

Minggu, 5 April 2026 - 14:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Blokade semakin mematikan. Garda Revolusi Iran (IRGC) menghantam tanker minyak

Blokade semakin mematikan. Garda Revolusi Iran (IRGC) menghantam tanker minyak "Prima" menggunakan drone setelah kapal tersebut dianggap melanggar larangan navigasi di Selat Hormuz pada Sabtu pagi. Dok: VCG.

TEHERAN, POSNEWS.CO.ID – Ketegangan di urat nadi energi dunia, Selat Hormuz, mencapai titik didih baru pada Sabtu pagi. Pasukan laut Garda Revolusi Iran (IRGC) mengonfirmasi telah menghantam sebuah tanker minyak komersial yang beroperasi di wilayah tersebut.

Dalam konteks ini, kapal yang menjadi sasaran diidentifikasi dengan nama komersial “Prima”. Militer Iran menggunakan teknologi drone untuk melumpuhkan kapal tersebut setelah serangkaian peringatan keamanan diabaikan oleh awak kapal.

Pelanggaran Navigasi dan Serangan Drone

Laporan resmi dari kantor berita Teheran menyebutkan bahwa tanker “Prima” gagal mematuhi instruksi navigasi yang dikeluarkan oleh Angkatan Laut IRGC. Akibatnya, militer mengambil tindakan fisik guna menegakkan larangan pergerakan yang diberlakukan karena alasan keamanan nasional.

Bahkan, IRGC menyatakan bahwa Selat Hormuz kini berada di bawah kendali penuh mereka. Pihak berwenang mengeklaim kontrol ketat ini telah berjalan secara efektif selama delapan hari terakhir. Oleh karena itu, setiap kapal yang melintas tanpa izin khusus berisiko menghadapi tindakan militer serupa di masa depan.

Baca Juga :  Ribuan Aksi ICE Out for Good Siap Lumpuhkan AS

Klasifikasi Target: Aset Amerika Serikat dan Israel

Sikap Iran terhadap pelayaran internasional kini menjadi sangat diskriminatif. Televisi pemerintah Iran mengutip sumber militer yang memperingatkan bahwa Selat Hormuz tidak lagi aman bagi pihak-pihak tertentu. Secara khusus, kapal-kapal yang berafiliasi dengan Amerika Serikat atau Israel secara otomatis dianggap sebagai target militer.

Dalam hal ini, larangan melintas berlaku ketat bagi kapal tanker dan kapal komersial yang bersekutu dengan “negara-negara musuh”. Langkah ini merupakan bagian dari strategi pertahanan Iran untuk membatasi ruang gerak logistik lawan di wilayah Teluk. Sebagai hasilnya, arus pengiriman energi global kini menghadapi gangguan sistemik yang kian parah.

Latar Belakang: Balasan atas Tragedi 28 Februari

Eskalasi di laut ini berakar pada serangan udara besar-besaran yang diluncurkan oleh Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026. Gempuran tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei, beserta sejumlah komandan senior dan ratusan warga sipil.

Baca Juga :  Perang Dingin Baru: Unipolaritas, Bipolaritas, dan Mana yang Lebih Stabil?

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sejak saat itu, Iran merespons dengan meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan aset-aset strategis sekutu di seluruh Timur Tengah. Terlebih lagi, penargetan tanker minyak di Selat Hormuz dipandang sebagai upaya Teheran untuk memukul ekonomi lawan melalui jalur pasar komoditas.

Menanti Respon Satuan Tugas Maritim

Masa depan navigasi internasional di Selat Hormuz kini berada dalam ketidakpastian tinggi. Pada akhirnya, dunia internasional menanti apakah Amerika Serikat dan sekutunya akan meluncurkan operasi pengawalan bersenjata secara besar-besaran guna merespons serangan terhadap tanker “Prima”.

Dengan demikian, risiko perang energi global kian nyata seiring dengan ambisi Iran untuk mempertahankan kontrol atas jalur yang mengangkut seperlima pasokan minyak dunia tersebut. Tanpa adanya de-eskalasi segera, Selat Hormuz diprediksi akan menjadi zona terlarang bagi pelayaran komersial Barat di sisa tahun 2026 ini.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Polda Riau Bongkar Mafia Solar Subsidi, Lebih 10.000 Liter Disita dari Darat dan Laut
JK Bantah Tuduhan Danai Isu Ijazah Jokowi Rp5 Miliar, Siap Laporkan ke Bareskrim
Polisi Bongkar Kedok Konter HP di Kabupaten Bogor, Jual Tramadol Ilegal
Diplomasi Transnasional: AS Dekati DR Kongo untuk Skema Deportasi
Pemotor Tewas Terlindas Truk Dinas TNI AD di Kalideres, Sopir Diperiksa
Petani di Bone Tewas Ditikam, Pelaku Ngaku Sakit Hati soal Perselingkuhan
UNESCO Tunjuk Profesor Tiongkok Chen Qun sebagai Asisten Direktur Jenderal
Produsen Minyak Teluk Aktifkan Jalur Lintas Darat Guna Hindari Selat Hormuz

Berita Terkait

Minggu, 5 April 2026 - 20:59 WIB

Polda Riau Bongkar Mafia Solar Subsidi, Lebih 10.000 Liter Disita dari Darat dan Laut

Minggu, 5 April 2026 - 20:40 WIB

JK Bantah Tuduhan Danai Isu Ijazah Jokowi Rp5 Miliar, Siap Laporkan ke Bareskrim

Minggu, 5 April 2026 - 18:44 WIB

Polisi Bongkar Kedok Konter HP di Kabupaten Bogor, Jual Tramadol Ilegal

Minggu, 5 April 2026 - 18:39 WIB

Diplomasi Transnasional: AS Dekati DR Kongo untuk Skema Deportasi

Minggu, 5 April 2026 - 18:28 WIB

Pemotor Tewas Terlindas Truk Dinas TNI AD di Kalideres, Sopir Diperiksa

Berita Terbaru

Imigrasi sebagai alat tawar. Washington menjajaki kerja sama dengan Republik Demokratik Kongo untuk memproses deportasi migran ilegal, menyatukan isu perbatasan dengan kepentingan strategis mineral kritis di Afrika. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Diplomasi Transnasional: AS Dekati DR Kongo untuk Skema Deportasi

Minggu, 5 Apr 2026 - 18:39 WIB