Antroposen dan Kematian Alam: Menggugat Posisi Manusia

Selasa, 7 April 2026 - 20:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Bumi bukan milik kita sendiri. Di tengah krisis iklim yang kian ekstrem, perspektif Post-Humanisme mengajak kita menanggalkan kesombongan sebagai

Ilustrasi, Bumi bukan milik kita sendiri. Di tengah krisis iklim yang kian ekstrem, perspektif Post-Humanisme mengajak kita menanggalkan kesombongan sebagai "raja alam" dan mulai belajar hidup berdampingan dengan entitas non-manusia. Dok: Istimewa.

LONDON, POSNEWS.CO.ID – Selama berabad-abad, peradaban Barat dibangun di atas satu asumsi besar: manusia adalah subjek yang berkuasa, dan alam adalah objek yang bisa kita eksploitasi tanpa batas. Namun, di tahun 2026, amukan iklim dan kepunahan massal membuktikan bahwa asumsi tersebut telah membawa kita ke ambang kehancuran.

Langkah filsafat masa kini mulai bergeser ke arah Post-Humanisme. Oleh karena itu, memahami transisi dari dominasi manusia menuju kolaborasi ekologis adalah kunci untuk menyelamatkan masa depan planet ini.

Era Antroposen: Ketika Manusia Menjadi Bencana Geologis

Para ilmuwan kini secara luas menyepakati bahwa kita telah memasuki era Antroposen. Dalam konteks ini, istilah tersebut merujuk pada zaman di mana jejak kimia dan fisik manusia kini terukir permanen dalam lapisan kerak bumi.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Secara khusus, aktivitas industri, urbanisasi masif, dan ketergantungan pada bahan bakar fosil telah mengubah manusia menjadi kekuatan geologis utama. Bahkan, dampak manusia kini melampaui kekuatan alami seperti letusan gunung berapi atau pergeseran tektonik. Di tahun 2026, fenomena ini tidak lagi menjadi perdebatan akademik semata, melainkan realitas harian yang terlihat dari kenaikan suhu permukaan laut yang mencapai rekor tertinggi.

Kritik Antroposentrisme: Akar dari Krisis Ekologi

Akar dari kiamat ekologi ini adalah Antroposentrisme—cara pandang yang menempatkan manusia sebagai pusat dan tujuan akhir dari semesta. Filsuf era Pencerahan seperti RenĂ© Descartes membayangkan manusia sebagai “tuan dan pemilik alam”.

Baca Juga :  Jejak Kayu Shihuahuaco dan Ancaman Deforestasi di Peru

Lebih lanjut, pandangan ini menciptakan jurang pemisah antara “budaya” (milik manusia) dan “alam” (segala sesuatu di luar manusia). Akibatnya, kita menganggap sungai, hutan, dan spesies lain hanya sebagai “sumber daya” yang bernilai sejauh mereka berguna bagi ekonomi kita. Post-humanisme menantang kesombongan ini dengan menegaskan bahwa manusia tidak lebih penting daripada ekosistem yang menyokongnya. Tanpa alam yang sehat, kedaulatan manusia hanyalah ilusi yang akan runtuh seketika.

Jejaring Aktor-Jaringan (ANT): Kesetaraan Agensi

Bruno Latour, salah satu pemikir ekofilsafat paling berpengaruh, menawarkan konsep Actor-Network Theory (ANT). Latour berargumen bahwa kita harus berhenti melihat dunia sebagai kumpulan individu manusia yang beraksi terhadap benda mati.

Dalam hal ini, agensi atau kemampuan untuk bertindak tidak hanya dimiliki manusia. Sebaliknya, benda mati, mikroba, teknologi, dan fenomena cuaca adalah “aktor” yang setara dalam sebuah jaringan.

  • Manusia: Pengambil kebijakan.
  • Non-Manusia: Virus yang mengubah ekonomi global, AI yang mengelola data, atau karbon yang menghangatkan atmosfer.

Sebagai hasilnya, politik di tahun 2026 tidak lagi hanya tentang kepentingan antar-negara, melainkan tentang negosiasi dengan entitas non-manusia. Latour mendesak kita untuk membentuk “Parlemen Benda-Benda” guna mendengarkan jeritan alam yang selama ini kita abaikan dalam proses diplomasi internasional.

Staying with the Trouble: Etika Hidup Bersama

Donna Haraway membawa argumen ini ke ranah yang lebih praktis melalui konsep “Staying with the Trouble”. Haraway menolak sikap pesimis yang menyerah pada kehancuran, namun ia juga menolak optimisme teknologi yang naif.

Baca Juga :  Normalisasi Joki Tugas & Skripsi: Gelar Sarjana Hasil Beli, Bukan Kompetensi

Terlebih lagi, ia memperkenalkan istilah Sympoiesis—berarti “membuat bersama”. Manusia harus belajar menjalin hubungan kerabat (making kin) dengan spesies lain. Secara khusus, Haraway menekankan pentingnya bertanggung jawab terhadap kekacauan yang telah kita buat.

Oleh sebab itu, di tahun 2026, etika lingkungan bukan lagi soal “menyelamatkan alam” seolah alam ada di luar sana. Melainkan, soal bagaimana kita bisa hidup, mati, dan pulih bersama dalam jaringan yang kusut namun indah. Ini adalah bentuk pemberontakan terhadap ego manusia demi keberlangsungan planet.

Menuju Kedaulatan Planeter

Masa depan kita tidak lagi bergantung pada seberapa hebat kita menguasai teknologi, melainkan pada seberapa rendah hati kita di hadapan bumi. Pada akhirnya, Antroposen mengajarkan bahwa kematian alam adalah juga kematian manusia.

Dengan demikian, dunia memerlukan paradigma baru yang tidak lagi menempatkan manusia di puncak piramida. Kita perlu melihat diri kita sebagai satu serat dalam anyaman besar kehidupan. Di tahun 2026, kebijaksanaan sejati adalah kemampuan untuk hidup berdampingan dengan penuh hormat terhadap setiap entitas—baik yang bernapas maupun tidak—demi menjaga agar detak jantung bumi tidak berhenti selamanya.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Trump Klaim Kesepakatan Damai dengan Iran Hampir Tuntas
Brimob Polda Metro Gagalkan Tawuran dan Balap Liar, Celurit hingga Narkoba Disita
SpaceX Uji Coba Roket Terkuat dalam Sejarah Jelang Misi Bulan
Selebriti Lawan Deepfake AI dengan Hukum Trademark
Dendam Lama Meledak di Panggung Nikahan, Lansia Tanjung Priok Ditangkap
AS Wajibkan Pelamar Green Card Ajukan Aplikasi dari Negara Asal
Ledakan Gas Tewaskan 90 Pekerja, Bencana Terburuk dalam 17 Tahun
Ini Tampang Kecot Rampok Wanita Bogor, Mobil Dijual Murah buat Judol dan Foya-foya

Berita Terkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 14:03 WIB

Trump Klaim Kesepakatan Damai dengan Iran Hampir Tuntas

Minggu, 24 Mei 2026 - 13:44 WIB

Brimob Polda Metro Gagalkan Tawuran dan Balap Liar, Celurit hingga Narkoba Disita

Minggu, 24 Mei 2026 - 13:30 WIB

SpaceX Uji Coba Roket Terkuat dalam Sejarah Jelang Misi Bulan

Minggu, 24 Mei 2026 - 12:57 WIB

Selebriti Lawan Deepfake AI dengan Hukum Trademark

Minggu, 24 Mei 2026 - 09:57 WIB

Dendam Lama Meledak di Panggung Nikahan, Lansia Tanjung Priok Ditangkap

Berita Terbaru

Pintu perdamaian terbuka. Presiden Donald Trump mengeklaim negosiasi dengan Iran telah mencapai tahap akhir, meski isu nuklir dan kontrol Selat Hormuz masih menjadi ganjalan besar bagi tercapainya perdamaian permanen. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Trump Klaim Kesepakatan Damai dengan Iran Hampir Tuntas

Minggu, 24 Mei 2026 - 14:03 WIB

Era baru eksplorasi ruang angkasa. SpaceX sukses meluncurkan Starship V3, roket paling kuat yang pernah dibuat manusia, sebagai langkah krusial bagi ambisi NASA mendaratkan astronot di Bulan dan rencana perjalanan manusia ke Mars. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

SpaceX Uji Coba Roket Terkuat dalam Sejarah Jelang Misi Bulan

Minggu, 24 Mei 2026 - 13:30 WIB

Taylor Swift hingga Matthew McConaughey kini menggunakan hukum merek dagang untuk melindungi wajah dan suara mereka dari kloning kecerdasan buatan. Dok: Istimewa.

ENTERTAINMENT

Selebriti Lawan Deepfake AI dengan Hukum Trademark

Minggu, 24 Mei 2026 - 12:57 WIB