SINGAPURA, POSNEWS.CO.ID – Industri penerbangan global menghadapi tantangan logistik yang berat pada tahun 2026. Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) menegaskan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz tidak akan langsung menormalkan pasokan bahan bakar jet.
Dalam konteks ini, Direktur Jenderal IATA Willie Walsh menyatakan bahwa gangguan pada kapasitas kilang di Timur Tengah telah mencapai level yang signifikan. Langkah pemulihan sektor penerbangan memerlukan waktu lebih lama dibandingkan sekadar penurunan harga minyak mentah sesaat.
Pemulihan Pasokan Avtur: Tantangan Kilang dan Margin
Walsh menjelaskan bahwa meskipun Selat Hormuz dibuka secara aman, proses normalisasi pasokan memerlukan waktu beberapa bulan. Sebab, kerusakan atau disrupsi operasional pada kilang-kilang minyak di kawasan konflik telah menghambat produksi bahan bakar jet secara sistemik.
Lebih lanjut, biaya avtur kemungkinan besar akan tetap tinggi meskipun harga minyak mentah dunia sudah mulai merosot. Dalam hal ini, kenaikan margin kilang atau crack spread memberikan tekanan tambahan bagi maskapai. Bahan bakar saat ini menyumbang sekitar 27 persen dari total biaya operasional maskapai di seluruh dunia. Akibatnya, harga tiket pesawat diperkirakan masih akan sulit turun dalam waktu dekat di tahun 2026 ini.
Saham Maskapai Asia Melonjak Pasca-Berita Gencatan Senjata
Pasar keuangan merespons positif pengumuman gencatan senjata antara Presiden Donald Trump dan pihak Iran. Sebagai hasilnya, harga minyak dunia jatuh ke bawah $100 per barel setelah sempat melonjak tajam selama konflik berlangsung.
Secara simultan, saham berbagai maskapai besar di Asia mencatatkan kenaikan yang signifikan:
- Qantas Airways (Australia): Melonjak lebih dari 9 persen.
- IndiGo (India): Melambung hingga 10 persen.
- Cathay Pacific (Hong Kong): Naik sebesar 5 persen.
- Air New Zealand: Menguat lebih dari 4 persen.
Investor menyambut baik potensi pembukaan kembali akses navigasi yang aman melalui Selat Hormuz. Hal ini dianggap sebagai napas baru bagi operasional maskapai yang selama ini harus melakukan transit pengisian bahan bakar tambahan dan memotong jadwal penerbangan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Perbandingan dengan Krisis Sejarah: Bukan Seperti COVID
Walsh menolak anggapan bahwa krisis energi 2026 ini sebanding dengan pandemi COVID-19. Menurutnya, pandemi telah melumpuhkan kapasitas penerbangan hingga 95 persen akibat penutupan perbatasan secara total.
“Ini lebih sebanding dengan guncangan pasca-serangan 11 September atau krisis ekonomi 2008,” ujar Walsh. Dalam konteks ini, pemulihan pasca-9/11 memakan waktu empat bulan, sementara krisis 2008 membutuhkan hampir satu tahun. IATA memprediksi pusat-pusat penerbangan di wilayah Teluk akan pulih lebih cepat dibandingkan wilayah lain berkat keunggulan geografis dan infrastruktur hub mereka.
Peran Kilang Regional: India dan Nigeria sebagai Alternatif
Guna menutup celah pasokan, kilang-kilang di luar Timur Tengah kini berpacu untuk meningkatkan produksi. Secara khusus, Walsh menunjuk India dan Nigeria sebagai negara yang memiliki kapasitas untuk menutupi kekurangan produk olahan minyak di pasar internasional.
Selain itu, IATA mengharapkan Tiongkok dan Korea Selatan segera memulai kembali ekspor produk olahan begitu aliran minyak mentah kembali lancar. Insentif keuntungan yang tinggi dari crack spread saat ini diprediksi akan memacu kilang global untuk memprioritaskan produksi bahan bakar jet. Pada akhirnya, stabilitas ekonomi udara dunia bergantung pada seberapa cepat adaptasi industri kilang dalam merespon dinamika politik di tahun 2026 ini.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia



















