JD Vance Bela Viktor Orban dan Kecam Ancaman Zelenskyy

Jumat, 10 April 2026 - 14:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Taruhan kedaulatan di Islamabad. Wakil Presiden AS JD Vance memulai misi diplomatik kritis guna mengakhiri perang enam pekan, di tengah tuntutan keras Teheran dan lonjakan inflasi Amerika Serikat di tahun 2026. Dok: Istimewa.

Taruhan kedaulatan di Islamabad. Wakil Presiden AS JD Vance memulai misi diplomatik kritis guna mengakhiri perang enam pekan, di tengah tuntutan keras Teheran dan lonjakan inflasi Amerika Serikat di tahun 2026. Dok: Istimewa.

BUDAPEST, POSNEWS.CO.ID – Hubungan diplomatik antara Ukraina dan Hungaria mencapai titik terendah baru di tengah masa kampanye pemilu yang panas. Wakil Presiden AS JD Vance secara terbuka membela PM Viktor Orban dari apa yang ia sebut sebagai intimidasi pemerintah Ukraina.

Dalam konteks ini, kunjungan Vance bertujuan untuk memperkuat posisi Orban menjelang pemilu 12 April mendatang. Oleh karena itu, Washington berupaya menjaga pengaruh pendukung gerakan MAGA tetap kuat di daratan Eropa di tahun 2026 ini.

Vance: “Kepala Pemerintahan Tidak Boleh Mengancam Sekutu”

Berbicara di sebuah universitas di Hungaria, Vance mengungkapkan kemarahannya atas laporan mengenai ancaman Zelenskyy. Orban secara pribadi menyampaikan kepada Vance bahwa Ukraina mencoba memberikan tekanan militer melalui retorika yang agresif.

“Ini benar-benar memuakkan dan sebuah skandal,” tegas Vance kepada hadirin. Menurutnya, seorang kepala pemerintahan tidak pantas melontarkan ancaman terhadap pemimpin negara sekutu. Langkah Zelenskyy tersebut dipandang sebagai pelanggaran norma diplomasi internasional yang sangat serius.

Baca Juga :  OTT KPK di Jawa Timur: 16 Orang Diciduk, Bupati Tulungagung Ikut Terjaring

Sengketa Energi: Pipa Druzhba dan Pinjaman Uni Eropa

Inti dari perselisihan ini adalah pasokan minyak mentah Rusia yang sangat krusial bagi ekonomi Hungaria. Budapest menuduh Kyiv secara sengaja memutus aliran pipa Druzhba guna menyengsarakan rakyat Hungaria menjelang hari pemungutan suara.

Sebagai balasan, Hungaria mengambil langkah drastis dengan memblokir pinjaman Uni Eropa sebesar 90 miliar Euro ($105 miliar) untuk Ukraina. Akibatnya, Zelenskyy merespons dengan menyatakan bahwa militer Ukraina dapat melacak pihak-pihak yang bertanggung jawab atas blokade dana tersebut. Pernyataan Zelenskyy mengenai pemberian “alamat pihak bertanggung jawab” kepada tentara dipandang Budapest sebagai ancaman fisik yang nyata.

Tuduhan Standar Ganda Media Massa

Vance juga menyerang narasi media massa mengenai isu interferensi asing. Ia membandingkan hiruk-pikuk media pada pemilu AS 2016 dengan sikap diam mereka terhadap tindakan Ukraina saat ini. Dalam hal ini, Vance menilai media menutup mata terhadap upaya sistemik Kyiv dalam memengaruhi kedaulatan politik Hungaria.

Baca Juga :  Nadiem Makarim Ditetapkan Tersangka Kasus Pengadaan Laptop Chromebook oleh Kejagung RI

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Sangat ironis ketika Uni Eropa mengancam menahan miliaran dolar karena Hungaria menjaga perbatasannya,” ujar Vance. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa penutupan pipa energi adalah bentuk campur tangan asing yang nyata yang seharusnya masyarakat internasional kecam secara luas.

Menanti Hasil Pemilu 12 April

Masa depan aliansi di Eropa Timur kini bergantung pada hasil kotak suara di Hungaria dalam beberapa hari ke depan. Pada akhirnya, kemenangan Orban akan menjadi kemenangan simbolis bagi kebijakan luar negeri “America First” di tingkat global.

Dengan demikian, dunia kini memantau apakah Ukraina akan memulihkan arus energi atau justru memperkeras posisinya. Perselisihan ini membuktikan bahwa energi dan bantuan militer telah menjadi instrumen politik yang sangat volatil di tahun 2026. Ketidakpastian di Budapest menjadi barometer bagi stabilitas hubungan transatlantik di sisa dekade ini.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

James Comer Pastikan Sidang Kongres Jeffrey Epstein Segera Digelar
JD Vance Pimpin Perundingan Hidup-Mati dengan Iran di Pakistan
Kapsul Artemis II Mendarat Sempurna Setelah Jelajahi Sisi Jauh Bulan
PBB Ungkap Kegagalan Komitmen Negara Kaya dalam Menutup Kesenjangan Global
Gempur Narkoba Tanpa Henti, Polri Jaga Masa Depan Bangsa dari Ancaman Mematikan
Viral, Dua Wanita di Lebak Jadi Tersangka Usai Injak Al-Qur’an, DPR Desak Tindakan Tegas
Mengapa Energi Terbarukan Menjadi Primadona Pasar Saham 2026?
Ibu dan Anak Tewas Ditikam Puluhan Kali di Dalam Apartemen

Berita Terkait

Minggu, 12 April 2026 - 15:34 WIB

James Comer Pastikan Sidang Kongres Jeffrey Epstein Segera Digelar

Minggu, 12 April 2026 - 14:29 WIB

JD Vance Pimpin Perundingan Hidup-Mati dengan Iran di Pakistan

Minggu, 12 April 2026 - 13:24 WIB

Kapsul Artemis II Mendarat Sempurna Setelah Jelajahi Sisi Jauh Bulan

Minggu, 12 April 2026 - 12:15 WIB

PBB Ungkap Kegagalan Komitmen Negara Kaya dalam Menutup Kesenjangan Global

Minggu, 12 April 2026 - 10:56 WIB

Gempur Narkoba Tanpa Henti, Polri Jaga Masa Depan Bangsa dari Ancaman Mematikan

Berita Terbaru

Mengejar keadilan bagi penyintas. Ketua Komite Oversight DPR AS James Comer secara resmi menyetujui desakan Ibu Negara Melania Trump untuk mengadakan sidang terbuka bagi korban Jeffrey Epstein guna memberikan kesaksian di bawah sumpah. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

James Comer Pastikan Sidang Kongres Jeffrey Epstein Segera Digelar

Minggu, 12 Apr 2026 - 15:34 WIB

Taruhan kedaulatan di Islamabad. Wakil Presiden AS JD Vance memulai misi diplomatik kritis guna mengakhiri perang enam pekan, di tengah tuntutan keras Teheran dan lonjakan inflasi Amerika Serikat di tahun 2026. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

JD Vance Pimpin Perundingan Hidup-Mati dengan Iran di Pakistan

Minggu, 12 Apr 2026 - 14:29 WIB