JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Menteri Perdagangan, Budi Santoso optimistis industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional terus tumbuh positif meski diterpa dinamika perdagangan global.
Kunci utamanya, Indonesia memiliki ekosistem tekstil yang lengkap dari hulu hingga hilir.
Pernyataan itu disampaikan saat Mendag mengunjungi Indo Intertex 2026 di Jakarta International Expo, Kamis (16/4/2026).
Menurut Budi, industri tekstil Indonesia unggul karena rantai produksinya terintegrasi. Mulai dari bahan baku, pabrik, distribusi, desainer, hingga pelaku UMKM, semuanya tersedia dan berjalan efektif.
“Ekosistem kita sangat kuat dan lengkap. Ini modal besar untuk bersaing di pasar global,” tegasnya.
Ekspor TPT Tembus USD 11,98 Miliar
Kinerja ekspor tekstil Indonesia terus menunjukkan tren positif. Sepanjang 2025, nilai ekspor TPT mencapai USD 11,98 miliar dengan surplus sebesar USD 2,81 miliar.
Capaian ini menegaskan produk tekstil Indonesia mampu bersaing di pasar internasional. Oleh karena itu, peningkatan kualitas dan daya saing menjadi fokus utama untuk menekan laju impor.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kalau kualitas kita kuat, impor bisa dikendalikan dan produk lokal makin dominan,” jelas Budi.
Pemerintah juga mengandalkan perjanjian dagang untuk memperluas pasar ekspor. Salah satu yang paling strategis adalah pasar Amerika Serikat.
Total ekspor Indonesia ke AS mencapai sekitar USD 30 miliar, dengan surplus perdagangan sebesar USD 18,11 miliar—terbesar dibanding negara lain.
“Pasar AS harus terus dijaga dan dioptimalkan,” tegasnya.
Meski kondisi geopolitik global memicu tekanan, pelaku industri tekstil nasional dinilai tetap tangguh. Bahkan, mereka mampu bersaing dengan produk asing berkat ekosistem yang solid.
“Semua negara terdampak, tapi industri kita tetap kompetitif,” ujar Budi.
API: Inovasi dan Teknologi Jadi Kunci
Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menekankan pentingnya inovasi untuk menjaga daya saing.
Direktur Eksekutif API, Danang Girindrawardana, menyebut industri perlu fokus pada efisiensi bahan baku dan modernisasi teknologi.
Ia juga mengapresiasi langkah pemerintah dalam menekan impor ilegal yang dinilai membantu industri dalam negeri.
“Penegakan hukum terhadap impor ilegal sangat berdampak positif bagi pelaku industri,” ujarnya.
Indo Intertex 2026 Diserbu Pengunjung
Sementara itu, Ketua Umum API, Jemmy Kartiwa Sastraatmadja, mengungkapkan antusiasme tinggi terhadap Indo Intertex 2026.
Hingga siang hari, pengunjung menembus lebih dari 10 ribu orang, setelah sehari sebelumnya mencapai 14 ribu.
Tak hanya itu, delegasi dari enam negara ASEAN juga hadir, memperkuat posisi pameran ini sebagai ajang bisnis tekstil internasional.
Indo Intertex menjadi platform penting bagi pelaku industri tekstil dunia. Pameran ini mempertemukan produsen serat, benang, kain, garmen, hingga mesin dan aksesori tekstil dalam satu forum bisnis.
Dengan momentum ini, industri tekstil Indonesia diprediksi semakin agresif menembus pasar global dan memperkuat posisi sebagai pemain utama di kawasan. (red)
Editor : Hadwan



















