AS Investasi $50 Juta di Afrika guna Patahkan Dominasi Tiongkok

Selasa, 21 April 2026 - 11:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Misi memecah monopoli. Amerika Serikat mendanai proyek ambisius ekstraksi tanah jarang dari limbah tambang di Afrika Selatan, langkah strategis Washington guna mengamankan rantai pasok teknologi tinggi dan pertahanan dari pengaruh Tiongkok tahun 2026. Dok: AP Photo/Themba Hadebe.

Misi memecah monopoli. Amerika Serikat mendanai proyek ambisius ekstraksi tanah jarang dari limbah tambang di Afrika Selatan, langkah strategis Washington guna mengamankan rantai pasok teknologi tinggi dan pertahanan dari pengaruh Tiongkok tahun 2026. Dok: AP Photo/Themba Hadebe.

PHALABORWA, POSNEWS.CO.ID – Dua gundukan pasir raksasa di bekas pabrik kimia Afrika Selatan kini menjadi pusat perhatian geopolitik dunia. Amerika Serikat secara resmi mendukung proyek eksplorasi guna mengambil elemen tanah jarang dari limbah industri pertambangan tersebut.

Dalam konteks ini, Proyek Tanah Jarang Phalaborwa mendapatkan suntikan dana sebesar $50 juta (sekitar 790 miliar Rupiah). Investasi ini bertujuan murni guna mengurangi dominasi Tiongkok dalam rantai pasok mineral global pada tahun 2026.

Mengamankan Rantai Pasok Teknologi Tinggi

Amerika Serikat memandang penguasaan mineral sebagai masalah kedaulatan nasional. Oleh karena itu, Washington mempercepat upaya penyediaan bahan baku untuk perangkat elektronik, robotika, sistem pertahanan, dan kendaraan listrik (EV).

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tanah jarang merupakan subset dari puluhan mineral kritis yang mencakup tembaga, kobalt, litium, dan nikel. Presiden Donald Trump telah menetapkan perluasan akses terhadap mineral ini sebagai kebijakan sentral. Bahkan, administrasi Trump tahun ini berencana mengerahkan hampir $12 miliar guna menciptakan cadangan strategis mandiri.

Baca Juga :  Keynes vs. Hayek: Perdebatan Abadi tentang Peran Pemerintah dalam Ekonomi

Diplomasi yang Retak vs Kepentingan Ekonomi

Proyek ini tetap berjalan meski hubungan diplomatik AS dan Afrika Selatan sedang berada di titik nadir. Hal ini terjadi setelah Trump mengeluarkan perintah eksekutif untuk menghentikan seluruh bantuan keuangan ke Pretoria pada Februari lalu.

Meskipun demikian, DFC tetap mempromosikan keterlibatan mereka di Phalaborwa. Mereka memandang proyek ini mampu membuka potensi mineral Afrika sekaligus memajukan kepentingan strategis AS. Proyek ini dikembangkan oleh Rainbow Rare Earths melalui mitra TechMet, sebuah firma yang fokus mengamankan pasokan mineral bagi blok Barat.

Inovasi dari Limbah: Murah dan Ramah Lingkungan

Pilar utama proyek ini adalah pemanfaatan 35 juta ton fosfogips, sebuah produk sampingan limbah tambang pupuk. Secara khusus, perusahaan menargetkan pasokan elemen seperti neodymium, praseodymium, disprosium, dan terbium.

Lebih lanjut, Rainbow Rare Earths mengeklaim proses ekstraksi ini akan menggunakan hingga 90% energi terbarukan. “Kami akan menjadi produsen berbiaya rendah yang sebanding dengan produsen Tiongkok,” tegas CEO George Bennett. Sebagai hasilnya, AS berharap dapat mengejar ketertinggalan investasi pertambangan di benua Afrika yang selama ini didominasi oleh Beijing.

Baca Juga :  Donald Trump Klaim Israel dan Hezbollah Sepakat Kurangi Serangan

Masa Depan Energi dan Pertahanan

Pengerjaan pabrik pengolahan di Phalaborwa dijadwalkan mulai pada awal 2027. Selanjutnya, target ekstraksi penuh akan berlangsung pada tahun 2028 dengan perkiraan masa operasional selama 16 tahun. Dalam hal ini, mineral tersebut sangat krusial bagi magnet berkinerja tinggi dalam turbin angin dan sistem persenjataan canggih.

Pada akhirnya, keberhasilan proyek ini akan menentukan seberapa mandiri Amerika Serikat dalam menghadapi rivalitas ekonomi dengan Tiongkok. Dunia kini memantau apakah “harta karun” dari gundukan limbah Afrika ini mampu menstabilkan harga mineral dunia. Kedaulatan teknologi militer dan transisi energi hijau di tahun 2026 kini bergantung pada keberhasilan diplomasi mineral di tanah Afrika tersebut.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Zelenskyy Komunikasi dengan AS Saat Rusia Hantam Kharkiv
Pengendara Vario Tewas Terlindas Mobil di Ciampea Bogor Usai Gagal Salip Bus
Kerusuhan Belfast Pecah: Massa Anti-Imigran Bakar Kendaraan
AS Gempur Iran Pasca Penembakan Helikopter Apache
Pesta Gay Viral di Karawang Jadi Alarm Pengawasan Tempat Hiburan Malam
Kamar Indekos Jadi Markas Sabu, Pasutri di Bekasi Diciduk Polisi
Sony Sonjaya Bongkar 26 Nama dalam Kasus Korupsi MBG
BMKG Prediksi Langit Jabodetabek Diselimuti Awan Seharian

Berita Terkait

Rabu, 10 Juni 2026 - 11:13 WIB

Zelenskyy Komunikasi dengan AS Saat Rusia Hantam Kharkiv

Rabu, 10 Juni 2026 - 11:09 WIB

Pengendara Vario Tewas Terlindas Mobil di Ciampea Bogor Usai Gagal Salip Bus

Rabu, 10 Juni 2026 - 10:50 WIB

Kerusuhan Belfast Pecah: Massa Anti-Imigran Bakar Kendaraan

Rabu, 10 Juni 2026 - 09:48 WIB

AS Gempur Iran Pasca Penembakan Helikopter Apache

Rabu, 10 Juni 2026 - 08:48 WIB

Pesta Gay Viral di Karawang Jadi Alarm Pengawasan Tempat Hiburan Malam

Berita Terbaru

Upaya diplomasi di tengah perang udara. Presiden Volodymyr Zelenskyy berkomunikasi dengan utusan khusus AS Steve Witkoff dan Jared Kushner saat Rusia kembali menggempur Kharkiv. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Zelenskyy Komunikasi dengan AS Saat Rusia Hantam Kharkiv

Rabu, 10 Jun 2026 - 11:13 WIB

Ketegangan imigrasi di Irlandia Utara. Demonstran anti-imigran mengamuk dan membakar kendaraan di Belfast setelah polisi mendakwa seorang pria asal Sudan atas kasus penikaman brutal. Dok: REUTERS/Isabel Infantes

INTERNASIONAL

Kerusuhan Belfast Pecah: Massa Anti-Imigran Bakar Kendaraan

Rabu, 10 Jun 2026 - 10:50 WIB

Ilustrasi, Ketegangan baru di Selat Hormuz. Amerika Serikat meluncurkan serangan balasan ke Iran setelah penembakan jatuh helikopter Apache di tengah ancaman pecahnya aliansi AS-Israel. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

AS Gempur Iran Pasca Penembakan Helikopter Apache

Rabu, 10 Jun 2026 - 09:48 WIB