PHALABORWA, POSNEWS.CO.ID – Dua gundukan pasir raksasa di bekas pabrik kimia Afrika Selatan kini menjadi pusat perhatian geopolitik dunia. Amerika Serikat secara resmi mendukung proyek eksplorasi guna mengambil elemen tanah jarang dari limbah industri pertambangan tersebut.
Dalam konteks ini, Proyek Tanah Jarang Phalaborwa mendapatkan suntikan dana sebesar $50 juta (sekitar 790 miliar Rupiah). Investasi ini bertujuan murni guna mengurangi dominasi Tiongkok dalam rantai pasok mineral global pada tahun 2026.
Mengamankan Rantai Pasok Teknologi Tinggi
Amerika Serikat memandang penguasaan mineral sebagai masalah kedaulatan nasional. Oleh karena itu, Washington mempercepat upaya penyediaan bahan baku untuk perangkat elektronik, robotika, sistem pertahanan, dan kendaraan listrik (EV).
Tanah jarang merupakan subset dari puluhan mineral kritis yang mencakup tembaga, kobalt, litium, dan nikel. Presiden Donald Trump telah menetapkan perluasan akses terhadap mineral ini sebagai kebijakan sentral. Bahkan, administrasi Trump tahun ini berencana mengerahkan hampir $12 miliar guna menciptakan cadangan strategis mandiri.
Diplomasi yang Retak vs Kepentingan Ekonomi
Proyek ini tetap berjalan meski hubungan diplomatik AS dan Afrika Selatan sedang berada di titik nadir. Hal ini terjadi setelah Trump mengeluarkan perintah eksekutif untuk menghentikan seluruh bantuan keuangan ke Pretoria pada Februari lalu.
Meskipun demikian, DFC tetap mempromosikan keterlibatan mereka di Phalaborwa. Mereka memandang proyek ini mampu membuka potensi mineral Afrika sekaligus memajukan kepentingan strategis AS. Proyek ini dikembangkan oleh Rainbow Rare Earths melalui mitra TechMet, sebuah firma yang fokus mengamankan pasokan mineral bagi blok Barat.
Inovasi dari Limbah: Murah dan Ramah Lingkungan
Pilar utama proyek ini adalah pemanfaatan 35 juta ton fosfogips, sebuah produk sampingan limbah tambang pupuk. Secara khusus, perusahaan menargetkan pasokan elemen seperti neodymium, praseodymium, disprosium, dan terbium.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Lebih lanjut, Rainbow Rare Earths mengeklaim proses ekstraksi ini akan menggunakan hingga 90% energi terbarukan. “Kami akan menjadi produsen berbiaya rendah yang sebanding dengan produsen Tiongkok,” tegas CEO George Bennett. Sebagai hasilnya, AS berharap dapat mengejar ketertinggalan investasi pertambangan di benua Afrika yang selama ini didominasi oleh Beijing.
Masa Depan Energi dan Pertahanan
Pengerjaan pabrik pengolahan di Phalaborwa dijadwalkan mulai pada awal 2027. Selanjutnya, target ekstraksi penuh akan berlangsung pada tahun 2028 dengan perkiraan masa operasional selama 16 tahun. Dalam hal ini, mineral tersebut sangat krusial bagi magnet berkinerja tinggi dalam turbin angin dan sistem persenjataan canggih.
Pada akhirnya, keberhasilan proyek ini akan menentukan seberapa mandiri Amerika Serikat dalam menghadapi rivalitas ekonomi dengan Tiongkok. Dunia kini memantau apakah “harta karun” dari gundukan limbah Afrika ini mampu menstabilkan harga mineral dunia. Kedaulatan teknologi militer dan transisi energi hijau di tahun 2026 kini bergantung pada keberhasilan diplomasi mineral di tanah Afrika tersebut.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















