Iran Tolak Putaran Kedua Perundingan Damai dengan Amerika Serikat

Kamis, 23 April 2026 - 11:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana pertemuan tingkat tinggi dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un pada akhir tahun 2026. Dok: Istimewa.

Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana pertemuan tingkat tinggi dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un pada akhir tahun 2026. Dok: Istimewa.

TEHERAN, POSNEWS.CO.ID – Harapan bagi tercapainya kesepakatan damai permanen di Timur Tengah kembali menemui jalan buntu. Pemerintah Iran menegaskan bahwa mereka tidak akan menghadiri putaran kedua pembicaraan damai dengan Amerika Serikat di Pakistan.

Dalam konteks ini, keputusan tersebut muncul hanya beberapa jam setelah Washington menawarkan perpanjangan gencatan senjata. Oleh karena itu, ketegangan antara kedua negara kini memasuki fase yang kian tidak menentu di tengah anarki keamanan regional tahun 2026.

Alasan Penolakan: Blokade dan Tuntutan Berlebihan

Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan bahwa Teheran telah memberikan pemberitahuan resmi kepada mediator Pakistan. Secara khusus, Iran menunjuk kelanjutan blokade laut Amerika Serikat sebagai penghambat utama kemajuan diplomasi.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selain itu, tim negosiasi Iran menilai Washington mengajukan “tuntutan berlebihan” yang melanggar hak kedaulatan rakyat mereka. Langkah penolakan ini bertujuan murni guna melindungi integritas nasional dari tekanan militer sepihak. Pihak Iran menegaskan bahwa propaganda media Barat tidak akan mengubah keputusan delegasi mereka untuk tetap berada di Teheran pada hari Rabu besok.

Baca Juga :  Misi Damai Abu Dhabi: Trump Tekan Ukraina Selesaikan Perang dalam Satu Bulan

Siasat Gencatan Senjata Donald Trump

Di sisi lain, Presiden Donald Trump mengumumkan penundaan rencana serangan terhadap Iran melalui platform media sosialnya. Dalam hal ini, Trump bermaksud memberikan waktu tambahan bagi Teheran guna menyusun “proposal terpadu” sebelum negosiasi benar-benar terlaksana.

Namun demikian, narasi perdamaian tersebut mendapatkan tanggapan dingin dari pihak legislatif Iran. Mahdi Mohammadi, penasihat strategis Ketua Parlemen Iran, melabeli pengumuman Trump sebagai sebuah “tipu muslihat”. Ia memperingatkan bahwa Washington hanya ingin membeli waktu guna meluncurkan serangan kejutan di masa depan. Akibatnya, kewaspadaan militer Iran di sepanjang Selat Hormuz kini berada pada tingkat tertinggi.

Kegagalan Berantai di Islamabad

Putaran kedua ini awalnya diharapkan mampu memperbaiki kegagalan diskusi pada 11 dan 12 April lalu. Meskipun Pakistan telah berupaya keras menjadi penengah yang netral, perbedaan pandangan yang tajam mengenai program nuklir dan kedaulatan maritim tetap menjadi tembok yang sulit tertembus.

Baca Juga :  Menkum Teken SK PPP, Muhamad Mardiono Resmi Jadi Ketua Umum 2025–2030

Lebih lanjut, berlanjutnya tekanan militer Amerika Serikat di laut memaksa Iran untuk mengambil posisi defensif yang lebih keras. Otoritas Teheran menyatakan bahwa setiap respon militer di masa depan akan sangat bergantung pada seberapa agresif armada AS di perairan internasional dalam beberapa hari ke depan.

Menanti Akhir Truce Dua Pekan

Masa depan tatanan keamanan dunia kini bergantung pada apa yang terjadi setelah masa gencatan senjata berakhir pada Rabu malam. Pada akhirnya, ketiadaan dialog langsung meningkatkan risiko miskalkulasi militer di medan tempur.

Dengan demikian, masyarakat internasional memantau apakah ada celah diplomasi terakhir yang bisa Pakistan upayakan. Di tahun 2026 yang penuh gejolak ini, kegagalan di Islamabad membuktikan bahwa kekuatan fisik dan sanksi ekonomi sering kali justru menutup pintu bagi solusi politik yang berkelanjutan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hiu Viral Bukang-i Kembali Menerobos Masuk ke Kanal Kota Busan
Pembangunan Kota Vietnam Mengancam Keberadaan Hutan
Tiongkok Tampil Sebagai Pemasok Utama Teknologi Air Global
Ancaman Ruyung dan Tabrakan Mobil Memicu Kekhawatiran
Pelajar dan Guru Turun ke Jalanan Athena Menuntut Hunian Murah
Taiwan Keluarkan Peringatan Darat Menyusul Ancaman Topan
Intelijen AS Buka Suara Soal Kampanye Disinformasi Rusia
Marco Rubio Tegaskan Akses Starlink Ukraina Keputusan SpaceX

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 06:00 WIB

Hiu Viral Bukang-i Kembali Menerobos Masuk ke Kanal Kota Busan

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 14:36 WIB

Pembangunan Kota Vietnam Mengancam Keberadaan Hutan

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 13:28 WIB

Tiongkok Tampil Sebagai Pemasok Utama Teknologi Air Global

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 11:25 WIB

Ancaman Ruyung dan Tabrakan Mobil Memicu Kekhawatiran

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 08:21 WIB

Pelajar dan Guru Turun ke Jalanan Athena Menuntut Hunian Murah

Berita Terbaru