Zelenskyy Tolak Konsesi Wilayah Meski Trump Klaim Kemajuan

Kamis, 19 Februari 2026 - 14:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Upaya diplomasi di tengah perang udara. Presiden Volodymyr Zelenskyy berkomunikasi dengan utusan khusus AS Steve Witkoff dan Jared Kushner saat Rusia kembali menggempur Kharkiv. Dok: Istimewa.

Upaya diplomasi di tengah perang udara. Presiden Volodymyr Zelenskyy berkomunikasi dengan utusan khusus AS Steve Witkoff dan Jared Kushner saat Rusia kembali menggempur Kharkiv. Dok: Istimewa.

JENEWA, POSNEWS.CO.ID – Babak baru perundingan damai antara Ukraina dan Rusia di Jenewa berakhir dengan ketidakpastian yang mendalam. Meskipun delegasi menyepakati pertemuan lanjutan, perbedaan fundamental mengenai kedaulatan wilayah tetap menjadi ganjalan utama.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, menyampaikan kekecewaannya melalui pidato video pada Rabu malam. Menurutnya, hasil perundingan sejauh ini masih belum cukup untuk menjamin perdamaian yang adil. Meskipun demikian, pihak Washington memberikan narasi yang berbeda dengan mengeklaim adanya progres positif menuju kesepakatan akhir.

Tekanan Trump dan Keluhan Pembayar Pajak AS

Administrasi Donald Trump terus mendesak Kyiv untuk segera mengambil keputusan politik yang sulit. Trump bahkan memberikan peringatan keras agar Ukraina segera datang ke meja perundingan dengan sikap yang lebih fleksibel.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa Trump memandang perang yang telah berlangsung selama empat tahun ini sebagai situasi yang tidak adil bagi pembayar pajak Amerika Serikat. Oleh karena itu, Washington ingin segera menghentikan pendanaan upaya perang tersebut. “Rakyat Amerika telah membiayai upaya perang ini terlalu lama sebelum Presiden Trump memutuskan untuk menghentikannya,” ujar Leavitt.

Baca Juga :  Tragedi Udara Kolombia: 66 Prajurit Tewas dalam Kecelakaan Hercules C-130 di Perbatasan Peru

Hambatan Teritorial dan PLTN Zaporizhzhia

Perundingan yang berlangsung di bawah mediasi Steve Witkoff dan Jared Kushner ini sempat pecah saat Zelenskyy menuduh Rusia sengaja mengulur waktu. Akibatnya, delegasi sempat menghentikan pembicaraan sesaat setelah pernyataan tersebut terbit di platform X.

Titik buntu utama terletak pada tuntutan Moskow agar Ukraina menyerahkan sekitar 20 persen wilayah Donetsk yang belum berhasil Rusia kuasai secara militer. Zelenskyy secara tegas menolak tuntutan tersebut. Selain itu, kedua pihak berselisih mengenai operasional PLTN Zaporizhzhia. Kyiv menuntut agar pembangkit nuklir terbesar di Eropa tersebut dikelola bersama oleh Amerika Serikat dan Ukraina, namun Rusia menolak keras usulan tersebut.

“Sulit Namun Profesional”

Kepala negosiator Rusia, Vladimir Medinsky, mendeskripsikan suasana perundingan sebagai proses yang “sulit namun profesional”. Medinsky bahkan melanjutkan pembicaraan informal dengan tim Ukraina selama dua jam setelah sesi formal berakhir.

Baca Juga :  Mengungkap Akar Kebencian Pasca-Tragedi Penembakan Bondi Beach

Namun demikian, optimisme di meja perundingan tidak sejalan dengan realitas di lapangan. Rusia kini menguasai sekitar 20 persen wilayah nasional Ukraina, termasuk Krimea yang mereka aneksasi sejak 2014. Bahkan, serangan udara Rusia terhadap infrastruktur energi baru-baru ini telah melumpuhkan sistem pemanas ratusan ribu warga Ukraina di tengah musim dingin yang sangat ekstrem.

Menuju Peringatan Empat Tahun Invasi

Berakhirnya putaran Jenewa ini terjadi hanya beberapa hari sebelum peringatan empat tahun invasi skala penuh Rusia pada 24 Februari mendatang. Zelenskyy mengisyaratkan bahwa putaran negosiasi berikutnya kemungkinan besar akan berlangsung akhir bulan ini.

Meskipun begitu, Zelenskyy mengkhawatirkan fokus Washington yang berpotensi terpecah menjelang pemilihan Kongres AS pada November mendatang. Ukraina kini menuntut jaminan keamanan kuat yang didukung AS guna mencegah serangan Rusia di masa depan. Tanpa adanya jaminan hukum yang mengikat, Kyiv menilai kesepakatan damai apa pun hanya akan menjadi kemenangan sementara bagi Moskow.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Takaichi dan Anwar Ibrahim Sepakati Kemitraan Energi Baru
Tabung Oksigen Terpental Saat Pengisian di Cilincing, Hantam Rumah dan Warung Warga
Cuaca Jabodetabek Hari Ini Cerah Berawan, Suhu Udara Capai 34 Derajat Celsius
Tim Penyelamat Terus Cari Korban Tertimbun di General Santos
Isu Demo Besar Juni-Juli 2026, Kapolri Pastikan Polri Kawal Aksi Secara Humanis
Kapolri Siapkan Nobar Piala Dunia 2026 Gratis di Mabes, Polda hingga Polsek
Roberto Sánchez Unggul Tipis Atas Keiko Fujimori
Tak Mau Bayar Makan, 2 Pria Keroyok Pedagang Sate di Rawasari Diciduk Polisi

Berita Terkait

Kamis, 11 Juni 2026 - 06:12 WIB

Takaichi dan Anwar Ibrahim Sepakati Kemitraan Energi Baru

Kamis, 11 Juni 2026 - 06:07 WIB

Tabung Oksigen Terpental Saat Pengisian di Cilincing, Hantam Rumah dan Warung Warga

Kamis, 11 Juni 2026 - 05:35 WIB

Cuaca Jabodetabek Hari Ini Cerah Berawan, Suhu Udara Capai 34 Derajat Celsius

Rabu, 10 Juni 2026 - 18:43 WIB

Tim Penyelamat Terus Cari Korban Tertimbun di General Santos

Rabu, 10 Juni 2026 - 18:00 WIB

Isu Demo Besar Juni-Juli 2026, Kapolri Pastikan Polri Kawal Aksi Secara Humanis

Berita Terbaru

Mengamankan jalur energi regional. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dan PM Malaysia Anwar Ibrahim memperkuat kemitraan maritim serta jaminan pasokan LNG di tengah krisis Timur Tengah. (David Mareuil/Pool Photo via AP)

INTERNASIONAL

Takaichi dan Anwar Ibrahim Sepakati Kemitraan Energi Baru

Kamis, 11 Jun 2026 - 06:12 WIB

Duka di Mindanao. Tim penyelamat menyisir puing-puing bangunan komersial di General Santos pasca-gempa bumi dahsyat magnitudo 7,8 yang menewaskan puluhan warga. Dok: REUTERS/Noel Celis

INTERNASIONAL

Tim Penyelamat Terus Cari Korban Tertimbun di General Santos

Rabu, 10 Jun 2026 - 18:43 WIB