Kasus Air Keras Aktivis KontraS Andrie Yunus, Komnas HAM Soroti Unsur Penyiksaan

Senin, 27 April 2026 - 20:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Aktivis KontraS, Andrie Yunus. (Posnews/KontraS)

Aktivis KontraS, Andrie Yunus. (Posnews/KontraS)

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia menyimpulkan serangan penyiraman air keras terhadap aktivis Andrie Yunus mengandung unsur pelanggaran HAM serius.

Kesimpulan ini diambil setelah penyelidikan sejak insiden 12 Maret 2026.

Ketua Komnas HAM, Anis Hidayah, menegaskan serangan tersebut bukan sekadar tindak kriminal biasa, melainkan pelanggaran HAM yang melibatkan dugaan aparat negara.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Komnas HAM menemukan indikasi kuat penyiksaan dalam kasus ini. Tindakan pelaku dinilai memenuhi empat unsur utama, yakni penderitaan berat, dilakukan sengaja, memiliki tujuan tertentu, dan diduga melibatkan aparat.

Selain itu, serangan ini dinilai mencabut hak dasar korban, termasuk hak atas rasa aman.

Baca Juga :  Banjir Semarang 3 Korban Jiwa, 1 Hilang, BNPB Kerahkan Pesawat Pengendali Hujan

Temuan lain mengungkap korban telah mengalami teror sebelum kejadian. Mulai dari serangan digital, telepon misterius, hingga intimidasi fisik di sekitar kantor KontraS.

Akibatnya, korban hidup dalam tekanan dan rasa takut sebelum akhirnya diserang.

Kebebasan Berekspresi Terancam

Lebih jauh, Komnas HAM menilai serangan ini berkaitan dengan aktivitas advokasi korban. Karena itu, kasus ini dianggap sebagai bentuk pembungkaman terhadap kebebasan berpendapat.

Dampaknya, muncul potensi efek jera bagi masyarakat sipil untuk mengkritik pemerintah.

Komisioner Komnas HAM, Saurlin P. Siagian, mengungkap serangan diduga terorganisir. Analisis CCTV menunjukkan keterlibatan sedikitnya 14 orang yang saling terhubung.

Baca Juga :  Karaoke di Jakbar Diduga Jadi Sarang Prostitusi, Lima Tersangka Ditahan Polisi

Selain itu, pelaku diduga menggunakan identitas palsu, bahkan mencatut nama anak di bawah umur hingga lansia untuk registrasi nomor telepon.

Rekomendasi Tim Gabungan dan Proses Transparan

Berdasarkan temuan tersebut, Komnas HAM merekomendasikan pembentukan tim gabungan pencari fakta.

Lembaga ini juga mendorong proses hukum berjalan transparan, profesional, dan akuntabel.

Termasuk, membuka kemungkinan penggunaan pasal penyiksaan dalam penanganan perkara.

Di sisi lain, Komnas HAM mengingatkan adanya potensi korban tidak mendapatkan keadilan maksimal melalui mekanisme hukum yang ada.

Karena itu, pengawasan publik dinilai penting untuk memastikan kasus ini ditangani secara tuntas. (red)

Editor : Hadwan

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Suami Bunuh Istri di Kamar Kos Grogol, Polisi Sita Palu Berdarah
Modus Ganjal ATM Digagalkan di Pamulang, 3 Pelaku Ditangkap Warga
Pegawai KPK Jadi Tersangka, Diduga Bocorkan Kasus Bupati Pemalang
Survei IDM: Kepuasan Publik terhadap Prabowo Capai 81,5 Persen, Penegakan Hukum Jadi Faktor Terkuat
Hindari Amukan Massa, Polisi Evakuasi Sopir Kontainer Diduga Teler Tramadol
Polisi Bongkar Gudang Obat Keras di Tanah Abang, Tangkap 5 Orang
Sopir Kontainer Diduga Mabuk Tabrak 2 Mobil dan Motor di Plumpang
Budaya Evaluasi Jadi Kunci Reformasi DPD RI

Berita Terkait

Kamis, 30 Juli 2026 - 15:03 WIB

Suami Bunuh Istri di Kamar Kos Grogol, Polisi Sita Palu Berdarah

Kamis, 30 Juli 2026 - 14:44 WIB

Modus Ganjal ATM Digagalkan di Pamulang, 3 Pelaku Ditangkap Warga

Kamis, 30 Juli 2026 - 14:20 WIB

Pegawai KPK Jadi Tersangka, Diduga Bocorkan Kasus Bupati Pemalang

Kamis, 30 Juli 2026 - 10:56 WIB

Hindari Amukan Massa, Polisi Evakuasi Sopir Kontainer Diduga Teler Tramadol

Kamis, 30 Juli 2026 - 10:35 WIB

Polisi Bongkar Gudang Obat Keras di Tanah Abang, Tangkap 5 Orang

Berita Terbaru

Langkah taktis Teheran amankan wilayah udara. Iran membeli 400 peluncur rudal panggul buatan China bernilai 70 juta dolar AS guna memperkuat pertahanan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China

Kamis, 30 Jul 2026 - 14:09 WIB