BEIRUT, POSNEWS.CO.ID – Gencatan senjata antara Israel dan Hezbollah berada di ambang kolaps setelah militer Israel memperluas jangkauan operasionalnya hingga ke wilayah Timur Lebanon pada Senin. Serangan udara tersebut menghantam Lembah Bekaa, area yang sebelumnya relatif tenang sejak kesepakatan penghentian permusuhan diberlakukan awal bulan ini.
Meskipun intensitas serangan sempat menurun secara global, baku tembak di wilayah perbatasan tidak pernah benar-benar berhenti. Ekspansi serangan ke wilayah Timur menunjukkan bahwa Israel tidak lagi membatasi operasinya hanya pada zona konflik di Lebanon Selatan.
Ekspansi Militer ke Lembah Bekaa
Pesawat tempur Israel menargetkan infrastruktur yang mereka klaim milik Hezbollah di dekat kota Nabi Chit, dekat perbatasan timur Lebanon dengan Suriah. Serangan ini menjadi momen pertama Lembah Bekaa terkena hantaman sejak gencatan senjata 16 April. Pihak militer Israel menegaskan bahwa operasi tersebut bertujuan untuk menghancurkan sarana pendukung kelompok bersenjata tersebut.
Di saat yang sama, pasukan darat Israel masih menduduki jalur wilayah di selatan Lebanon. Militer Israel terus melakukan pembongkaran rumah-rumah warga yang mereka identifikasi sebagai markas operasional Hezbollah. Media pemerintah Lebanon melaporkan bahwa serangan di wilayah selatan pada hari Senin telah menyebabkan setidaknya tiga warga sipil terluka.
Perlawanan Hezbollah dan Klaim Serangan Tank
Hezbollah merespons aktivitas militer Israel dengan tetap melancarkan serangan drone dan roket ke wilayah utara Israel dan posisi pasukan pendudukan di Lebanon Selatan. Pada Senin, kelompok yang didukung Iran tersebut mengklaim telah berhasil menyerang sebuah tank Israel menggunakan drone bunuh diri.
Juru bicara militer Israel mengonfirmasi adanya ledakan drone di dekat pasukan mereka, namun menyatakan tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Saling balas serangan ini mempertegas kegagalan gencatan senjata dalam menciptakan stabilitas yang permanen bagi warga di kedua sisi perbatasan.
Retret Politik: Aoun vs Hezbollah Soal Negosiasi
Di Beirut, perang fisik di lapangan kini merembet menjadi perselisihan politik yang tajam. Presiden Lebanon, Joseph Aoun, membela keputusan pemerintah untuk mengutus duta besarnya guna bertemu langsung dengan pihak Israel di Amerika Serikat. Pertemuan tersebut bertujuan untuk membuka jalan bagi kesepakatan damai yang lebih permanen.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Langkah diplomatik ini mendapatkan penolakan keras dari pemimpin Hezbollah, Naim Qassem. Dalam pernyataan tertulisnya, Qassem menyebut negosiasi langsung tersebut sebagai sebuah “konsesi yang memalukan dan tidak perlu.” Ia menegaskan bahwa Hezbollah menganggap hasil dari perundingan tersebut tidak ada dan tidak mengikat bagi kelompoknya.
Tuduhan Pengkhianatan dan Konsensus Nasional
Menanggapi kritik Hezbollah, Presiden Joseph Aoun melontarkan serangan verbal yang cukup tajam tanpa menyebutkan nama kelompok tersebut secara langsung. Aoun menyatakan bahwa upaya pemerintah untuk bernegosiasi bukanlah sebuah pengkhianatan. Sebaliknya, ia menyindir pihak-pihak yang membawa negara ke dalam jurang peperangan demi kepentingan eksternal tanpa adanya konsensus nasional.
“Beberapa pihak meminta pertanggungjawaban kami karena memutuskan bernegosiasi dengan alasan kurangnya konsensus nasional. Saya bertanya: Saat Anda memutuskan untuk berperang, apakah Anda terlebih dahulu mendapatkan konsensus nasional?” tegas Aoun dalam pernyataan resmi dari kantornya.
Masa Depan Lebanon di Ujung Tanduk
Masa depan Lebanon kini bergantung pada kemampuan pemerintah untuk menyeimbangkan tekanan militer Israel dan resistensi politik Hezbollah. Sejak 2 Maret, kampanye udara dan darat Israel telah meninggalkan sebagian besar wilayah Lebanon Selatan dalam reruntuhan dan memaksa ribuan orang mengungsi.
Masyarakat internasional kini memantau apakah diplomasi yang dimediasi oleh Amerika Serikat mampu menghasilkan kesepakatan yang ditaati oleh semua pihak. Di tahun 2026 yang penuh gejolak ini, persimpangan antara kedaulatan nasional, resistensi bersenjata, dan kebutuhan akan perdamaian tetap menjadi medan tempur politik yang sengit bagi bangsa Lebanon.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















