WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Amerika Serikat tengah mempercepat rencana pembentukan koalisi internasional untuk membuka paksa Selat Hormuz. Pemerintah mengambil langkah ini karena harga minyak mentah melonjak tajam. Kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global yang berkepanjangan memicu kenaikan tersebut.
Dua bulan setelah serangan perdana AS-Israel ke Iran pada 28 Februari lalu, saluran laut tersebut tetap tersumbat. Penutupan ini mencekik aliran minyak dunia. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran akan resesi ekonomi global yang parah pada tahun 2026.
Harga Minyak Melambung dan Rencana Serangan Militer
Spekulasi mengenai eskalasi militer baru mendorong kenaikan signifikan pada harga komoditas energi. Minyak mentah patokan Brent sempat menyentuh angka USD 126 per barel pada Rabu malam. Angka ini merupakan level tertinggi sejak Maret 2022. Harga minyak melonjak dua kali lipat sejak awal konflik. Hal ini memicu inflasi tinggi dan lonjakan harga BBM yang menyakitkan secara politik.
Trump akan meninjau rencana serangan udara baru terhadap fasilitas Iran pada hari Kamis. Langkah ini bertujuan memaksa Teheran agar lebih fleksibel dalam negosiasi nuklir. Muncul juga opsi militer yang melibatkan pasukan darat. Mereka berencana mengambil alih sebagian wilayah Selat Hormuz untuk mengamankan pelayaran komersial.
“Krisis Energi Terbesar dalam Sejarah”
Kepala Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, menegaskan bahwa konflik Iran menyebabkan krisis energi paling parah. “Dunia sedang menghadapi tantangan ekonomi dan energi yang luar biasa besar,” ujar Birol dalam sebuah konferensi di Paris.
Pemimpin Tertinggi Iran baru, Mojtaba Khamenei, menyebut konflik ini sebagai babak baru bagi kawasan Teluk. Ia menyampaikan pernyataan tersebut pada Kamis. Teheran mengancam akan melakukan tindakan militer luar biasa. Ancaman ini berlaku jika AS melanjutkan blokade terhadap kapal-kapal yang terafiliasi dengan Iran.
Koalisi MFC: Langkah Menuju Pasca-Konflik
Sebagai langkah strategis, Departemen Luar Negeri AS mulai mengundang negara-negara mitra untuk bergabung dalam Maritime Freedom Construct (MFC). AS merancang koalisi ini untuk membantu navigasi kapal dengan aman. Kelompok ini akan menjadi fondasi arsitektur keamanan maritim Timur Tengah di masa depan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Meskipun Inggris dan Prancis menyatakan hanya bersedia membantu setelah konflik berakhir, dukungan mulai datang dari wilayah Baltik. Presiden Lithuania, Gitanas Nauseda, mendukung misi kebebasan navigasi AS tersebut. Ia segera mengajukan proposal ini ke dewan pertahanan nasional.
Biaya Perang dan Kebuntuan Diplomasi
Dampak ekonomi dari perang ini sangat masif. Pentagon memperkirakan biaya konflik telah menelan dana sebesar USD 25 miliar hingga saat ini. Di sisi lain, ekonomi Iran kini berada di ambang kolaps. Mata uang mereka jatuh ke rekor terendah dengan inflasi mencapai 65,8%.
Pakistan memimpin upaya mediasi untuk menghindari eskalasi lebih lanjut. Teheran menawarkan penundaan pembahasan program nuklir hingga konflik selesai. Namun, Trump menolak tawaran tersebut karena ia ingin isu nuklir tuntas di awal perundingan. Saat ini, Iran menyimpan sekitar 440 kg uranium dengan tingkat pengayaan 60%. Level tersebut mendekati kebutuhan untuk membuat senjata nuklir.
Menunggu Langkah Berikutnya
Masyarakat internasional kini menanti keputusan Trump di Ruang Oval. Apakah Trump akan memperbesar eskalasi militer melalui serangan baru? Ataukah koalisi internasional MFC mampu memberikan tekanan diplomatik yang cukup bagi Teheran? Stabilitas ekonomi dunia tahun 2026 sangat bergantung pada situasi di Selat Hormuz.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















