AS Bentuk Koalisi Internasional untuk Paksa Buka Selat Hormuz

Jumat, 1 Mei 2026 - 14:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Negosiasi yang masih alot. Presiden Donald Trump menegaskan draf damai sepihak Iran belum memuaskan Washington, meski Tehran mendesak pencabutan blokade laut di Selat Hormuz. Dok: Istimewa.

Negosiasi yang masih alot. Presiden Donald Trump menegaskan draf damai sepihak Iran belum memuaskan Washington, meski Tehran mendesak pencabutan blokade laut di Selat Hormuz. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Amerika Serikat tengah mempercepat rencana pembentukan koalisi internasional untuk membuka paksa Selat Hormuz. Pemerintah mengambil langkah ini karena harga minyak mentah melonjak tajam. Kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global yang berkepanjangan memicu kenaikan tersebut.

Dua bulan setelah serangan perdana AS-Israel ke Iran pada 28 Februari lalu, saluran laut tersebut tetap tersumbat. Penutupan ini mencekik aliran minyak dunia. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran akan resesi ekonomi global yang parah pada tahun 2026.

Harga Minyak Melambung dan Rencana Serangan Militer

Spekulasi mengenai eskalasi militer baru mendorong kenaikan signifikan pada harga komoditas energi. Minyak mentah patokan Brent sempat menyentuh angka USD 126 per barel pada Rabu malam. Angka ini merupakan level tertinggi sejak Maret 2022. Harga minyak melonjak dua kali lipat sejak awal konflik. Hal ini memicu inflasi tinggi dan lonjakan harga BBM yang menyakitkan secara politik.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Trump akan meninjau rencana serangan udara baru terhadap fasilitas Iran pada hari Kamis. Langkah ini bertujuan memaksa Teheran agar lebih fleksibel dalam negosiasi nuklir. Muncul juga opsi militer yang melibatkan pasukan darat. Mereka berencana mengambil alih sebagian wilayah Selat Hormuz untuk mengamankan pelayaran komersial.

Baca Juga :  Mengapa Ponsel Dilarang Sementara Laptop Diizinkan dalam Penerbangan?

“Krisis Energi Terbesar dalam Sejarah”

Kepala Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, menegaskan bahwa konflik Iran menyebabkan krisis energi paling parah. “Dunia sedang menghadapi tantangan ekonomi dan energi yang luar biasa besar,” ujar Birol dalam sebuah konferensi di Paris.

Pemimpin Tertinggi Iran baru, Mojtaba Khamenei, menyebut konflik ini sebagai babak baru bagi kawasan Teluk. Ia menyampaikan pernyataan tersebut pada Kamis. Teheran mengancam akan melakukan tindakan militer luar biasa. Ancaman ini berlaku jika AS melanjutkan blokade terhadap kapal-kapal yang terafiliasi dengan Iran.

Koalisi MFC: Langkah Menuju Pasca-Konflik

Sebagai langkah strategis, Departemen Luar Negeri AS mulai mengundang negara-negara mitra untuk bergabung dalam Maritime Freedom Construct (MFC). AS merancang koalisi ini untuk membantu navigasi kapal dengan aman. Kelompok ini akan menjadi fondasi arsitektur keamanan maritim Timur Tengah di masa depan.

Meskipun Inggris dan Prancis menyatakan hanya bersedia membantu setelah konflik berakhir, dukungan mulai datang dari wilayah Baltik. Presiden Lithuania, Gitanas Nauseda, mendukung misi kebebasan navigasi AS tersebut. Ia segera mengajukan proposal ini ke dewan pertahanan nasional.

Baca Juga :  Di Balik Kemenangan Zohran Mamdani: Siapa Rama Duwaji, Seniman Politik yang Ditemui di Hinge?

Biaya Perang dan Kebuntuan Diplomasi

Dampak ekonomi dari perang ini sangat masif. Pentagon memperkirakan biaya konflik telah menelan dana sebesar USD 25 miliar hingga saat ini. Di sisi lain, ekonomi Iran kini berada di ambang kolaps. Mata uang mereka jatuh ke rekor terendah dengan inflasi mencapai 65,8%.

Pakistan memimpin upaya mediasi untuk menghindari eskalasi lebih lanjut. Teheran menawarkan penundaan pembahasan program nuklir hingga konflik selesai. Namun, Trump menolak tawaran tersebut karena ia ingin isu nuklir tuntas di awal perundingan. Saat ini, Iran menyimpan sekitar 440 kg uranium dengan tingkat pengayaan 60%. Level tersebut mendekati kebutuhan untuk membuat senjata nuklir.

Masyarakat internasional kini menanti keputusan Trump di Ruang Oval. Apakah Trump akan memperbesar eskalasi militer melalui serangan baru? Ataukah koalisi internasional MFC mampu memberikan tekanan diplomatik yang cukup bagi Teheran? Stabilitas ekonomi dunia tahun 2026 sangat bergantung pada situasi di Selat Hormuz.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tragedi Pesawat Terjun Payung di Missouri: 12 Tewas Setelah Pesawat Jatuh dan Terbakar
Samurai Blue Tahan Imbang Belanda di Piala Dunia
Israel Gempur Lebanon Selatan di Tengah Isyarat Damai
Donald Trump dan Emmanuel Macron Pererat Aliansi
Wabah Ebola Kongo Kian Mengkhawatirkan
Israel Bersiap Hadapi Pemilihan Umum Sela
Presiden Mongolia Ukhnaa Khurelsukh Sambut Menlu Tiongkok
Raksasa Teknologi Dunia Serap Mineral Milisi M23

Berita Terkait

Senin, 15 Juni 2026 - 17:59 WIB

Tragedi Pesawat Terjun Payung di Missouri: 12 Tewas Setelah Pesawat Jatuh dan Terbakar

Senin, 15 Juni 2026 - 08:35 WIB

Samurai Blue Tahan Imbang Belanda di Piala Dunia

Minggu, 14 Juni 2026 - 17:21 WIB

Israel Gempur Lebanon Selatan di Tengah Isyarat Damai

Minggu, 14 Juni 2026 - 16:14 WIB

Donald Trump dan Emmanuel Macron Pererat Aliansi

Minggu, 14 Juni 2026 - 14:03 WIB

Wabah Ebola Kongo Kian Mengkhawatirkan

Berita Terbaru