Mengapa Kita Bermimpi? Menelisik Sains di Balik Aktivitas Bawah Sadar

Minggu, 17 Mei 2026 - 09:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Teater di dalam kepala. Para ilmuwan kini mulai memahami bahwa mimpi bukan sekadar bunga tidur, melainkan proses biologis vital bagi kesehatan emosional dan penguatan memori manusia. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Teater di dalam kepala. Para ilmuwan kini mulai memahami bahwa mimpi bukan sekadar bunga tidur, melainkan proses biologis vital bagi kesehatan emosional dan penguatan memori manusia. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Setiap malam, saat tubuh kita beristirahat secara fisik, otak justru menyalakan sebuah pertunjukan sinematik yang sangat hidup. Fenomena mimpi telah memikat rasa ingin tahu manusia selama ribuan tahun. Namun, baru dalam beberapa dekade terakhir, sains mulai mengungkap mekanisme biologis yang menggerakkan teater bawah sadar ini.

Para peneliti kini tidak lagi memandang mimpi sebagai pengalaman acak yang tidak bermakna. Sebaliknya, mimpi merupakan bagian dari fungsi pemrosesan informasi yang krusial bagi kelangsungan hidup manusia di dunia nyata.

Biologi Tidur REM: Saat Otak “Bangun” dalam Tidur

Sebagian besar mimpi yang hidup dan emosional terjadi selama fase Rapid Eye Movement (REM). Fase ini biasanya muncul sekitar 90 menit setelah kita terlelap. Secara biologis, aktivitas listrik otak selama REM sangat mirip dengan saat kita terjaga sepenuhnya.

Selain itu, terdapat fitur unik bernama atonia otot. Otak secara cerdas melumpuhkan otot-otot besar tubuh agar kita tidak melakukan gerakan yang ada di dalam mimpi. Maka dari itu, kita terhindar dari cedera fisik saat bermimpi sedang berlari atau bertarung. Hanya otot mata dan pernapasan yang tetap aktif, yang kemudian memberikan nama bagi fase tidur ini.

Baca Juga :  Menjinakkan Inflasi: Mengapa Harga Barang Sulit Turun di Tahun 2026?

Fungsi Memori dan Terapi Emosional

Salah satu teori paling kuat dalam psikologi modern menyebut mimpi sebagai bentuk “terapi malam”. Selama bermimpi, otak memproses pengalaman emosional yang intens tanpa kehadiran hormon stres (noradrenalin). Akibatnya, kita bisa mengenang peristiwa menyedihkan di masa lalu tanpa merasakan sakit yang sama seperti saat kejadian berlangsung.

Di samping itu, mimpi berperan vital dalam konsolidasi memori. Otak memilah informasi yang kita terima sepanjang hari. Ia membuang sampah mental yang tidak berguna dan memperkuat koneksi saraf untuk pengetahuan baru. Oleh sebab itu, kualitas mimpi yang baik berkorelasi langsung dengan kemampuan belajar dan ketajaman kognitif seseorang di tahun 2026 yang penuh tekanan ini.

Misteri Lucid Dream: Mengambil Kendali Teater

Fenomena lucid dream atau mimpi sadar menawarkan dimensi baru dalam riset tidur. Dalam kondisi ini, seseorang menyadari bahwa ia sedang bermimpi dan terkadang mampu mengendalikan alur ceritanya. Secara ilmiah, hal ini terjadi karena adanya lonjakan aktivitas pada korteks prefrontal, bagian otak yang bertanggung jawab atas logika dan penilaian diri.

Baca Juga :  Rusia Peringatkan Tindakan Balasan Atas Rencana Finlandia Izinkan Senjata Nuklir

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Penelitian terbaru menggunakan teknologi fMRI menunjukkan bahwa pelaku lucid dream berada di wilayah antara tidur dan bangun. Selanjutnya, teknik induksi seperti “pemeriksaan realitas” terbukti mampu melatih orang biasa untuk mencapai kondisi sadar ini. Banyak atlet dan seniman kini menggunakan lucid dream untuk melatih keterampilan motorik atau mencari inspirasi kreatif di ruang simulasi bawah sadar mereka.

Pesan dari Alam Bawah Sadar

Mimpi adalah bukti bahwa otak manusia tidak pernah benar-benar berhenti bekerja. Singkatnya, aktivitas bawah sadar ini berfungsi sebagai bengkel reparasi bagi jiwa dan perpustakaan bagi ingatan kita.

Dengan demikian, menghargai waktu tidur berarti memberikan kesempatan bagi otak untuk menyelesaikan tugas-tugas administratifnya yang rumit. Masyarakat internasional kini semakin menyadari bahwa kualitas mimpi adalah indikator utama kesehatan mental yang stabil di tengah dinamika peradaban modern.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mengapa Teknologi mRNA Menjadi Revolusi Dunia Medis?
Bagaimana Teknologi 2026 Mendeteksi Kehidupan di Luar Tata Surya?
Autofagi: Mekanisme Tubuh Membersihkan Sel Rusak
Kemenag Gelar Sidang Isbat Hari Ini, Idul Adha 2026 Diprediksi Jatuh 27 Mei
Apakah Energi Bersih Akhirnya Menjadi Kenyataan?
PSK di Bandar Lampung Ditusuk Tamu Usai Tagih Uang Kencan, Pelaku Kabur Naik Motor
Hadiri Panen Raya Jagung di Tuban, Prabowo Sanjung Prestasi Kapolri Listyo Sigit
Mengapa Palung Mariana Menyimpan Kunci Kehidupan Bumi?

Berita Terkait

Minggu, 17 Mei 2026 - 12:18 WIB

Mengapa Teknologi mRNA Menjadi Revolusi Dunia Medis?

Minggu, 17 Mei 2026 - 11:33 WIB

Bagaimana Teknologi 2026 Mendeteksi Kehidupan di Luar Tata Surya?

Minggu, 17 Mei 2026 - 10:27 WIB

Autofagi: Mekanisme Tubuh Membersihkan Sel Rusak

Minggu, 17 Mei 2026 - 09:46 WIB

Mengapa Kita Bermimpi? Menelisik Sains di Balik Aktivitas Bawah Sadar

Minggu, 17 Mei 2026 - 07:35 WIB

Apakah Energi Bersih Akhirnya Menjadi Kenyataan?

Berita Terbaru

Ilustrasi, Lompatan besar abad ke-21. Teknologi mRNA telah bertransformasi dari solusi pandemi menjadi platform pengobatan canggih yang mampu memprogram ulang sistem imun manusia untuk melawan kanker dan memperbaiki kerusakan genetik dari dalam. Dok: Istimewa.

KESEHATAN

Mengapa Teknologi mRNA Menjadi Revolusi Dunia Medis?

Minggu, 17 Mei 2026 - 12:18 WIB

Sistem daur ulang internal. Ilmu pengetahuan modern mengungkap bahwa tubuh manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk

KESEHATAN

Autofagi: Mekanisme Tubuh Membersihkan Sel Rusak

Minggu, 17 Mei 2026 - 10:27 WIB

Ilustrasi, Lompatan besar peradaban. Komputasi kuantum bukan sekadar komputer yang lebih cepat, melainkan paradigma baru dalam pengolahan informasi yang mampu memecahkan misteri alam semesta dan merombak total sistem keamanan digital dunia. Dok: Istimewa.

Blog

Mengapa Komputasi Ini Bisa Mengubah Segalanya?

Minggu, 17 Mei 2026 - 08:37 WIB