Israel Cegat Armada Bantuan Global Sumud Menuju Gaza

Rabu, 20 Mei 2026 - 14:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Konfrontasi di perairan Mediterania. Militer Israel menghentikan paksa armada bantuan internasional yang mencoba menembus blokade Gaza, memicu kecaman global serta sanksi baru dari Amerika Serikat terhadap para penyelenggara misi. Dok: REUTERS/Amir Cohen

Konfrontasi di perairan Mediterania. Militer Israel menghentikan paksa armada bantuan internasional yang mencoba menembus blokade Gaza, memicu kecaman global serta sanksi baru dari Amerika Serikat terhadap para penyelenggara misi. Dok: REUTERS/Amir Cohen

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Militer Israel menghentikan paksa armada bantuan kemanusiaan “Global Sumud Flotilla” di Laut Mediterania Timur pada hari Selasa. Operasi ini menghentikan misi bantuan yang berencana menembus blokade laut Gaza.

Kelompok Global Sumud mengeklaim militer melepaskan tembakan ke arah kapal mereka. Namun, Kementerian Luar Negeri Israel membantah tegas penggunaan peluru tajam. Mereka mengeklaim hanya menggunakan metode non-letal sebagai peringatan. Oleh karena itu, tidak ada korban luka di antara para aktivis selama insiden tersebut.

Detensi Massal dan Nasib Para Aktivis

Otoritas Israel menahan 428 aktivis dari 40 negara. Selain itu, mereka memindahkan seluruh aktivis ke kapal milik militer Israel menuju pelabuhan Israel. Pemerintah berjanji mengizinkan para aktivis untuk bertemu dengan perwakilan konsuler negara asal masing-masing.

Penyelenggara flotilla mengeklaim mereka mengoperasikan 50 kapal dalam misi kali ini. Namun, Israel memberikan angka yang berbeda, yakni 430 orang di atas kapal. Hingga kini, pihak otoritas belum memberikan penjelasan resmi terkait perbedaan jumlah data tersebut.

Kecaman Turki dan Sanksi Amerika Serikat

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, mengecam keras intervensi militer Israel. Ia menyebut para aktivis tersebut sebagai “pelayar harapan.” Oleh sebab itu, ia mendesak komunitas internasional untuk segera bertindak melawan tindakan militer tersebut.

Di sisi lain, Departemen Keuangan Amerika Serikat merilis sanksi baru pada hari Selasa. Washington menjatuhkan hukuman kepada empat orang yang terlibat dalam pengorganisasian flotilla tersebut. Sebab, pemerintah AS mengeklaim kelompok tersebut memberikan dukungan bagi militan Hamas. Namun, para aktivis pro-Palestina menolak keras tuduhan tersebut. Mereka menegaskan bahwa dukungan terhadap hak asasi warga Palestina bukanlah bentuk dukungan terhadap kelompok militan.

Krisis Kemanusiaan yang Masih Berlanjut

Insiden ini terjadi di tengah krisis parah di Jalur Gaza. PBB terus memperingatkan bahwa pasokan bantuan yang masuk ke Gaza masih sangat tidak memadai. Meskipun gencatan senjata pada bulan Oktober lalu menjanjikan kelancaran bantuan, implementasi di lapangan masih sangat terbatas.

Baca Juga :  Upaya Selamatkan Saksi Bisu Perbudakan Seksual Jepang di Filipina

Sebagian besar dari dua juta penduduk Gaza kehilangan tempat tinggal. Banyak warga kini hidup dalam tenda darurat di pinggir jalan atau di atas reruntuhan bangunan. Israel tetap mengontrol seluruh akses menuju Jalur Gaza dan menolak tuduhan bahwa mereka sengaja menahan pasokan bagi warga sipil.

Menanti Keadilan di Tengah Konflik

Operasi penahanan massal ini mencerminkan betapa rumitnya akses kemanusiaan di zona konflik pada tahun 2026. Singkatnya, setiap upaya pengiriman bantuan mandiri selalu berisiko tinggi menghadapi tindakan militer.

Masyarakat internasional kini terus memantau apakah diplomasi dapat membuka koridor bantuan yang aman. Dengan demikian, tragedi ini menjadi pengingat bahwa di tengah peperangan, bantuan kemanusiaan sering kali menjadi sandera dari ego geopolitik yang jauh dari jangkauan warga sipil yang menderita.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Presiden Xi Jinping Dorong Blok BRICS Jadi Juru Damai Konflik
Hakim Federal Batalkan Rencana Pemangkasan Staf FEMA 50%
Peluncuran Konsol Retro NEOGEO AES+ Ditunda
Iran Ancam Balas Setiap Serangan Baru AS terhadap Asetnya
Ekstremisme Nihilistik Online Ancam Keamanan Eropa
Shinjuku Larang Separuh Sewa Liburan, Termasuk Properti
Tim Nepal Kian Bersemangat Cari Korban Banjir
PM Yunani Janjikan Pemangkasan Pajak dan Kenaikan Gaji

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 20:57 WIB

Presiden Xi Jinping Dorong Blok BRICS Jadi Juru Damai Konflik

Minggu, 13 September 2026 - 19:56 WIB

Hakim Federal Batalkan Rencana Pemangkasan Staf FEMA 50%

Minggu, 13 September 2026 - 13:30 WIB

Peluncuran Konsol Retro NEOGEO AES+ Ditunda

Rabu, 9 September 2026 - 08:03 WIB

Iran Ancam Balas Setiap Serangan Baru AS terhadap Asetnya

Rabu, 9 September 2026 - 07:00 WIB

Ekstremisme Nihilistik Online Ancam Keamanan Eropa

Berita Terbaru

Presiden Xi Jinping menyerukan blok BRICS menjadi juru damai konflik Timur Tengah pada KTT New Delhi serta mempererat hubungan diplomatik dengan India. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Presiden Xi Jinping Dorong Blok BRICS Jadi Juru Damai Konflik

Minggu, 13 Sep 2026 - 20:57 WIB

2.713 penari dari 12 negara membawakan Tari Semarak Jali-Jali Betawi di Ancol. (Posnews/Ancol)

JABODETABEK

Budaya Betawi Mendunia, 2.713 Penari Pecahkan Rekor MURI di Ancol

Minggu, 13 Sep 2026 - 20:41 WIB

Hakim federal AS membatalkan rencana pemangkasan 50% staf FEMA era pemerintahan Trump. Keputusan ini dinilai menegakkan undang-undang perlindungan FEMA. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Hakim Federal Batalkan Rencana Pemangkasan Staf FEMA 50%

Minggu, 13 Sep 2026 - 19:56 WIB