JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Serangan udara Israel kembali memakan korban jiwa dari kalangan tenaga kemanusiaan di Lebanon Selatan. Serangan tersebut menghantam desa Hanouiyeh dan Deir Qanoun al-Nahr pada hari Jumat, menewaskan sedikitnya 10 orang.
Selanjutnya, serangan pertama menghantam desa Hanouiyeh. Kejadian ini menewaskan empat paramedis dari Asosiasi Kesehatan Islam milik Hezbollah. Tidak lama kemudian, serangan kedua menghantam desa Deir Qanoun al-Nahr di provinsi pesisir Tyre. Serangan ini merenggut nyawa enam orang lainnya, termasuk seorang anak kecil dan dua paramedis dari Asosiasi Pramuka Al-Rissala.
Pelanggaran Gencatan Senjata dan Hukum Internasional
Kementerian Kesehatan Lebanon mengecam keras aksi tersebut. Mereka menilai serangan Israel melanggar hukum internasional secara nyata. Oleh karena itu, otoritas kesehatan menuntut perlindungan bagi tim medis dan pertahanan sipil yang beroperasi di zona konflik.
Sebagai tambahan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan 169 serangan terhadap petugas kesehatan di Lebanon sejak perang dimulai. Insiden ini mengakibatkan 116 orang meninggal dunia. Israel sendiri belum memberikan komentar resmi. Namun, di masa lalu mereka kerap menuduh Hezbollah menggunakan ambulans untuk menyamarkan aktivitas militer, meski tanpa memberikan bukti pendukung.
Sanksi AS terhadap Pejabat Keamanan Lebanon
Di tengah pertempuran yang berkecamuk, Amerika Serikat mengambil langkah diplomatik yang sangat agresif. Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah anggota parlemen Lebanon dan pejabat keamanan negara. Washington menuduh mereka berupaya melestarikan pengaruh Hezbollah atas lembaga-lembaga negara Lebanon.
Langkah ini menjadi yang pertama bagi Washington dalam memberikan sanksi kepada pejabat tinggi keamanan negara yang masih menjabat. Target sanksi mencakup petinggi Direktorat Keamanan Umum Lebanon dan intelijen militer. Oleh sebab itu, pemerintah Lebanon bereaksi keras. Angkatan Darat dan Direktorat Keamanan Umum segera mengeluarkan pernyataan tegas bahwa seluruh perwira mereka tetap setia kepada institusi negara, bukan kepada kelompok militan mana pun.
Gencatan Senjata yang Rapuh
Serangan hari Jumat ini membuktikan bahwa gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat belum memberikan perlindungan nyata di lapangan. Meskipun pertempuran tidak semasif awal perang, aksi saling serang antara Israel dan Hezbollah terus terjadi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hezbollah mengeklaim telah meluncurkan enam gelombang serangan drone dan roket ke posisi militer Israel sebagai balasan atas serangan di Lebanon. Akibatnya, dua tentara Israel mengalami luka-luka setelah drone meledak di dekat perbatasan. Sejak konflik memuncak pada 2 Maret, total korban jiwa di Lebanon telah melampaui angka 2.600 jiwa.
Menanti Langkah Diplomasi
Tragedi di Lebanon Selatan tahun 2026 ini kian memperumit negosiasi perdamaian jangka panjang. Singkatnya, penargetan terhadap tenaga medis memicu kemarahan publik yang dapat mengganggu proses dialog antara Beirut dan Yerusalem.
Dengan demikian, masyarakat internasional kini menanti peran nyata dari PBB guna memastikan keselamatan warga sipil. Tanpa adanya jaminan perlindungan terhadap tenaga kesehatan dan infrastruktur vital, gencatan senjata ini akan terus berada di ambang kehancuran total.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












