Koalisi Penentang Trump Gugat Dana Kompensasi Anti-Weaponization

Sabtu, 23 Mei 2026 - 12:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

AS kembali menyerang Iran, menewaskan empat orang dalam serangan yang mengenai pesta pernikahan, sementara Trump ancam balasan lebih besar dan harga minyak dunia melonjak. Dok: Istimewa.

AS kembali menyerang Iran, menewaskan empat orang dalam serangan yang mengenai pesta pernikahan, sementara Trump ancam balasan lebih besar dan harga minyak dunia melonjak. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Koalisi penentang Presiden Donald Trump mengambil langkah hukum tegas pada hari Jumat. Mereka mengajukan gugatan guna menghentikan distribusi dana kompensasi senilai $1,776 miliar. Dana ini menyasar warga Amerika yang mengeklaim diri sebagai korban “politisasi” atau penyalahgunaan kekuasaan hukum oleh pemerintah.

Kelompok advokasi hukum Democracy Forward memimpin gugatan ini di pengadilan federal Alexandria, Virginia. Mereka menuntut hakim mengeluarkan perintah pengadilan untuk menghentikan implementasi dana tersebut. Oleh karena itu, penggugat mengeklaim pemerintah tidak memiliki dasar hukum maupun transparansi dalam pengelolaan anggaran tersebut.

Penggugat dari Berbagai Latar Belakang

Koalisi penggugat mencakup tokoh-tokoh yang mengeklaim pernah menjadi korban sistem hukum. Salah satunya adalah Andrew Floyd, mantan jaksa federal yang menangani kasus kerusuhan Capitol. Floyd kehilangan pekerjaannya tahun lalu setelah Jaksa Agung Pam Bondi memecatnya. Ia meyakini pemecatan tersebut merupakan aksi balasan atas tugasnya menangani kasus 6 Januari 2021.

Selanjutnya, Jonathan Caravello turut bergabung dalam gugatan ini. Ia merupakan profesor di California State University yang sempat mendapat tuduhan penyerangan terhadap agen federal pada tahun 2025. Selain itu, kelompok Common Cause, pemerintah kota New Haven, serta National Abortion Federation juga resmi menjadi penggugat. Mereka khawatir dana ini memberikan insentif bagi para pelaku kekerasan yang menyerang klinik aborsi.

Perdebatan Legitimasi dan “Dana Siluman”

Pemerintahan Trump menciptakan dana ini untuk menyelesaikan gugatan presiden terhadap IRS terkait kebocoran laporan pajak. Namun, para kritikus melabeli langkah ini sebagai “dana siluman” (slush fund) yang melegalkan kekerasan terhadap aparat.

Sebagai tanggapan, Penjabat Jaksa Agung Todd Blanche tidak menutup kemungkinan bahwa para pelaku kerusuhan Capitol 6 Januari 2021 berhak menerima kompensasi. Oleh sebab itu, dua petugas kepolisian yang membela Gedung Capitol saat kerusuhan tersebut telah mengajukan gugatan terpisah. Mereka berupaya mencegah pemberian uang pajak negara kepada para perusuh yang pernah menyerang mereka.

Baca Juga :  Wajah Baru Jakarta, Relokasi Pedagang Barito ke Sentra Fauna Lenteng Agung

Dampak Strategis bagi Partai Demokrat

Persidangan ini memberikan amunisi bagi Partai Demokrat dalam menghadapi pemilu sela mendatang. Mereka berencana memblokir pendanaan tersebut melalui amendemen anggaran di Senat. Oleh karena itu, Demokrat akan menekan anggota parlemen Republik untuk menyatakan sikap secara terbuka terkait penggunaan uang pajak untuk para pendukung Trump.

Senator Chris Coons menyatakan bahwa ia akan terus berupaya menghentikan alokasi dana ini. Ia menyadari bahwa perdebatan ini mungkin memerlukan proses resolusi yang terpisah dari rancangan anggaran reguler.

Menanti Putusan Hakim Federal

Gugatan ini menjadi simbol perlawanan terhadap kebijakan Trump yang kontroversial. Para penggugat menuntut hakim membongkar total struktur pendanaan tersebut karena dianggap melanggar konstitusi secara fundamental.

Singkatnya, langkah pemerintah dalam membagi-bagikan dana kompensasi ini akan terus menuai kontroversi di ruang sidang. Masyarakat internasional kini memantau sejauh mana sistem hukum Amerika Serikat mampu meredam kebijakan yang dianggap berlebihan oleh lawan politik presiden tersebut di tahun 2026 ini.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tim Nepal Kian Bersemangat Cari Korban Banjir
PM Yunani Janjikan Pemangkasan Pajak dan Kenaikan Gaji
Sony Perkenalkan DualSense GTA 6 Limited Edition
AS Serang Tiga Kapal Tanker Minyak Iran usai Rudal IRGC
Putin Temui Utusan AS Witkoff dan Kushner di Kremlin
USS Abraham Lincoln Tinggalkan Thailand Usai Kunjungan
Takaichi Bantah Revisi UU Rumah Kekaisaran Halangi Suksesi
Petugas Imigrasi AS Didakwa Berbohong soal Penembakan Warga

Berita Terkait

Minggu, 6 September 2026 - 18:27 WIB

Tim Nepal Kian Bersemangat Cari Korban Banjir

Minggu, 6 September 2026 - 17:25 WIB

PM Yunani Janjikan Pemangkasan Pajak dan Kenaikan Gaji

Minggu, 6 September 2026 - 15:00 WIB

Sony Perkenalkan DualSense GTA 6 Limited Edition

Minggu, 6 September 2026 - 14:45 WIB

AS Serang Tiga Kapal Tanker Minyak Iran usai Rudal IRGC

Minggu, 6 September 2026 - 14:14 WIB

Putin Temui Utusan AS Witkoff dan Kushner di Kremlin

Berita Terbaru

OPPO Find X10 Series dikabarkan membawa sensor khusus Danxia Color untuk menjaga konsistensi warna kulit pada foto portrait. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

OPPO Find X10 Series Dikabarkan Bawa Sensor Danxia Color

Selasa, 8 Sep 2026 - 14:31 WIB

Ilustrasi, Nexon dikabarkan hampir mendapatkan lisensi pengembangan game baru StarCraft dari Blizzard, membuka peluang kebangkitan franchise legendaris ini. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Nexon Dikabarkan Dekati Kesepakatan Lisensi Game Baru

Selasa, 8 Sep 2026 - 13:22 WIB

Final Fantasy VII Revelation hadir dalam versi fisik satu disc, namun gamer PS5 dan Xbox tetap wajib mengunduh data tambahan sebelum bermain. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

FF7 Revelation Hadir dalam Versi Fisik, Namun Wajib Unduh Data

Selasa, 8 Sep 2026 - 09:40 WIB