Jalur Kilat Izin Tinggal WNA, Rp1,5 Juta per Kepala Diduga Mengalir ke Pejabat Imigrasi

Senin, 8 Juni 2026 - 09:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Gedung Merah Putih KPK di Jakarta. (Posnews/Ist)

Gedung Merah Putih KPK di Jakarta. (Posnews/Ist)

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membongkar dugaan praktik pemerasan dan gratifikasi dalam pengurusan izin tinggal warga negara asing (WNA) di lingkungan Direktorat Jenderal Imigrasi.

Dalam kasus ini, penyidik mengungkap adanya tarif “jalur kilat” yang dipatok Rp1 juta hingga Rp1,5 juta per orang untuk mempercepat proses izin tinggal.

Kasus tersebut menyeret mantan Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) sekaligus mantan Dirjen Imigrasi, Silmy Karim, bersama tujuh tersangka lainnya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Juru Bicara KPK Budi Prasetyo mengungkapkan para oknum diduga memungut biaya ilegal di luar ketentuan resmi yang berlaku.

“Biaya percepatan yang sifatnya ilegal dipatok antara Rp1 juta sampai Rp1,5 juta per kepala,” kata Budi, Minggu (7/6/2026).

Jalur Kilat Diduga Jadi Ladang Pemerasan

KPK menduga praktik tersebut berlangsung saat sejumlah WNA menginginkan proses izin tinggal selesai lebih cepat.

Padahal, sesuai prosedur resmi Direktorat Jenderal Imigrasi, proses penerbitan izin tinggal umumnya hanya membutuhkan waktu sekitar tiga hingga tujuh hari kerja, tergantung jenis layanan dan kelengkapan dokumen.

Namun, penyidik menduga oknum di lingkungan Imigrasi memanfaatkan kebutuhan pemohon dengan menawarkan percepatan layanan berbayar di luar mekanisme resmi.

Baca Juga :  Komnas HAM Soroti Pembatasan Informasi Saat Demo DPR, Ojol Tewas Terlindas Rantis Brimob

KPK Tetapkan Delapan Tersangka

Dalam perkara ini, KPK menetapkan delapan tersangka, yakni:

  • Silmy Karim (SK), mantan Dirjen Imigrasi 2023-2024 dan Wamen Imipas 2025-2026.
  • Saffar Muhammad Godam (SMG), Plt Dirjen Imigrasi 2024-2025.
  • Jaya Saputra (JS), Direktur Izin Tinggal dan Status Keimigrasian.
  • Tessar Bayu Setyaji (TBS), Kasubdit Alih Status Izin Tinggal.
  • Bagus Bramantyo (BGS), Kasubdit Direktorat Izin Tinggal.
  • Ronald Arman Abdullah (RAA), Kepala Kantor Imigrasi.
  • Juniadi Sri Priambudi (JSP), Ketua Tim Alih Status ITAS.
  • Gusti Benardiansyah (GST), staf Subdit Izin Tinggal.

Diduga Kumpulkan Rp145,5 Miliar

Ketua KPK Setyo Budiyanto mengungkapkan para tersangka diduga mengumpulkan uang hasil pemerasan dan gratifikasi sedikitnya Rp145,5 miliar sepanjang 2022 hingga 2026.

Penyidik menduga para pelaku menerima uang secara tunai, transfer, hingga melalui perantara untuk menyamarkan aliran dana.

“Selama periode 2022-2026, para pihak diduga menerima uang sekurang-kurangnya mencapai Rp145,5 miliar,” ujar Setyo.

KPK juga menduga para oknum membagikan uang tersebut setiap pekan kepada sejumlah pihak di lingkungan Direktorat Jenderal Imigrasi.

Bahkan, penyidik memperkirakan ada pihak yang menerima jatah sekitar Rp100 juta setiap minggu.

Baca Juga :  Dua Siswa SMP 1 Geyer Grobogan Jadi Tersangka Kematian Teman Sekelas

KPK Sita Valas, Emas, dan Kendaraan

Selain menetapkan tersangka, KPK turut menyita sejumlah barang bukti bernilai tinggi.

Barang bukti tersebut meliputi uang tunai dalam mata uang dolar Amerika Serikat dan dolar Singapura, logam mulia, serta sejumlah kendaraan yang diduga berkaitan dengan hasil tindak pidana.

Penyidik masih menelusuri aliran dana dan kemungkinan adanya aset lain yang berasal dari dugaan pemerasan pengurusan izin tinggal WNA.

Biaya Resmi Izin Tinggal Jauh Lebih Rendah

KPK juga menyoroti adanya pungutan liar di luar tarif resmi yang telah ditetapkan pemerintah.

Berdasarkan ketentuan Direktorat Jenderal Imigrasi, biaya resmi izin tinggal terbatas (ITAS) berkisar Rp500 ribu hingga Rp7 juta, tergantung masa berlaku.

Sementara izin tinggal tetap (ITAP) dikenakan tarif antara Rp7 juta hingga Rp15 juta per permohonan.

Karena itu, penyidik menduga tarif percepatan ilegal menjadi sumber keuntungan tambahan yang mengalir ke sejumlah oknum dalam jaringan tersebut.

KPK memastikan penyidikan terus berkembang untuk mengungkap seluruh pihak yang terlibat serta menelusuri aliran uang hasil dugaan pemerasan dan gratifikasi di lingkungan Imigrasi. **

Editor : Hadwan

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Xi Jinping Kunjungi Korea Utara demi Perkuat Aliansi
Pramono Anung Buka Ribuan Lowongan Kerja, Cukup Bermodal KTP Jakarta Gaji UMP
Trump Ngamuk dan Walk Out dari Wawancara NBC
Fokus Hari Bhayangkara, Polri Resmi Menunda Operasi Patuh 2026
Tokoh Buruh Masuk Lingkaran Istana, Prabowo Lantik Said Iqbal Hari Ini
Gagal Mendahului Truk, Penumpang Motor Meregang Nyawa di Simpang Jambu Dua
Paus Leo XIV Desak Eropa Akui Kontribusi Kristen
Polri Pastikan Akpol 2026 Tanpa Jalur Khusus, 513 Peserta Lolos Rikkes II

Berita Terkait

Senin, 8 Juni 2026 - 12:39 WIB

Xi Jinping Kunjungi Korea Utara demi Perkuat Aliansi

Senin, 8 Juni 2026 - 11:58 WIB

Pramono Anung Buka Ribuan Lowongan Kerja, Cukup Bermodal KTP Jakarta Gaji UMP

Senin, 8 Juni 2026 - 11:34 WIB

Trump Ngamuk dan Walk Out dari Wawancara NBC

Senin, 8 Juni 2026 - 11:33 WIB

Fokus Hari Bhayangkara, Polri Resmi Menunda Operasi Patuh 2026

Senin, 8 Juni 2026 - 11:04 WIB

Tokoh Buruh Masuk Lingkaran Istana, Prabowo Lantik Said Iqbal Hari Ini

Berita Terbaru

Konsolidasi aliansi di Asia Timur. Presiden Tiongkok Xi Jinping memulai kunjungan kenegaraan ke Pyongyang guna mempererat kemitraan taktis di tengah kebuntuan negosiasi nuklir dengan AS. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Xi Jinping Kunjungi Korea Utara demi Perkuat Aliansi

Senin, 8 Jun 2026 - 12:39 WIB

Ilustrasi, Amarah di pertanian Wisconsin. Presiden Donald Trump menghentikan wawancara secara sepihak setelah pembawa acara

INTERNASIONAL

Trump Ngamuk dan Walk Out dari Wawancara NBC

Senin, 8 Jun 2026 - 11:34 WIB