WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Konflik bersenjata Amerika Serikat dan Iran memasuki fase paling berbahaya. Kedua negara mulai menargetkan infrastruktur vital milik lawan secara terbuka.
AS Hancurkan Jembatan Iran dan Balasan Hantaman di Kuwait
Militer Amerika Serikat menghancurkan lima jembatan di wilayah selatan Iran. Serangan udara maut ini menewaskan tujuh warga sipil di Bandar Khamir.
Komando Pusat AS mengonfirmasi gempuran terhadap infrastruktur logistik militer tersebut. Sebagai balasan, Iran menghantam stasiun pembangkit listrik dan desalinasi Kuwait.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Serangan rudal ini memicu kebakaran hebat di fasilitas energi tersebut. Kuwait sangat bergantung pada pabrik desalinasi untuk menyuplai air bersih.
Hantaman ini mengancam pasokan listrik dan air bersih warga gurun. PBB mengecam keras gempuran terhadap infrastruktur sipil di kawasan tersebut.
Pembajakan Kapal Tanker dan Blokade Selat Hormuz
Ketegangan juga meluas ke wilayah perairan internasional Timur Tengah. Marinir Amerika Serikat menaiki kapal tanker dekat Selat Hormuz hari Jumat.
Mereka melakukan aksi tersebut guna menegakkan blokade pelabuhan Iran. Angkatan Laut Garda Revolusi Iran menyerang kapal berbendera Thailand.
Kapal tersebut berupaya melewati Selat Hormuz tanpa izin Teheran. Sementara itu, kelompok bersenjata menyita kapal kimia di Teluk Aden.
Iran kemungkinan memerintahkan sekutu Houthi menutup jalur Bab al-Mandeb. Langkah ini bertujuan memutus total jalur alternatif pengiriman minyak global.
Ancaman Operasi Ofensif Skala Penuh dari Teheran
Presiden Donald Trump mengancam akan menghancurkan seluruh infrastruktur Iran. Trump juga tidak menutup peluang operasi serangan darat ke pantai.
Penasihat Pemimpin Agung Iran Mohsen Rezaei memberikan tanggapan sangat keras. Rezaei menegaskan Iran siap meluncurkan ofensif militer skala penuh.
Mereka akan membalas setiap upaya perebutan wilayah kedaulatan negara. Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi mengutuk pembunuhan warga sipil tersebut.
Araqchi bersumpah darah warga sipil tidak akan tumpah sia-sia.
Dampak Ekonomi Global dan Lonjakan Harga Minyak
Runtuhnya kesepakatan gencatan senjata memicu kepanikan pasar keuangan global. Harga minyak mentah Brent melonjak sebesar 3 persen minggu ini.
Kenaikan ini mencatat pertumbuhan positif selama tiga pekan berturut-turut. Sebaliknya, harga saham global dan indeks Wall Street merosot tajam.
Para investor mengkhawatirkan potensi kelangkaan pasokan energi dunia jangka panjang.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia













