WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Presiden Donald Trump kembali menuduh China.
Ia menyebut Beijing mencampuri sistem pemilu Amerika Serikat.
Tuduhan keras ini mengancam gencatan senjata kedua negara.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Padahal, kedua pemimpin merencanakan pertemuan penting September nanti.
Tuduhan Pencurian Data Pemilih AS
Trump menyampaikan pidato khusus dari Gedung Putih.
Ia mengklaim peretas China mencuri jutaan data pemilih.
Trump menyebut kebocoran data ini sebagai mimpi buruk.
“Kebocoran data ini mengancam keamanan pemilu nasional,” tegasnya.
Ia merasa China menginginkan kekalahannya pada pemilu mendatang.
Tanggapan Dingin Kedutaan China
Pemerintah China membantah keras tuduhan sepihak tersebut.
Juru bicara Kedutaan China Liu Chang memberikan penjelasan.
Liu menegaskan China tidak pernah mencampuri pemilu AS.
Pidato Trump ini mengubah arah diplomasi kedua negara.
Padahal, Trump baru saja melunakkan sikapnya terhadap Beijing.
Tarik Ulur Rencana Kunjungan Washington
Trump sebelumnya menunda pemberlakuan tarif impor pada Oktober.
Ia mengkhawatirkan balasan China berupa pemblokiran ekspor logam.
Langkah protektif China tersebut dapat melumpuhkan manufaktur Amerika.
Trump kemudian mengundang Xi Jinping mengunjungi kota Washington.
Namun, pihak Beijing belum mengonfirmasi rencana kunjungan tersebut.
China mensyaratkan hubungan positif sebelum memulai pertemuan puncak.
Siasat Politik Domestik Trump
Para ahli menilai pidato Trump hanya siasat domestik.
Trump ingin mendesak Kongres memperketat aturan pemilu baru.
Pidato selama 25 menit tersebut tidak menuntut hukuman.
Ketiadaan tuntutan sanksi ini dapat meredakan kemarahan Beijing.
Lembaga intelijen AS juga menepis klaim campur tangan.
Laporan resmi memastikan tidak ada sabotase sistem pemilu.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia













