WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Presiden Donald Trump kembali memicu kontroversi besar.
Ia menyampaikan pidato khusus dari Gedung Putih.
Trump merilis dokumen rahasia pemilu masa lalu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Langkah ekstrem ini mengancam gencatan senjata AS-China.
Padahal, kedua negara merencanakan pertemuan penting September nanti.
Peluncuran Dokumen Pemilu Sepihak dan Isu China
Trump memulai pidato dengan memamerkan capaian kabinet.
Ia mengklaim keberhasilan menurunkan harga obat nasional.
Namun, ia segera mengalihkan fokus ke pemilu.
Trump mengklaim peretas China mencuri data pemilih.
Ia mengunggah dokumen tersebut lewat situs baru.
Dokumen selektif ini mengabaikan kampanye siber Rusia.
Padahal, intelijen membuktikan keterlibatan Rusia mendukung Trump.
Siasat Politik Domestik dan Pemilu 2026
Trump menuntut Kongres mengesahkan undang-undang pemilu baru.
Aturan ini mewajibkan kartu identitas bagi pemilih.
Demokrat menuduh Trump menyebarkan teori konspirasi usang.
Senator Mark Warner mengkhawatirkan keputusan sepihak tersebut.
Warner menilai Trump ingin mendelegitimasi pemilu 2026.
Senator Andy Kim juga melayangkan kritik keras.
Kim menyebut warga lelah menghadapi konflik partisan.
Wakil Presiden JD Vance mencoba meredakan ketegangan.
Vance berjanji mendukung penuh hasil pemilu November.
Boikot Stasiun Televisi dan Kemarahan Trump
Stasiun televisi raksasa menolak menyiarkan pidato langsung.
ABC, NBC, dan CNN mengalihkan siaran ke internet.
CBS dan MS NOW memotong pidato sebelum selesai.
Hanya Fox News yang menayangkan pidato hingga akhir.
Trump mengecam keras keputusan sepihak media tersebut.
Ia menuduh stasiun televisi melakukan konspirasi jahat.
Sekretaris Pers Karoline Leavitt gagal meyakinkan media.
Tarik Ulur Hubungan Diplomatik dengan Beijing
Kedutaan China membantah keras tuduhan campur tangan.
Juru bicara Liu Chang memberikan klarifikasi resmi.
Liu menegaskan China menghormati kedaulatan politik Amerika.
Para ahli menilai pidato hanya siasat domestik.
Pidato selama 25 menit tersebut tidak menuntut hukuman.
Ketiadaan tuntutan sanksi ini dapat meredakan kemarahan Beijing.
Lembaga intelijen AS juga menepis klaim manipulasi.
Laporan resmi memastikan tidak ada sabotase sistem pemilu.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia













