WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Pemerintah Pakistan mencoba memanfaatkan hubungan baik dengan pemerintahan Donald Trump demi mendapatkan dukungan ekonomi darurat.
Permohonan Dana Stabilitas 10 Miliar Dolar
Pakistan mengajukan permohonan fasilitas dana stabilitas nilai tukar senilai 10 miliar dolar AS kepada Amerika Serikat.
Menteri Keuangan Pakistan Muhammad Aurangzeb membawa proposal keuangan tersebut saat mengunjungi Washington minggu ini.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Laporan media Reuters mengonfirmasi rincian permohonan bantuan ini berdasarkan keterangan sumber internal tepercaya.
Selain itu, Pakistan mengusulkan fasilitas pembiayaan perdagangan khusus bersama U.S. EXIM Bank.
Pemerintah Pakistan merancang dua skema ini guna memperkuat nilai tukar mata uang rupee.
Langkah strategis ini juga bertujuan memperluas diversifikasi sumber pendanaan luar negeri.
Pakistan ingin mengurangi ketergantungan finansial pada IMF, China, dan Arab Saudi.
Saling Menguntungkan di Sektor Mineral dan Geopolitik
Pakistan sebelumnya membantu memediasi kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Namun, kondisi fundamental ekonomi Pakistan belum mengalami perubahan berarti sejak perang meletus.
Hubungan Pakistan dan Uni Emirat Arab bahkan sempat memanas pada April lalu.
Kondisi tersebut memaksa Pakistan mengembalikan dana cadangan sebesar 3,5 miliar dolar AS ke Abu Dhabi.
Pakistan kemudian mengandalkan dana talangan 3 miliar dolar AS dari Arab Saudi demi menutup celah kas.
Pakar Asia Group Uzair Younus memberikan analisis mengenai potensi keuntungan bagi Washington.
Pemerintahan Donald Trump mengincar peran lebih besar dalam sektor mineral kritis Pakistan.
Fasilitas pendanaan ini akan memperkuat posisi Amerika Serikat dalam kesepakatan bisnis pertambangan.
Keraguan Akademisi dan Tantangan Reformasi IMF
Pengajar Universitas Oxford Adeel Malik menyampaikan pandangan kritis mengenai usulan bantuan tersebut.
Malik menilai fasilitas cadangan tersebut sekadar bentuk sewa geopolitik atas peran mediasi Pakistan.
Di sisi lain, program pinjaman IMF mulai menunjukkan dampak positif bagi perekonomian.
Lembaga S&P Global Ratings menaikkan peringkat utang Pakistan dari B- menjadi B.
Kenaikan peringkat ini menjadi pencapaian pertama Pakistan dalam sembilan tahun terakhir.
Meski begitu, program IMF senilai 7 miliar dolar AS menuntut kenaikan pajak yang tidak populer.
Pemerintah Pakistan harus membatasi pengeluaran negara menjelang pemilu 2029 mendatang.
Analis Capital Economics Gareth Leather menilai dana AS akan memberikan bantalan kas yang vital.
Ekonom Vaqar Ahmed menegaskan bahwa suntikan likuiditas baru hanya membeli waktu tanpa menciptakan pertumbuhan.
Perdebatan Pengambil Kebijakan di Washington
Departemen Keuangan AS memuji langkah reformasi Pakistan namun menekankan pentingnya kemandirian ekonomi.
Pihak U.S. EXIM Bank mengonfirmasi pembahasan awal mengenai kerangka kerja strategis bersama Pakistan.
Kedua pihak menargetkan penandatanganan kesepakatan pada Sidang Majelis Umum PBB September mendatang.
Mantan pejabat Departemen Keuangan AS Brad Setser memperkirakan bentuk fasilitas penarikan maksimum.
Namun, mantan pejabat Treasury Mark Sobel mendesak pemerintah agar menolak permintaan swap tersebut.
Sobel menyebut Pakistan telah menjadi pasien tetap yang gagal menjalankan reformasi struktur.
Pakar Atlantic Council Martin Muehleisen mempertanyakan besaran angka bantuan 10 miliar dolar AS tersebut.
Ia menilai penyerahan dana raksasa tanpa kerangka keberlanjutan utang membawa risiko tinggi bagi Amerika Serikat.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia













