KUALA LUMPUR, POSNEWS.CO.ID – Lembaga Minyak Sawit Malaysia (MPOC) merilis proyeksi pergerakan harga CPO terbaru.
Faktor Pendorong Stabilitas Harga CPO Agustus
MPOC memproyeksikan harga CPO bertahan pada kisaran RM4.400 hingga RM4.650 per ton.
Penerapan program B50 Indonesia sejak Juli memberikan fondasi harga yang kuat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dinamika pasar energi global turut mendongkrak daya saing bahan bakar nabati.
Eskalasi ketegangan AS dan Iran menaikkan harga minyak gas sebesar 30 persen.
Lonjakan harga minyak gas tersebut melampaui harga CPO dan minyak kedelai.
Kondisi ini memicu kenaikan permintaan sektor biodiesel di berbagai negara.
Kenaikan Produksi dan Tantangan Pasar Utama
Produksi CPO Malaysia melonjak 8 persen secara bulanan pada Juni 2026.
Volume produksi nasional menyentuh angka 1,63 juta ton.
Musim panen raya memicu peningkatan produksi bulanan tersebut secara alami.
Meskipun demikian, angka ini masih 3 persen lebih rendah dari periode Juni 2025.
Ekspor Malaysia juga meningkat 6,1 persen menjadi 1,20 juta ton pada Juni.
Namun MPOC mencatat penurunan konsumsi minyak goreng di pasar China dan India.
Konflik Timur Tengah yang berkepanjangan menahan laju pertumbuhan impor mereka.
Rekor Rendemen Minyak dan Ancaman El Nino
Pemerintah Malaysia mencatat kinerja produksi yang relatif stabil pada semester pertama 2026.
Stok CPO nasional meningkat hingga menyentuh 2,5 juta ton pada Juni.
Peningkatan efisiensi ekstraksi minyak (OER) mendukung ketahanan produksi tersebut.
Rata-rata OER mencapai 20,08 persen pada paruh pertama tahun ini.
Angka ini mengukir rekor tertinggi dalam satu dekade terakhir.
Curah hujan tinggi pada tahun 2025 memicu kenaikan kualitas buah sawit.
Namun, MPOC mewaspadai potensi kedatangan fenomena El Nino pada awal 2027.
Cuaca kering ekstrem berpotensi menurunkan kembali tingkat rendemen minyak sawit.
Prospek Pasokan Biji Minyak dan Momentum Diwali
MPOC memproyeksikan perlambatan pertumbuhan produksi biji minyak global.
Total produksi kedelai, bunga matahari, dan kanola hanya tumbuh 16,5 juta ton.
Angka pertumbuhan ini berada di bawah rata-rata historis empat tahun terakhir.
Di sisi lain, India bersiap menambah impor CPO menjelang festival Diwali.
India biasa mengimpor 30 persen kebutuhan tahunan pada periode Juli hingga September.
Keunggulan harga CPO memberikan peluang besar untuk memikat para pembeli India.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia













