POSNEWS.CO.ID, YERUSALEM — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali menegaskan penolakannya terhadap rencana Gaza terbaru Donald Trump. Ia menyampaikan sikap tersebut dalam pernyataan televisi kepada pemerintahan sayap kanannya, Minggu.
Militer Israel secara efektif telah menghentikan serangan di wilayah tersebut di bawah tekanan Presiden AS itu. Namun, Netanyahu tetap bersikeras menolak dokumen 15 poin yang diajukan.
Tekanan Politik dan Elektoral
Netanyahu tengah menghadapi tekanan elektoral menjelang pemilu ulang pada 27 Oktober. Ia terjepit di antara menteri sayap kanan yang marah atas konsesi di Gaza dan Trump, sekutu militer utamanya yang mendorong penyelesaian konflik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Israel mengurangi serangan di Gaza sejak Senin lalu. Pengurangan ini terjadi setelah Nikolay Mladenov, utusan Gaza untuk Dewan Perdamaian Trump yang mengawasi gencatan senjata, bertemu dengan Netanyahu.
Sumber yang mengetahui posisi Israel mengungkapkan bahwa militer hanya akan bertindak terhadap ancaman langsung di Gaza. Israel juga sepakat menghentikan pembunuhan bertarget yang sebelumnya dilakukan hampir setiap hari.
Mladenov menyatakan pada Minggu bahwa pembahasan mengenai peta jalan baru masih berlangsung.
Perbedaan Israel dan Hamas soal Waktu Pelaksanaan
Trump mengumumkan bulan lalu bahwa terobosan telah tercapai dalam rencananya mengakhiri perang Gaza. Israel dan Hamas menyepakati rencana ini, mencakup penarikan pasukan Israel seiring pelucutan senjata Hamas serta pengerahan Pasukan Stabilisasi Internasional bersama kepolisian Palestina baru.
Namun, sejumlah komplikasi muncul terkait garis waktu pelaksanaan rencana tersebut. “Israel tidak menerima dokumen 15 poin,” kata Netanyahu di awal pertemuan dengan menteri kabinetnya.
Ia menegaskan militer tidak akan menarik pasukan sampai Hamas benar-benar melucuti senjata, baik senjata berat maupun ringan. Netanyahu menyampaikan pernyataan serupa dalam unggahan media sosial pada Selasa.
Pejabat Israel mengonfirmasi bahwa keberatan tersebut telah disampaikan kepada Washington. Netanyahu menambahkan bahwa Israel masih berunding dengan Amerika Serikat mengenai rencana ini.
“Mereka (AS) punya beberapa ide, sebagian bisa kami terima dan sebagian tidak. Kami tahu cara bersikap tegas terhadap hal-hal itu,” ujar Netanyahu.
Posisi Hamas dan Dukungan Sayap Kanan
Dalam wawancara dengan N12 News Israel, Mladenov menyatakan Israel wajib menarik pasukan secara bertahap per sektor setelah senjata Hamas dilucuti dan dinonaktifkan.
Pejabat senior Hamas, Basem Naim, menyampaikan kepada Reuters bahwa kelompoknya tetap berkomitmen pada peta jalan yang disepakati di Kairo sepuluh hari lalu. Ia mendesak mediator dan AS menekan Netanyahu agar tidak menghambat proses demi kepentingan politik dan elektoral internal.
Menteri Keuangan sayap kanan Bezalel Smotrich memuji sikap Netanyahu. Ia menegaskan bahwa tujuan utama perang adalah penghancuran Hamas dan militer tidak boleh mundur sedikit pun dari Jalur Gaza.
Trump menyebut bulan lalu bahwa Hamas, kelompok yang didukung Iran dan memerintah Gaza hampir dua dekade sebelum melancarkan serangan 7 Oktober 2023 terhadap Israel, telah setuju melucuti senjatanya.
Sengketa Istilah Pelucutan Senjata
Hamas menghindari istilah “pelucutan senjata” dan menyatakan hanya setuju menyerahkan senjata untuk disimpan di bawah pengawasan administrasi teknokrat Palestina yang didukung AS. Administrasi ini akan mengelola Gaza di bawah supervisi Dewan Perdamaian Trump.
Hamas menegaskan menyetujui rencana tersebut untuk menghindari perang kembali pecah. Namun, kelompok itu menekankan bahwa pelaksanaan kesepakatan bergantung pada pemenuhan komitmen Israel terlebih dahulu, termasuk penarikan pasukan dan penghentian serangan.
Israel sebelumnya bersumpah memburu militan yang terlibat serangan Oktober 2023 sebelum akhirnya menghentikan serangan bertarget pada Senin.
Korban Jiwa Sejak Gencatan Senjata
Sejak gencatan senjata yang dimediasi AS tercapai pada Oktober 2025, lebih dari 1.250 orang tewas akibat serangan Israel. Otoritas kesehatan Gaza menyebut mayoritas korban merupakan warga sipil.
Hamas belum mengungkap jumlah pejuangnya yang tewas. Sementara itu, empat tentara Israel tewas di Gaza selama periode yang sama.
Pasukan Israel telah menduduki dan mengosongkan dua pertiga wilayah enklave tersebut. Kondisi ini memaksa hampir seluruh lebih dari 2 juta penduduk Gaza terkurung di jalur sempit pesisir di bawah kendali Hamas, sebagian besar tinggal di tenda darurat atau bangunan rusak.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












