- Klaim Blokade “Tak Terhentikan”
- Dampak Perang terhadap Harga Minyak Global
- Iran Tegaskan Kendali Penuh atas Selat
- Trump Minta Warga Terima Harga Bensin Lebih Tinggi
- Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Merosot Drastis
- Belum Ada Tanda Perundingan Damai Dilanjutkan
- Beban Ekonomi yang Kian Berat
- Serangan Houthi Perluas Kekhawatiran Konflik Regional
POSNEWS.CO.ID, NEW YORK — Presiden AS Donald Trump menyatakan akan segera mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat. Ia menyampaikan hal ini pada Jumat sambil meningkatkan tekanan terhadap Iran.
Perang antara kedua negara sudah berlangsung hampir enam bulan tanpa tanda-tanda akan berakhir. Trump menyampaikan pernyataan ini dalam pidato di sebuah akademi kepolisian di New York.
Menurutnya, AS akan segera mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah AS setelah berhasil mengalahkan Iran sepenuhnya. Ia mengklaim Iran saat ini sedang mengalami kekalahan besar.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Klaim Blokade “Tak Terhentikan”
Trump menyampaikan pernyataan ini sambil mengklaim AS berhasil mempertahankan kendali kuat atas jalur pelayaran vital tersebut. Ia menyebut blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran sebagai bukti kendali itu.
Ia menggambarkan blokade tersebut sebagai sesuatu yang tak terhentikan dan menyebutnya tembok baja. Trump meminta para pendukungnya menerima kenaikan harga bensin akibat perang ini untuk sementara waktu.
Menurutnya, langkah ini penting untuk mencegah Teheran memiliki senjata nuklir. Ia menegaskan bahwa langkah AS merupakan bentuk pelayanan besar bagi dunia.
Dampak Perang terhadap Harga Minyak Global
Perang AS-Israel dengan Iran pecah sejak akhir Februari lalu. Penutupan efektif Selat Hormuz oleh Teheran sejak saat itu turut mendorong kenaikan harga minyak dan komoditas lain secara global.
Iran berulang kali menegaskan tidak akan membuka kembali selat tersebut sampai AS mencabut blokade angkatan lautnya. Iran mendesak AS menerima kekalahan, sementara Trump menyebut Iran sebagai negara jahat dan meminta warga AS bersiap menghadapi harga bahan bakar yang terus tinggi.
Pernyataan kedua belah pihak menunjukkan jarak yang masih sangat lebar. Kemajuan menuju perundingan damai maupun lalu lintas kapal tanker minyak lewat Selat Hormuz sama-sama terhenti.
Iran Tegaskan Kendali Penuh atas Selat
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menegaskan hal ini lewat unggahan di platform X pada Sabtu dini hari. Ia menyatakan Iran akan membuka dan menutup selat tersebut hanya atas perintahnya sendiri.
Selama AS belum menerima kenyataan kekalahan dan berhenti berkhayal, Iran akan terus menerapkan blokade. Gharibabadi menegaskan pernyataan ini menunjukkan sedikit urgensi Iran untuk memulihkan perdagangan seperti sebelum perang.
Ia menambahkan bahwa cuitan, kapal induk, perintah, atau pidato kampanye tidak bisa merebut Selat Hormuz. Sebelum AS dan Israel melancarkan perang pada 28 Februari, satu dari setiap lima barel ekspor minyak dunia melewati selat tersebut.
Trump Minta Warga Terima Harga Bensin Lebih Tinggi
Pada Jumat, Trump kembali mendesak warga AS menerima kenaikan sedikit harga bensin selama konflik dengan Iran berlangsung. Ia menyampaikan hal ini dalam rapat umum politik di Garden City, New York.
Trump menyebut membayar sedikit lebih mahal untuk bensin sepadan dengan biaya memastikan negara jahat itu tidak memiliki senjata nuklir. Alasan ini menjadi salah satu dasar yang ia kemukakan untuk perang tersebut.
Harga rata-rata bensin di AS mencapai sekitar USD 4,08 per galon pada Jumat, menurut American Automobile Association. Angka ini naik 29 persen dari USD 3,16 setahun sebelumnya, dan tren ini turut memicu inflasi serta mengecewakan pemilih.
Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Merosot Drastis
Perusahaan pelacak kapal Kpler mencatat hanya dua kapal melintasi Selat Hormuz pada Jumat. Satu kapal pengangkut biji-bijian memasuki perairan Iran, sementara satu kapal curah kering kosong melaju ke arah sebaliknya.
Sebuah kapal tanker gas minyak cair kosong juga terlihat berlayar menuju Teluk lewat selat tersebut. Data ini tidak menunjukkan adanya pengiriman minyak mentah.
Sejumlah kapal mungkin melintasi selat tanpa terdeteksi dengan mematikan transponder mereka. Meski begitu, angka ini masih jauh dari lebih dari 130 kapal yang biasa melintas setiap hari sebelum perang.
Kapal yang nekat melintasi selat tanpa izin Iran berisiko terkena serangan rudal atau drone. Perusahaan Minyak Nasional Abu Dhabi milik Uni Emirat Arab melaporkan bahwa pihak tak dikenal menyerang dua kapalnya saat melintasi selat pada Kamis malam.
Kantor berita negara Uni Emirat Arab, WAM, kemudian melaporkan satu kapal lain mengalami serangan serupa pada Jumat. Iran menyebut penegakan lalu lintas di selat ini sebagai blokade, sementara AS menggunakan istilah yang sama untuk ancamannya terhadap kapal Iran yang meninggalkan pelabuhan.
Belum Ada Tanda Perundingan Damai Dilanjutkan
Trump kembali menegaskan bahwa langkah AS merupakan pelayanan besar bagi dunia, bukan hanya bagi negaranya sendiri. Ia menambahkan penempatan kapal induk AS selama 260 hari untuk mendukung upaya perang ini masih belum cukup lama.
Kesepakatan sementara pada Juni untuk mengakhiri perang kini praktis gagal. Tidak ada tanda AS maupun Iran berencana melanjutkan perundingan damai.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menyatakan belum ada keputusan untuk memulai kembali negosiasi dengan AS. Kantor Berita Mahasiswa Iran melaporkan pernyataan ini pada Sabtu.
Qatar dan Pakistan sebagai mediator tetap berkomunikasi dengan Iran dan saling bertukar pesan. Namun, komunikasi ini belum setara dengan negosiasi resmi.
Beban Ekonomi yang Kian Berat
Kenaikan harga bahan bakar berbenturan dengan janji kampanye Trump untuk menurunkan biaya energi. Partai Demokrat kini berupaya menjadikan dampak ekonomi perang Iran sebagai isu dalam pemilihan sela November.
Penutupan hampir total selat ini turut mendorong kenaikan harga minyak mentah berjangka sebesar USD 1 per barel pada Jumat. Harga acuan Brent dan West Texas Intermediate berada di jalur kenaikan mingguan masing-masing 6,0 persen dan 5,4 persen.
Gharibabadi menegaskan Teheran tidak akan gentar oleh ancaman maupun unjuk kekuatan. Meski begitu, sejumlah tanda beban ekonomi terhadap Iran mulai terlihat.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyalahkan blokade AS terhadap pelabuhan Iran dan sanksi ekspor minyak sebagai penyebab inflasi tinggi. Televisi pemerintah Iran menyiarkan pernyataan ini.
Trump dan Menteri Keuangan Scott Bessent masing-masing berjanji akan memberikan tekanan finansial lebih besar terhadap Iran. Bessent menyatakan kepada program Rob Schmitt Tonight di Newsmax pada Kamis bahwa pengumuman langkah tambahan terhadap Iran akan muncul pekan depan.
Serangan Houthi Perluas Kekhawatiran Konflik Regional
Serangan terbaru dari kelompok Houthi Yaman yang mendapat dukungan Iran kembali memicu kekhawatiran soal meluasnya perang regional. Pemerintah Yaman, yang mendapat pengakuan internasional, menyebut Houthi menembakkan enam rudal balistik ke pelabuhan Mocha di Laut Merah pada Jumat.
Serangan ini menewaskan empat warga sipil. Terpisah, kantor berita SABA milik Houthi mengutip sumber militer yang menyebut kelompok tersebut menargetkan fasilitas Aramco di Kota Najran, Arab Saudi, dengan drone.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia














