POSNEWS.CO.ID, TOKYO — Yen menguat terhadap dolar AS pada Kamis di tengah spekulasi baru soal intervensi Jepang. Jepang diperkirakan berupaya mendongkrak nilai mata uangnya yang terus melemah.
Sementara itu, harga minyak melonjak setelah Iran melancarkan serangan baru terhadap target AS di kawasan Teluk. Imbal hasil obligasi justru melemah, sehingga membantu bursa saham Wall Street dan Eropa bergerak naik.
Yen Melonjak Dua Persen di Tengah Spekulasi Intervensi
Yen melonjak lebih dari dua persen terhadap dolar AS pada jam perdagangan Eropa. Lonjakan ini terjadi di tengah spekulasi baru soal intervensi untuk mendongkrak mata uang yang terus melemah tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pelemahan yen selama ini meningkatkan biaya impor bagi Jepang. Fawad Razaqzada dari Forex.com menyebut yen menjadi sorotan utama pasar valuta asing hari ini.
“Dugaan intervensi BoJ, dan yang lebih mungkin, ekspektasi kenaikan suku bunga hawkish BoJ turut mengangkat yen secara luas,” ujar Razaqzada. Ia merujuk pada Bank of Japan sebagai bank sentral negara tersebut.
Bank of Japan dan Departemen Keuangan AS sebelumnya melakukan intervensi pada Juli untuk mendongkrak yen. Namun, efek intervensi tersebut terbukti hanya bertahan singkat.
Perbedaan Suku Bunga Jadi Penyebab Pelemahan Yen
Salah satu penyebab pelemahan yen adalah perbedaan besar antara suku bunga Jepang dan Amerika Serikat. Perbedaan ini mendorong investor meminjam dalam yen, kemudian menginvestasikannya ke aset AS berimbal hasil lebih tinggi lewat skema carry trade.
Federal Reserve AS berpotensi menaikkan suku bunga dalam pertemuan bulan ini. Kondisi ini turut menekan Bank of Japan agar menaikkan suku bunga demi menopang yen.
Investor kini menantikan rilis data nonfarm payrolls AS pada Jumat. Selain itu, investor juga menanti pembaruan data inflasi AS pekan depan untuk memperkirakan arah kebijakan The Fed selanjutnya.
Kekhawatiran Inflasi Dorong Imbal Hasil Obligasi Naik
Sejumlah pihak mengkhawatirkan bank sentral bisa memasuki siklus kenaikan suku bunga berkelanjutan. Kenaikan harga minyak akibat perang di Timur Tengah dikhawatirkan mendorong inflasi lebih luas.
Kekhawatiran ini mendorong imbal hasil obligasi pemerintah menyentuh level tertinggi dalam beberapa dekade pekan ini. Investor menuntut imbal hasil lebih tinggi seiring antisipasi kenaikan suku bunga mendatang.
Kondisi ini turut memicu kekhawatiran soal kemampuan pemerintah menanggung beban utang besar mereka. David Morrison, analis pasar senior di Trade Nation, menyebut kenaikan biaya pinjaman ini dipicu banyak faktor.
“Faktor-faktor ini termasuk kekhawatiran investor atas tingkat utang pemerintah yang tinggi dan terus meningkat,” ujar Morrison. Ia juga menyoroti kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga energi dari perang AS-Iran.
Iran Serang Pangkalan AS di Kuwait
Republik Islam Iran menyerang pangkalan militer AS di Kuwait pada Kamis. Serangan ini terjadi meski Presiden Donald Trump mengancam serangan balasan lebih lanjut dalam eskalasi baru enam bulan sejak perang dimulai.
Bentrokan baru ini bermula dari serangan AS pada Minggu lalu dan memperdalam kebuntuan perang. Iran terus mempertahankan cengkeramannya atas Selat Hormuz yang strategis, sementara AS memperketat blokade balasan terhadap pelabuhan Iran.
Selat ini biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Namun, penutupan efektif selat ini membuat biaya energi sulit turun signifikan dalam waktu dekat.
Kondisi ini memicu kekhawatiran inflasi tinggi akan bertahan lebih lama. Sebelumnya, harga minyak berjangka sempat turun setelah Trump menyatakan serangan AS terhadap Iran kemungkinan hanya berlangsung singkat.
Namun, harga minyak dengan cepat kembali melonjak setelah pernyataan tersebut. Pergerakan harga yang fluktuatif ini mencerminkan ketidakpastian pasar terhadap arah konflik selanjutnya.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia














