JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Menteri Perdagangan Budi Santoso mendorong integrasi ekonomi Asia-Pasifik yang lebih inklusif.
Dia ingin negara berkembang dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) ikut menikmati manfaat perdagangan, investasi, serta kemajuan teknologi.
Menurut Budi, kerja sama regional harus membuka lebih banyak peluang usaha. Selain memperlancar perdagangan, integrasi ekonomi perlu memperkuat konektivitas dan ketahanan rantai pasok.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sementara itu, transformasi digital, inovasi, dan industri hijau dapat meningkatkan produktivitas sekaligus membuka pasar baru.
Hal tersebut disampaikan Budi dalam Sesi Kedua Pertemuan Tingkat Menteri ke-37 Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (37th APEC Ministerial Meeting/AMM) secara daring, Selasa malam (3/11/2026).
“Indonesia menekankan bahwa berbagai manfaat tersebut harus menjangkau ekonomi berkembang dan UMKM. Kita perlu memperkuat partisipasi mereka dalam rantai nilai regional dan global agar keduanya dapat melangkah melalui cakupan dari lokal menuju global. Mari kita bersama-sama memastikan integrasi ekonomi dapat menghasilkan peluang pertumbuhan baru yang inklusif dan berkelanjutan bagi kawasan,” kata Budi.
Indonesia Perkuat Akses UMKM ke Pasar Internasional
Budi menegaskan, Indonesia mendukung penguatan integrasi ekonomi melalui Putrajaya Vision 2040 dan pengembangan Free Trade Area of the Asia-Pacific (FTAAP).
FTAAP merupakan agenda jangka panjang untuk memperdalam integrasi perdagangan kawasan Asia-Pasifik.
Untuk mewujudkannya, APEC perlu memperkuat riset kebijakan, pemetaan rantai pasok, pertukaran informasi, dan peningkatan kapasitas setiap ekonomi anggota.
“Berbagai inisiatif ini perlu mempertimbangkan kondisi pasar (market-driven), memanfaatkan berbagai perjanjian perdagangan regional yang ada, serta memperhatikan perbedaan kapasitas dan prioritas masing-masing ekonomi,” ujarnya.
APEC Bahas AI, Logistik, dan Perdagangan Digital
Pertemuan AMM ke-37 dibuka Menteri Perdagangan Tiongkok Wang Wentao bersama Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi.
Para menteri membahas sejumlah agenda strategis, antara lain penguatan perdagangan dunia, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) yang aman, efisiensi logistik, pemberdayaan UMKM, transisi energi, dan pemberantasan korupsi.
Pertemuan juga mengevaluasi pelaksanaan Aotearoa Plan of Action selama lima tahun terakhir. Hasil pembahasan selanjutnya dibawa ke KTT APEC pada 18–19 November 2026.
Dalam forum tersebut, Wang Wentao mengajukan tiga langkah untuk memperkuat ekonomi Asia-Pasifik.
Pertama, mempercepat agenda FTAAP melalui dialog perdagangan, penyelarasan aturan, serta pengurangan hambatan perdagangan dan investasi.
Kedua, memperkuat rantai pasok melalui perbaikan iklim usaha, keterbukaan investasi, dan dialog pemerintah dengan sektor swasta.
Ketiga, memperluas penggunaan teknologi untuk meningkatkan efisiensi perdagangan. Upaya tersebut mencakup pengembangan AI, digitalisasi, dan pemanfaatan dokumen perdagangan elektronik.
Indonesia Dorong Reformasi WTO
Selain integrasi regional, Budi menekankan pentingnya memperkuat sistem perdagangan multilateral melalui Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
Indonesia mendorong reformasi WTO agar tetap mengutamakan kepentingan anggota dan pengambilan keputusan berdasarkan konsensus.
Indonesia juga meminta agar perlakuan khusus dan berbeda (Special and Differential Treatment/S&DT) bagi negara berkembang tetap menjadi bagian penting dalam sistem perdagangan internasional.
Selain itu, Indonesia mendukung pemulihan sistem penyelesaian sengketa dua tingkat (two-tier dispute settlement) WTO. Langkah ini dinilai penting untuk membangun kembali kepercayaan terhadap aturan perdagangan dunia.
Budi juga menyoroti perlunya kebijakan perdagangan yang seimbang dalam sektor perikanan, pertanian, dan perdagangan elektronik.
Kebijakan tersebut harus memperhatikan keberlanjutan, pembangunan, ketahanan pangan, serta ruang kebijakan bagi negara berkembang.
“APEC dapat melengkapi berbagai upaya ini melalui kerja sama praktis dan dialog,” imbuhnya.
APEC merupakan forum kerja sama ekonomi yang melibatkan 21 ekonomi di kawasan Asia-Pasifik. Forum ini mendorong pertumbuhan melalui perdagangan, investasi, dan peningkatan konektivitas.
Meski keputusan APEC bersifat sukarela dan tidak mengikat (non-binding), forum tersebut menjadi wadah koordinasi dan komitmen bersama untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang terbuka, inklusif, dan berkelanjutan.
Melalui penguatan kerja sama ini, Indonesia berharap UMKM semakin mudah memperluas pasar, meningkatkan daya saing, dan masuk ke rantai perdagangan global. **
Editor : Hadwan













