Membongkar State Capture: Siapa Penulis Asli Regulasi Bisnis?

Kamis, 6 November 2025 - 07:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Sebuah UU disahkan kilat dan sangat pro-industri. Ini adalah 'State Capture', fenomena di mana korporasi yang 'menulis' drafnya, bukan negara. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Sebuah UU disahkan kilat dan sangat pro-industri. Ini adalah 'State Capture', fenomena di mana korporasi yang 'menulis' drafnya, bukan negara. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Sebuah undang-undang krusial—kita bisa ambil contoh RUU Cipta Kerja atau revisi UU Minerba di masa lalu—parlemen mengesahkannya dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Partisipasi publik terasa minim, prosesnya terkesan tertutup, dan ketika draf finalnya akhirnya bisa diakses, isinya sangat menguntungkan kelompok industri tertentu.

Publik bertanya-tanya: Mengapa begitu mendesak? Dan mengapa isinya terasa lebih mewakili kepentingan bisnis daripada kepentingan rakyat?

Ini mungkin bukan sekadar lobi politik biasa. Para analis politik-ekonomi mengenali pola ini sebagai fenomena yang lebih dalam dan berbahaya: “State Capture” atau “Pembajakan Negara”.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Konsep State Capture: Negara yang Dibajak

“State Capture” adalah sebuah konsep di mana kepentingan swasta tidak lagi hanya sekadar “mempengaruhi” kebijakan, tetapi secara aktif telah “menulis” dan “mendikte” aturan hukum demi keuntungan mereka sendiri.

Baca Juga :  Eskalasi Teluk: AS Bombardir Pulau Kharg, Iran Balas Sasar Fasilitas Bisnis Amerika

Jika dalam lobi tradisional, korporasi meminta kelonggaran dari regulator, maka dalam state capture, korporasi itulah yang “menyamar” sebagai regulator. Negara, yang seharusnya menjadi wasit, mengubah fungsinya menjadi fasilitator atau bahkan pelayan bagi kepentingan pemilik modal besar. Batas antara kepentingan publik dan kepentingan swasta menjadi kabur.

Lobi, Dana, dan Pintu Putar

Bagaimana kepentingan swasta bisa “membajak” sebuah negara, terutama di era yang tampak demokratis? Mekanismenya canggih, sistemik, dan seringkali berada di wilayah abu-abu hukum:

  1. Lobi Intensif: Tim hukum dan pelobi profesional dari korporasi besar memiliki akses prioritas ke ruang-ruang pembuat undang-undang. Mereka menyediakan “naskah akademik”, “data ahli”, dan draf pasal yang sudah mereka rancang untuk menguntungkan industri mereka, yang kemudian seringkali pembuat UU adopsi mentah-mentah.
  2. Politik Transaksional: Sudah menjadi rahasia umum bahwa biaya kampanye politik (baik legislatif maupun eksekutif) sangatlah mahal. Banyak pihak melihat pendanaan kampanye dari korporasi besar sebagai “investasi”. “Utang budi” politik ini kemudian mereka “bayar” setelah pemilu, seringkali dalam bentuk regulasi yang “ramah investasi”—yang sebenarnya berarti “ramah korporasi”.
  3. Fenomena ‘Revolving Door’ (Pintu Putar): Ini adalah mekanisme paling mulus. Seorang pejabat publik yang bertahun-tahun membuat regulasi di sektor vital (misal: energi, telekomunikasi, perbankan), tiba-tiba setelah pensiun, mendapat jabatan sebagai komisaris atau direktur di perusahaan swasta yang dulu ia regulasi. Ini menciptakan konflik kepentingan yang permanen.
Baca Juga :  Polres Metro Jakarta Pusat Tetapkan 4 Tersangka Kasus Penganiayaan Suporter di GBK

Kesimpulan: Regulasi Milik Siapa?

Ketika state capture terjadi, undang-undang kehilangan rohnya sebagai pelindung publik. Regulasi tidak lagi menjadi produk murni dari kehendak rakyat atau debat ideologis di parlemen.

Regulasi berubah menjadi dokumen legal yang merupakan hasil negosiasi kekuatan—dan seringkali transaksi—antara aparat negara dan para pemilik modal. Pertanyaannya pun bergeser, dari “Apa yang terbaik untuk rakyat?” menjadi “Kepentingan siapa yang pasal ini akomodasi?”

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tiga Warga Meninggal dan Trump Tinjau Ulang Lisensi Patriot
Spanyol Pulangkan 50 Ribu Migran dan Italia Bekukan Schengen
Pemerintah Australia Bela Aturan di Tengah Pelanggaran
Mata Uang Yen Melesat Tajam Sentuh Level 157 Per Dolar
Warga Galang 21 Ribu Tanda Tangan Tolak Pembongkaran
Kerusuhan Mengguncang Nepal Tenggara: 3 Warga Meninggal
Presiden Myanmar Ungkap Peta Jalan 5 Tahun dan Wajib Militer
Hamas Sepakati Peta Jalan Pelucutan Senjata di Gaza

Berita Terkait

Minggu, 2 Agustus 2026 - 09:00 WIB

Tiga Warga Meninggal dan Trump Tinjau Ulang Lisensi Patriot

Minggu, 2 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Spanyol Pulangkan 50 Ribu Migran dan Italia Bekukan Schengen

Minggu, 2 Agustus 2026 - 06:18 WIB

Mata Uang Yen Melesat Tajam Sentuh Level 157 Per Dolar

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 10:30 WIB

Warga Galang 21 Ribu Tanda Tangan Tolak Pembongkaran

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 09:30 WIB

Kerusuhan Mengguncang Nepal Tenggara: 3 Warga Meninggal

Berita Terbaru

Eskalasi gempuran udara di ibu kota. Rusia menembakkan gelombang rudal balistik dan drone ke Kyiv, menewaskan tiga warga serta memicu ketidakpastian lisensi Patriot dari AS. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Tiga Warga Meninggal dan Trump Tinjau Ulang Lisensi Patriot

Minggu, 2 Agu 2026 - 09:00 WIB

Krisis imigrasi terbesar Afrika-Eropa. Spanyol berhasil memulangkan puluhan ribu migran dari Ceuta di tengah ketegangan diplomatik Uni Eropa. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Spanyol Pulangkan 50 Ribu Migran dan Italia Bekukan Schengen

Minggu, 2 Agu 2026 - 08:00 WIB