Perang dan Propaganda: Bagaimana Opini Publik Dibentuk dan Dimenangkan

Kamis, 13 November 2025 - 17:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi,

Ilustrasi, "Kebenaran adalah korban pertama perang." Propaganda bukan sekadar kebohongan; ia adalah senjata strategis yang dirancang untuk memenangkan hati dan pikiran publik. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Dramawan Yunani Kuno, Aeschylus, pernah berkata, “Kebenaran adalah korban pertama perang.” Hingga kini, kutipan itu tetap sangat relevan. Sebab, begitu konflik bersenjata dimulai, medan tempur kedua segera terbuka: medan perang informasi dan persepsi.

Propaganda bukanlah sekadar “kebohongan” atau efek samping yang tidak disengaja; melainkan senjata yang pemerintah rancang secara strategis dan sistematis. Pada akhirnya, perang untuk merebut opini publik di dalam dan luar negeri sama pentingnya dengan perang di garis depan.

Tujuan Utama Propaganda Perang

Propaganda memiliki tujuan yang spesifik dan seringkali brutal. Tentu saja, tujuannya bukan untuk menginformasikan, tetapi untuk memanipulasi emosi dan mengarahkan perilaku. Secara umum, ada tiga tujuan utama:

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

  1. Demonisasi Musuh: Pertama, propaganda harus melukis musuh sebagai sosok yang tidak manusiawi—barbar, iblis, atau ancaman eksistensial. Akibatnya, tindakan ini membuat pembunuhan terasa lebih mudah diterima secara moral oleh tentara dan publik.
  2. Membenarkan Perang (Justifikasi): Kedua, propaganda harus membangun narasi “perang yang adil” (just war). Sebagai contoh, pihak sendiri selalu berjuang untuk alasan mulia seperti “demokrasi”, “kebebasan”, “kedaulatan”, atau “membela tanah air”, bahkan jika mereka yang melakukan agresi.
  3. Menjaga Moral Publik/Tentara: Terakhir, propaganda wajib menjaga semangat juang di dalam negeri. Ia harus meyakinkan publik bahwa kemenangan sudah dekat, bahwa pengorbanan tidak sia-sia, dan bahwa tentara adalah pahlawan.
Baca Juga :  Nicolas Zepeda Divonis Penjara Seumur Hidup atas Pembunuhan Mahasiswi Jepang

Teknik Propaganda Klasik

Untuk mencapai tujuan tersebut, negara menggunakan berbagai teknik klasik yang telah teruji waktu:

  1. Sensor Media: Langkah pertama adalah mengontrol aliran informasi. Pemerintah menyensor media, memblokir laporan kerugian di pihak sendiri, dan membungkam suara-suara disiden atau “pembela musuh”.
  2. Penyebaran Disinformasi: Selain itu, mereka secara aktif menyebarkan kebohongan atau setengah kebenaran. Misalnya, melebih-lebihkan jumlah korban musuh atau menciptakan cerita palsu tentang kekejaman musuh (atrocity propaganda).
  3. Simbol dan Slogan: Propaganda juga mengandalkan emosi, bukan logika. Oleh karena itu, penggunaan simbol (bendera, elang, beruang) dan slogan yang sederhana namun kuat (seperti “Remember the Maine!” atau “Loose Lips Sink Ships”) menjadi sangat efektif.

Troll Farms dan Deepfakes

Jika propaganda klasik membutuhkan poster dan siaran radio, maka era digital mempercepat penyebarannya secara eksponensial dan membuatnya lebih personal.

Media sosial menjadi medan tempur utama. Berbeda dengan koran, informasi menyebar dalam hitungan detik, seringkali tanpa verifikasi editor.

Troll Farms (Peternakan Troll): Lebih jauh lagi, negara-negara kini mengoperasikan “pabrik” troll yang mempekerjakan ribuan orang. Tugas mereka adalah membanjiri kolom komentar, memanipulasi tagar, dan menyerang jurnalis secara terkoordinasi untuk menciptakan ilusi konsensus.

Deepfakes (Video Palsu): Ancaman terbaru adalah deepfake. Teknologi ini memungkinkan siapa saja membuat video palsu yang sangat realistis—misalnya, video presiden yang mengumumkan kekalahan atau melakukan kejahatan. Akibatnya, “kabut perang” (fog of war) menjadi jauh lebih pekat.

Baca Juga :  Jaring Pengaman Global: Harapan Kaum Liberalis

Dari Poster WWII hingga Perang TikTok

Perbandingan dua konflik besar menunjukkan evolusi ini:

  • Perang Dunia II (Propaganda Top-Down): Selama PDII, propaganda bersifat satu arah dan terkontrol ketat. Pemerintah AS membuat poster ikonik (seperti “Rosie the Riveter”) dan memproduksi film-film patriotik. Sementara itu, Nazi Jerman menggunakan radio dan film untuk mendehumanisasi musuh dan membangun kultus individu.
  • Konflik Ukraina-Rusia (Propaganda Desentralisasi): Sebaliknya, konflik Ukraina-Rusia adalah perang media sosial skala besar pertama. Di satu sisi, Ukraina sangat berhasil menggunakan Telegram, X (Twitter), dan video TikTok. Mereka membangun citra heroik (misalnya, ‘Ghost of Kyiv’) untuk memenangkan simpati dan bantuan militer Barat. Di sisi lain, Rusia menggunakan troll farms dan media pemerintah (RT, Sputnik) untuk menyebarkan narasi tandingan, menyalahkan NATO, dan membenarkan invasi mereka kepada audiens global.

Literasi Media sebagai Pertahanan Diri

Pada akhirnya, propaganda telah berevolusi dari poster sederhana menjadi ekosistem disinformasi digital yang sangat kompleks dan personal. Kini, jauh lebih sulit bagi warga biasa untuk membedakan fakta dari fiksi.

Oleh karena itu, sebagai warga di era informasi, pertahanan terbaik kita bukanlah sensor, melainkan literasi media. Kita harus membangun kebiasaan skeptisisme yang sehat. Kita wajib memverifikasi sumber, memeriksa konteks, dan mempertanyakan narasi yang terlalu emosional. Sebab, dalam perang modern, pikiran kitalah adalah wilayah yang mereka perebutkan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang
Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap
Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa
Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar
Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang
Home Industry Vape THC di Bali Terbongkar, Omzet Diduga Capai Rp300 Miliar
TPA Jatiwaringin Tangerang Terbakar 15 Hektare, BNPB: 40 Persen Api Sudah Padam
Satgas Ungkap KKB Bakusip Diduga Dalang Pembakaran Pesawat PT AMA

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 20:17 WIB

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:13 WIB

Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap

Senin, 6 Juli 2026 - 05:24 WIB

Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa

Minggu, 5 Juli 2026 - 20:09 WIB

Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar

Minggu, 5 Juli 2026 - 19:56 WIB

Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang

Berita Terbaru

Siasat baru pertahanan udara Ukraina. Zelenskyy mendesak Trump memediasi izin penggunaan jaringan Starlink untuk menggempur target di dalam wilayah Rusia. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Zelenskyy Desak Trump Izinkan Akses Panduan Rudal

Minggu, 2 Agu 2026 - 10:00 WIB

Eskalasi gempuran udara di ibu kota. Rusia menembakkan gelombang rudal balistik dan drone ke Kyiv, menewaskan tiga warga serta memicu ketidakpastian lisensi Patriot dari AS. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Tiga Warga Meninggal dan Trump Tinjau Ulang Lisensi Patriot

Minggu, 2 Agu 2026 - 09:00 WIB

Krisis imigrasi terbesar Afrika-Eropa. Spanyol berhasil memulangkan puluhan ribu migran dari Ceuta di tengah ketegangan diplomatik Uni Eropa. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Spanyol Pulangkan 50 Ribu Migran dan Italia Bekukan Schengen

Minggu, 2 Agu 2026 - 08:00 WIB