PARIS, POSNEWS.CO.ID –– Paris kembali mengukuhkan diri sebagai pusat apresiasi seni global. Museum Guimet, yang terkenal dengan spesialisasi seni Asia, membuka pameran istimewa pada Rabu (19/11/2025).
Pameran bertajuk “Manga. An Art of its Own!” ini menawarkan perspektif baru. Biasanya, orang melihat manga hanya sebagai bacaan hiburan. Namun, kurator pameran ini justru menelusuri jejak fenomena global tersebut hingga ke akar seni tradisional Jepang.
Pengunjung tidak hanya akan melihat lembaran komik modern. Mereka akan menyaksikan dialog visual antara masa lalu dan masa kini.
Menyandingkan Samurai dan Goku
Penyelenggara memilih pendekatan unik dalam tata letak pameran. Mereka memajang artefak kuno berdampingan dengan manga modern terlaris dunia seperti Dragon Ball, One Piece, dan Naruto.
Museum memajang topeng teater Noh, pakaian samurai (kamishimo), dan pedang katana tepat di sebelah gambar asli manga. Tujuannya, tata letak ini ingin mencerminkan kreativitas komik modern yang kini telah menguasai dunia.
“Ini bukan pameran buku komik seperti yang lain. Pameran ini menempatkan buku komik secara paralel dengan koleksi Guimet,” ujar Didier Pasamonik, koordinator kurator pameran.
Bahkan, pengunjung dapat melihat “dragonball” yang sesungguhnya. Pasamonik menjelaskan bahwa benda tersebut adalah patung pemberian Shogun Jepang kepada pemimpin Prancis, Napoleon III.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ini akan memungkinkan pembaca muda yang tahu Dragon Ball untuk menemukan fakta baru. Ternyata, karya itu tidak muncul begitu saja entah dari mana,” tambahnya.
Dari Hokusai hingga Louis Vuitton
Selain itu, pameran ini mengajak pengunjung menyelami asal-usul kata “manga”. Istilah ini terbentuk dari kata Jepang “man” (spontan) dan “ga” (gambar).
Sejarah mencatat pertemuan Jepang dengan Barat pada akhir abad ke-19 memicu kelahiran bentuk seni ini. Seniman Jepang mengadaptasi tradisi karikatur koran Eropa. Kemudian, mereka memadukannya dengan mitologi kaya Jepang ke dalam kamishibai, sebuah bentuk teater jalanan tradisional.
Kurator juga mendedikasikan satu ruangan penuh untuk karya seniman legendaris Katsushika Hokusai, “Great Wave off Kanagawa”. Pasamonik menyebut garis terstruktur pada karya tahun 1831 itu telah meramalkan estetika buku komik masa kini.
Tak hanya sejarah, pameran ini juga menyoroti dampak masif manga. Bounthavy Suvilay, dosen Universitas Lille, menulis dalam katalog pameran bahwa seri seperti Astro Boy dan Akira memegang peran fundamental.
Karya-karya tersebut memicu proses “Japanisasi” budaya populer Eropa. Akibatnya, tercipta komunitas penggemar transnasional yang melampaui batas bahasa.
Pengaruh ini bahkan merambah ke dunia mode tingkat tinggi. Rumah mode ternama seperti Louis Vuitton dan Gucci turut memamerkan busana yang terinspirasi dari estetika manga di museum tersebut.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















