Jepang Rombak Biaya Visa: Izin Tinggal Permanen Melonjak hingga 10 Kali Lipat

Jumat, 21 November 2025 - 12:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto, Gunung Fuji, salah satu destinasi favorit para turis di Jepang. Dok: Istimewa.

Foto, Gunung Fuji, salah satu destinasi favorit para turis di Jepang. Dok: Istimewa.

TOKYO, POSNEWS.CO.ID – Pemerintah Jepang bersiap mengambil langkah drastis dalam kebijakan imigrasinya. Mereka akan menaikkan biaya penerbitan visa dan izin tinggal bagi warga negara asing secara substansial mulai tahun fiskal mendatang.

Kebijakan baru ini muncul di tengah lonjakan jumlah warga asing di Negeri Sakura. Tujuannya jelas, Jepang ingin memanfaatkan pendapatan tambahan tersebut untuk memperkuat kebijakan multikulturalisme.

Sumber pemerintah menyebutkan angka kenaikan yang cukup mencengangkan. Khususnya, biaya untuk izin tinggal permanen (permanent residency) berpotensi meroket tajam.

Kenaikan Harga hingga 400 Persen

Rencana ini menyasar berbagai jenis layanan imigrasi. Mulanya, biaya untuk perubahan status visa atau penerbitan ulang bagi masa tinggal satu tahun atau lebih hanya sekitar 6.000 yen.

Nantinya, angka tersebut akan naik menjadi sekitar 30.000 hingga 40.000 yen. Bahkan, kenaikan lebih ekstrem terjadi pada pengajuan visa permanen.

Biaya saat ini yang hanya 10.000 yen kemungkinan besar akan melonjak hingga lebih dari 100.000 yen. Artinya, pemohon harus membayar sepuluh kali lipat dari harga semula.

Baca Juga :  Banjir Semarang 3 Korban Jiwa, 1 Hilang, BNPB Kerahkan Pesawat Pengendali Hujan

Badan Layanan Imigrasi mencatat rekor baru jumlah penduduk asing. Hingga akhir Juni, angka tersebut menyentuh 3.956.619 orang. Oleh karena itu, pemerintah merasa perlu menyesuaikan tarif layanan seiring membengkaknya beban administrasi.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menyetarakan Diri dengan Standar Barat

Perdana Menteri Sanae Takaichi telah memberikan instruksi khusus dalam pertemuan tingkat menteri awal bulan ini. Ia meminta penyesuaian biaya visa agar setara dengan negara-negara maju lainnya.

Pasalnya, biaya di Jepang saat ini tergolong sangat murah. Sebagai perbandingan, biaya izin kerja di Amerika Serikat berkisar antara 65.000 hingga 73.000 yen. Sementara di Inggris, biayanya mencapai sekitar 169.000 yen.

Akibatnya, pemerintah Jepang berencana mengajukan revisi undang-undang ke parlemen tahun depan. Mereka harus mengubah batas atas biaya 10.000 yen yang tertuang dalam aturan saat ini. Langkah ini akan menjadi revisi hukum pertama terkait kenaikan biaya sejak tahun 1981.

Baca Juga :  Buntut Komentar PM Takaichi, China Kirim Kapal ke Senkaku dan Drone Dekat Jepang

Dana untuk Integrasi dan Deportasi

Pemerintah tidak sekadar mencari untung dari kenaikan ini. Sebaliknya, mereka berjanji mengalokasikan pendapatan tersebut untuk inisiatif kebijakan terkait warga asing.

Dana segar ini akan membiayai perbaikan kondisi bagi populasi penduduk asing yang tumbuh pesat. Contohnya, pemerintah akan meningkatkan pendidikan bahasa Jepang dan mempercepat proses penyaringan imigrasi.

Di sisi lain, otoritas juga akan memperketat penegakan hukum. Mereka akan menggunakan dana tersebut untuk membiayai deportasi sekitar 70.000 penduduk ilegal yang masih bercokol di Jepang.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri juga memiliki rencana serupa untuk wisatawan. Mereka akan menaikkan biaya visa masuk (single entry) dari 3.000 yen ke level yang sebanding dengan Eropa dan AS. Pendapatan dari sektor ini akan mereka gunakan untuk menanggulangi masalah overtourism.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Perampok Bersenpi Gasak Rp 800 Juta di Tubaba Ditangkap, Otak dan Eksekutor Dibekuk
Efek Domino Sanksi Ekonomi: Menguji Teori Interdependensi Kompleks
Dilema Keamanan di Laut Natuna: Mengapa Modernisasi Alutsista Regional Tak Terelakkan?
Jaga Kekhusyukan: Cara Mengatur Screen Time Selama Bulan Suci
Tren Fashion Muslim 2026: Warna-Warna Bumi
Sisi Lain Ramadan: Kisah Para Pekerja yang Tetap Bertugas
Parkiran Minimarket Jadi Lokasi Transaksi, 18 Kg Ganja Disita Polisi di Duri Kepa
ABK Mengaku Tak Tahu Muatan Narkoba, Pigai: Hukuman Mati Tak Sejalan HAM

Berita Terkait

Sabtu, 21 Februari 2026 - 22:11 WIB

Perampok Bersenpi Gasak Rp 800 Juta di Tubaba Ditangkap, Otak dan Eksekutor Dibekuk

Sabtu, 21 Februari 2026 - 20:05 WIB

Efek Domino Sanksi Ekonomi: Menguji Teori Interdependensi Kompleks

Sabtu, 21 Februari 2026 - 19:58 WIB

Dilema Keamanan di Laut Natuna: Mengapa Modernisasi Alutsista Regional Tak Terelakkan?

Sabtu, 21 Februari 2026 - 18:48 WIB

Jaga Kekhusyukan: Cara Mengatur Screen Time Selama Bulan Suci

Sabtu, 21 Februari 2026 - 17:45 WIB

Tren Fashion Muslim 2026: Warna-Warna Bumi

Berita Terbaru

Ilustrasi, Pedang bermata dua diplomasi. Melalui kacamata Liberalisme, sanksi ekonomi bukan lagi instrumen hukuman sederhana, melainkan penguji ketangguhan jaringan interdependensi global yang rumit. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Efek Domino Sanksi Ekonomi: Menguji Teori Interdependensi Kompleks

Sabtu, 21 Feb 2026 - 20:05 WIB

Ilustrasi, Kembali ke alam. Tren busana Muslim tahun 2026 mengusung konsep kesederhanaan yang elegan melalui sentuhan warna bumi dan siluet minimalis yang mengutamakan kenyamanan fungsional. Dok: Istimewa.

NETIZEN

Tren Fashion Muslim 2026: Warna-Warna Bumi

Sabtu, 21 Feb 2026 - 17:45 WIB