JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Selama hampir satu abad, Dolar Amerika Serikat (AS) duduk nyaman di singgasana ekonomi dunia. Mata uang Paman Sam ini mendominasi cadangan devisa global dan menjadi alat tukar utama dalam perdagangan internasional.
Dunia seolah tidak punya pilihan lain. Namun, angin perubahan mulai berembus kencang dari blok negara berkembang. Kelompok BRICS (Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan) secara terbuka menantang hegemoni tersebut.
Mereka menyuarakan ambisi besar untuk menciptakan tatanan keuangan baru. Lantas, pertanyaan besar pun muncul. Apakah Dolar AS benar-benar akan runtuh, atau ini hanya gertakan politik semata?
Senjata Makan Tuan: Sanksi Pemicu Dedolarisasi
Gerakan dedolarisasi ini tidak muncul tanpa sebab. Justru, kebijakan luar negeri AS sendirilah yang menjadi pemicu utamanya. Washington kerap menggunakan Dolar sebagai senjata politik.
AS sering menjatuhkan sanksi ekonomi kepada negara lawan dengan membekukan aset Dolar mereka. Kasus Rusia dalam perang Ukraina menjadi contoh paling nyata. Seketika, negara-negara lain merasa terancam.
Mereka takut aset mereka akan bernasib sama jika suatu saat berselisih dengan AS. Oleh karena itu, keinginan untuk melepaskan diri dari ketergantungan Dolar menjadi sangat mendesak. Mereka mencari keamanan finansial yang bebas dari kendali politik Gedung Putih.
Mimpi Mata Uang Bersama vs Realitas Ekonomi
Meskipun demikian, menciptakan mata uang baru bukanlah perkara mudah. Wacana mata uang bersama BRICS menghadapi tembok tebal bernama perbedaan fundamental ekonomi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Negara anggota BRICS memiliki struktur ekonomi yang sangat timpang. Contohnya, ekonomi China jauh lebih raksasa dibandingkan Afrika Selatan atau Brasil. Menyatukan kebijakan moneter mereka dalam satu payung mata uang adalah mimpi buruk logistik.
Selain itu, mereka harus menyepakati lokasi bank sentral dan mekanisme kontrol inflasi. Eropa butuh puluhan tahun untuk melahirkan Euro. Tampaknya, BRICS masih harus menempuh jalan panjang dan terjal untuk mencapai tahap tersebut.
Solusi Jalan Tengah: Transaksi Mata Uang Lokal
Sadar akan kesulitan tersebut, BRICS mengambil langkah yang lebih realistis. Mereka tidak memaksakan mata uang tunggal dalam waktu dekat. Sebaliknya, mereka gencar mempromosikan penggunaan mata uang lokal atau Local Currency Settlement (LCS).
China dan Rusia kini berdagang minyak menggunakan Yuan dan Rubel. India pun mulai membayar impor dengan Rupee. Langkah ini efektif menggerus porsi Dolar dalam transaksi bilateral mereka.
Sistem pembayaran alternatif ini terus mereka kembangkan. Tujuannya, mereka ingin menciptakan ekosistem perdagangan yang bisa berjalan lancar tanpa perlu menyentuh sistem perbankan AS sedikit pun.
Dolar Tergerus, Tapi Belum Runtuh
Pada akhirnya, kita harus melihat realitas secara objektif. Dolar AS belum akan runtuh besok atau lusa. Likuiditas dan kepercayaan pasar terhadap Dolar masih sangat kuat dan belum tergantikan sepenuhnya.
Akan tetapi, tren dedolarisasi ini adalah sinyal peringatan yang nyata. Porsi Dolar dalam kue ekonomi global mulai tergerus perlahan namun pasti.
Dunia sedang bergerak menuju sistem multipolar. Nantinya, Dolar mungkin tidak lagi menjadi satu-satunya raja, melainkan harus berbagi takhta dengan mata uang raksasa lainnya.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia















