Hegemoni Dolar Terancam? Ambisi BRICS Menciptakan Mata Uang Baru

Kamis, 27 November 2025 - 06:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Raja uang dunia sedang digoyang! BRICS berambisi runtuhkan dominasi Dolar AS. Simak tantangan berat menciptakan mata uang pesaing dan realitas dedolarisasi. Dok: Universitas Gajah Mada.

Raja uang dunia sedang digoyang! BRICS berambisi runtuhkan dominasi Dolar AS. Simak tantangan berat menciptakan mata uang pesaing dan realitas dedolarisasi. Dok: Universitas Gajah Mada.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Selama hampir satu abad, Dolar Amerika Serikat (AS) duduk nyaman di singgasana ekonomi dunia. Mata uang Paman Sam ini mendominasi cadangan devisa global dan menjadi alat tukar utama dalam perdagangan internasional.

Dunia seolah tidak punya pilihan lain. Namun, angin perubahan mulai berembus kencang dari blok negara berkembang. Kelompok BRICS (Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan) secara terbuka menantang hegemoni tersebut.

Mereka menyuarakan ambisi besar untuk menciptakan tatanan keuangan baru. Lantas, pertanyaan besar pun muncul. Apakah Dolar AS benar-benar akan runtuh, atau ini hanya gertakan politik semata?

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Senjata Makan Tuan: Sanksi Pemicu Dedolarisasi

Gerakan dedolarisasi ini tidak muncul tanpa sebab. Justru, kebijakan luar negeri AS sendirilah yang menjadi pemicu utamanya. Washington kerap menggunakan Dolar sebagai senjata politik.

AS sering menjatuhkan sanksi ekonomi kepada negara lawan dengan membekukan aset Dolar mereka. Kasus Rusia dalam perang Ukraina menjadi contoh paling nyata. Seketika, negara-negara lain merasa terancam.

Baca Juga :  Uni Eropa Resmikan Pinjaman $105 Miliar guna Hindari Kebangkrutan Ukraina

Mereka takut aset mereka akan bernasib sama jika suatu saat berselisih dengan AS. Oleh karena itu, keinginan untuk melepaskan diri dari ketergantungan Dolar menjadi sangat mendesak. Mereka mencari keamanan finansial yang bebas dari kendali politik Gedung Putih.

Mimpi Mata Uang Bersama vs Realitas Ekonomi

Meskipun demikian, menciptakan mata uang baru bukanlah perkara mudah. Wacana mata uang bersama BRICS menghadapi tembok tebal bernama perbedaan fundamental ekonomi.

Negara anggota BRICS memiliki struktur ekonomi yang sangat timpang. Contohnya, ekonomi China jauh lebih raksasa dibandingkan Afrika Selatan atau Brasil. Menyatukan kebijakan moneter mereka dalam satu payung mata uang adalah mimpi buruk logistik.

Selain itu, mereka harus menyepakati lokasi bank sentral dan mekanisme kontrol inflasi. Eropa butuh puluhan tahun untuk melahirkan Euro. Tampaknya, BRICS masih harus menempuh jalan panjang dan terjal untuk mencapai tahap tersebut.

Solusi Jalan Tengah: Transaksi Mata Uang Lokal

Sadar akan kesulitan tersebut, BRICS mengambil langkah yang lebih realistis. Mereka tidak memaksakan mata uang tunggal dalam waktu dekat. Sebaliknya, mereka gencar mempromosikan penggunaan mata uang lokal atau Local Currency Settlement (LCS).

Baca Juga :  Ledakan Gas di Tangsel Tewaskan 1 Orang, 20 Rumah Rusak dan 7 Luka-Luka

China dan Rusia kini berdagang minyak menggunakan Yuan dan Rubel. India pun mulai membayar impor dengan Rupee. Langkah ini efektif menggerus porsi Dolar dalam transaksi bilateral mereka.

Sistem pembayaran alternatif ini terus mereka kembangkan. Tujuannya, mereka ingin menciptakan ekosistem perdagangan yang bisa berjalan lancar tanpa perlu menyentuh sistem perbankan AS sedikit pun.

Dolar Tergerus, Tapi Belum Runtuh

Pada akhirnya, kita harus melihat realitas secara objektif. Dolar AS belum akan runtuh besok atau lusa. Likuiditas dan kepercayaan pasar terhadap Dolar masih sangat kuat dan belum tergantikan sepenuhnya.

Akan tetapi, tren dedolarisasi ini adalah sinyal peringatan yang nyata. Porsi Dolar dalam kue ekonomi global mulai tergerus perlahan namun pasti.

Dunia sedang bergerak menuju sistem multipolar. Nantinya, Dolar mungkin tidak lagi menjadi satu-satunya raja, melainkan harus berbagi takhta dengan mata uang raksasa lainnya.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang
PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran
António Guterres Saksikan Langsung Horor Kekerasan Geng
Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan
Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila
Mikrofon Bocor Ungkap Obrolan Spontan Para Pemimpin Dunia
Alysa Liu dan Ilia Malinin Siap Beraksi di Skate America
Aliansi SoftBank dan OpenAI: Perangi Krisis Siber Jepang

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 16:24 WIB

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang

Rabu, 17 Juni 2026 - 14:48 WIB

António Guterres Saksikan Langsung Horor Kekerasan Geng

Rabu, 17 Juni 2026 - 13:31 WIB

Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan

Rabu, 17 Juni 2026 - 12:21 WIB

Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila

Rabu, 17 Juni 2026 - 11:12 WIB

Mikrofon Bocor Ungkap Obrolan Spontan Para Pemimpin Dunia

Berita Terbaru

Ilustrasi, Misi damai Vatikan di Asia Timur. Kardinal Lazzaro You Heung-sik menyebut Paus Leo XIV siap mengunjungi Korea Utara guna meredakan ketegangan politik regional. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang

Rabu, 17 Jun 2026 - 16:24 WIB