BANGKOK, POSNEWS.CO.ID – Surga wisata Thailand Selatan kini berubah menjadi lautan air keruh. Hujan deras yang mengguyur tanpa henti menyebabkan banjir destruktif di wilayah tersebut. Akibatnya, pemerintah resmi mengumumkan status darurat di provinsi Songkhla pada Selasa (25/11/2025).
Bencana ini telah merenggut nyawa setidaknya 13 orang di empat provinsi terdampak. Bahkan, laporan lain menyebut angka korban jiwa bisa mencapai 33 orang.
Tercatat, sekitar 1,9 juta hingga 2 juta penduduk menderita dampak langsung dari air bah ini. Ketinggian air di beberapa titik mencapai dua meter, memutus akses ribuan rumah dari dunia luar.
Kapal Induk Turun Tangan
Respons pemerintah Thailand tergolong luar biasa dalam menghadapi krisis ini. Mereka mempersiapkan pengerahan armada laut besar-besaran. Salah satunya adalah kapal induk HTMS Chakri Naruebet.
Kapal perang raksasa ini akan beralih fungsi menjadi rumah sakit apung (floating hospital). Selain itu, kapal ini mengangkut helikopter, tim medis, dan pasokan logistik vital.
Tak hanya itu, dapur umum di dalam kapal mampu memproduksi hingga 3.000 porsi makanan per hari. “Armada siap mengirimkan pasukan dan melakukan tindakan sesuai perintah Angkatan Laut,” tegas pernyataan resmi militer Thailand.
Badan Meteorologi Nasional terus membunyikan alarm bahaya. Mereka memperingatkan potensi hujan lebat lanjutan dan banjir bandang susulan. Oleh karena itu, kapal-kapal kecil dilarang melaut karena ombak bisa mencapai tiga meter.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Rekor Hujan 300 Tahun di Hat Yai
Kota Hat Yai, pusat bisnis yang berbatasan dengan Malaysia, mengalami nasib paling tragis. Kota ini mencatatkan curah hujan terberat dalam 300 tahun terakhir.
Bayangkan saja, curah hujan mencapai 335 mm hanya dalam satu hari. Seketika, jalanan berubah menjadi sungai deras yang menenggelamkan mobil dan lantai dasar bangunan.
Rekaman televisi memperlihatkan tim penyelamat berjibaku mengevakuasi warga. Mereka menggunakan jetski, perahu karet, hingga truk militer tinggi. Nahasnya, ribuan panggilan darurat membanjiri pusat penyelamatan.
Kelompok relawan Matchima Rescue Center mengaku kewalahan. “Banyak orang terjebak di lantai dua. Ada anak-anak, lansia, dan orang sakit,” tulis salah satu warga di media sosial.
Jeritan Minta Tolong di Kabel Listrik
Kisah pilu bertebaran di dunia maya. Sebuah klip viral memperlihatkan tiga bocah laki-laki nekat bergelantungan di kabel listrik. Mereka berusaha menghindari air cokelat pekat yang terus naik di bawah kaki mereka.
Sementara itu, bencana ini tidak hanya milik Thailand. Negara tetangga pun turut merasakan dampaknya. Malaysia telah mengevakuasi lebih dari 19.000 warganya. Vietnam bahkan melaporkan korban jiwa hampir mencapai 100 orang akibat badai sepekan terakhir.
Pada akhirnya, para ahli menuding perubahan iklim sebagai biang kerok utama. Pemanasan global meningkatkan frekuensi cuaca ekstrem di Asia Tenggara. Kini, jutaan warga hanya bisa berharap air segera surut sebelum persediaan makanan mereka habis total.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia
Sumber Berita: Reuters


















