Menhan AS Pete Hegseth Bangga Perintahkan Tentara Langgar Hukum

Selasa, 2 Desember 2025 - 20:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Dominasi udara atau retorika politik? Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengeklaim telah menghancurkan kekuatan militer Iran sepenuhnya, meski laporan lapangan menunjukkan serangan balasan masih berlanjut. Dok: Britannica.

Ilustrasi, Dominasi udara atau retorika politik? Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengeklaim telah menghancurkan kekuatan militer Iran sepenuhnya, meski laporan lapangan menunjukkan serangan balasan masih berlanjut. Dok: Britannica.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Gelombang kontroversi kembali menghantam Pentagon. Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, membuat pengakuan mengejutkan dalam buku terbarunya yang berjudul “The War on Warriors”.

Secara blak-blakan, Hegseth menceritakan pengalamannya saat bertugas di Irak. Ia mengaku pernah memerintahkan bawahannya untuk mengabaikan nasihat hukum militer terkait aturan pelibatan atau Rules of Engagement (ROE).

Pengakuan ini muncul di tengah sorotan tajam terhadap Hegseth. Pasalnya, ia juga sedang menghadapi tuduhan serius terkait perintah serangan “double-tap” yang menewaskan penyintas di Karibia baru-baru ini.

“Aturan Omong Kosong”

Dalam bukunya, Hegseth menumpahkan kekesalannya terhadap batasan hukum perang. Bahkan, ia mengejek pengacara militer atau Judge Advocate General (JAG) dengan sebutan kasar. Menurutnya, pengacara militer lebih sibuk menuntut pasukan sendiri daripada memenjarakan musuh.

Hegseth menceritakan satu momen spesifik saat seorang perwira JAG menjelaskan aturan main. Perwira itu melarang tentara menembak musuh yang memegang granat berpeluncur roket (RPG) jika senjata itu belum diarahkan dengan niat menembak.

Baca Juga :  Cekcok Keluarga Berujung Maut, Warga Johar Baru Tewas Dihujani Tusukan Sopir

“Kami duduk diam, tertegun,” tulis Hegseth.

Seketika, ia mengumpulkan peletonnya dan memerintahkan mereka untuk membuang aturan itu. “Saya tidak akan membiarkan omong kosong itu masuk ke otak kalian. Itu aturan omong kosong yang akan membunuh orang,” tegasnya kepada para prajurit.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Memuji Komandan “Badass”

Kontroversi tidak berhenti di situ. Hegseth juga menyuarakan kekagumannya pada Kolonel Michael Steele. Steele adalah mantan komandannya yang pernah mendapat teguran keras karena memerintahkan pembunuhan “semua laki-laki usia militer” dalam sebuah serangan di Irak tahun 2006.

Alih-alih mengecam, Hegseth justru memuji Steele sebagai “jagoan bersertifikat” (certified badass). Baginya, Steele adalah tipe pemimpin yang dibutuhkan dalam situasi tempur, bukan profesor studi gender yang “mengerikan”.

“Steele tidak mentolerir orang bodoh. Jika Anda menyerang musuh dan menghancurkannya, Anda mendapat koin penghargaan,” tulis Hegseth membanggakan metode brutal tersebut.

Pakar Hukum: Itu Kejahatan Perang

Di sisi lain, pakar hukum internasional membunyikan alarm bahaya. Prof. David M. Crane, mantan kepala jaksa pengadilan khusus PBB, menegaskan bahwa mematuhi aturan pelibatan adalah hal krusial.

Baca Juga :  HUT RI ke-80 di Jakarta, Gubernur Pramono Anung Tampil dengan Jas Demang Betawi

“Jika ada perintah ilegal yang turun ke bawah, maka mereka semua telah melakukan kejahatan perang,” jelas Crane.

Lebih lanjut, Crane memperingatkan bahwa tanggung jawab hukum bisa merambat naik hingga ke puncak rantai komando. Artinya, Presiden sebagai panglima tertinggi pun bisa terseret jika membiarkan praktik ini.

Impunitas Bagi “Warfighter”

Pada akhirnya, Hegseth menawarkan pandangan dunia yang berbahaya bagi tatanan hukum internasional. Ia berpendapat bahwa tentara harus mendapatkan impunitas atau “keraguan yang menguntungkan” (benefit of the doubt).

Baginya, kemenangan perang lebih penting daripada apa yang dunia pikirkan tentang aturan mainnya. “Persetan dengan apa yang dipikirkan negara lain,” tulisnya. Sikap ini mempertegas posisi Hegseth yang lebih memilih loyalitas pada petarung (warfighter) daripada kepatuhan pada Konvensi Jenewa.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Sumber Berita: The Guardian

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menantu Otak Pembunuhan Mertua di Pekanbaru, Korban Dipukul Balok hingga Tewas
Tiga Geng Motor Ditangkap Usai Tawuran Bersenjata Tajam di Bogor
PM Sanae Takaichi Perkuat Aliansi Energi dan Keamanan di Vietnam
Imam Masjid di Palopo Bonyok Dikeroyok OTK Usai Tegur Bocah Main Mikrofon
Pembunuhan Bocah Aborigin Picu Kerusuhan Massa dan Aksi Main Hakim Sendiri
Warung Sembako di Kalideres Ternyata Jual Obat Keras Ilegal, 2 Pengedar Ditangkap
Raul Castro Pimpin Longmarch Hari Buruh di Tengah Blokade Minyak AS
Kasus Kecelakaan Kereta di Bekasi Naik Penyidikan, Polisi Periksa Green SM Besok

Berita Terkait

Minggu, 3 Mei 2026 - 18:07 WIB

Menantu Otak Pembunuhan Mertua di Pekanbaru, Korban Dipukul Balok hingga Tewas

Minggu, 3 Mei 2026 - 17:52 WIB

Tiga Geng Motor Ditangkap Usai Tawuran Bersenjata Tajam di Bogor

Minggu, 3 Mei 2026 - 16:24 WIB

PM Sanae Takaichi Perkuat Aliansi Energi dan Keamanan di Vietnam

Minggu, 3 Mei 2026 - 15:35 WIB

Imam Masjid di Palopo Bonyok Dikeroyok OTK Usai Tegur Bocah Main Mikrofon

Minggu, 3 Mei 2026 - 15:21 WIB

Pembunuhan Bocah Aborigin Picu Kerusuhan Massa dan Aksi Main Hakim Sendiri

Berita Terbaru

Menjaga stabilitas kawasan. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengumumkan evolusi strategi Indo-Pasifik di Hanoi. Ia menjanjikan dukungan finansial besar untuk ketahanan energi dan keamanan maritim guna menghadapi agresivitas China. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

PM Sanae Takaichi Perkuat Aliansi Energi dan Keamanan di Vietnam

Minggu, 3 Mei 2026 - 16:24 WIB