JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Indonesia terletak strategis tepat di garis khatulistiwa. Matahari bersinar terik sepanjang tahun tanpa henti di negeri ini. Namun, sebuah ironi kesehatan yang besar sedang terjadi secara diam-diam.
Jutaan orang Indonesia justru menderita kekurangan atau defisiensi Vitamin D. Padahal, sumber utama vitamin ini tersedia gratis di langit setiap hari. Kita ibarat tikus mati di lumbung padi. Kita kelaparan nutrisi di tengah limpahan sumber daya alam.
“Phobia” Matahari dan Gaya Hidup Indoor
Mengapa anomali ini bisa terjadi? Penyebab utamanya adalah perubahan gaya hidup modern yang drastis. Masyarakat urban kini menghabiskan sebagian besar waktu mereka di dalam ruangan ber-AC.
Kita berangkat kerja saat matahari belum tinggi, dan pulang saat matahari sudah terbenam. Akibatnya, kulit kita sangat jarang menyentuh sinar matahari langsung.
Selain itu, ada faktor budaya dan estetika. Banyak orang Indonesia memiliki obsesi terhadap kulit putih. Lantas, mereka menghindari matahari seolah itu adalah musuh.
Mereka menggunakan payung, pakaian tertutup rapat, atau mengoleskan tabir surya (sunscreen) dengan SPF tinggi secara berlebihan. Sayangnya, tabir surya memblokir sinar UV-B. Padahal, tubuh membutuhkan sinar jenis ini untuk memproduksi Vitamin D secara alami.
Polusi: Tembok Tak Kasat Mata
Faktor lingkungan juga turut memperparah situasi. Khususnya bagi warga Jakarta dan kota besar lainnya, polusi udara menjadi penghalang serius.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Partikel polutan di atmosfer bertindak seperti perisai raksasa. Imbasnya, partikel ini memantulkan dan menyerap sinar UV-B sebelum mencapai permukaan bumi. Sinar matahari yang sampai ke kulit kita sudah kehilangan “potensinya” untuk memicu produksi vitamin.
Lebih dari Sekadar Tulang Kuat
Kita sering menganggap Vitamin D hanya penting untuk mencegah pengeroposan tulang. Sebenarnya, peran nutrisi ini jauh lebih luas dan vital.
Vitamin D adalah kunci utama sistem kekebalan tubuh. Ia bertindak sebagai komandan yang mengatur respon imun melawan virus dan bakteri.
Bahkan, penelitian terbaru menunjukkan kaitan erat dengan kesehatan mental. Reseptor Vitamin D terdapat di area otak yang mengatur emosi. Oleh karena itu, kekurangan vitamin ini sering berkaitan dengan risiko depresi, gangguan kecemasan, dan kelelahan kronis.
Sinyal SOS Tubuh: Rambut Rontok hingga Lelah
Tubuh biasanya mengirimkan sinyal “SOS” saat level vitamin ini anjlok. Biasanya, seseorang akan merasa mudah lelah padahal sudah cukup tidur. Nyeri tulang dan pegal otot sering muncul secara misterius.
Selanjutnya, tanda fisik lain sering terlihat. Rambut rontok parah, luka yang sulit sembuh, atau sering jatuh sakit adalah indikator kuat. Jika Anda sering mengalami mood swing tanpa sebab, bisa jadi level Vitamin D Anda sedang kritis.
Berdamai dengan Matahari
Pada akhirnya, kita harus mengubah pola pikir. Matahari adalah teman, bukan lawan. Kita perlu melakukan aktivitas berjemur yang cerdas.
Waktu terbaik masih menjadi perdebatan, tetapi banyak ahli menyarankan paparan singkat saat indeks UV sedang sedang (sekitar pukul 09.00-10.00 atau 15.00 sore).
Cukup luangkan waktu 10 hingga 15 menit saja. Biarkan kulit lengan dan kaki terpapar langsung tanpa penghalang. Maka, manfaatkanlah kekayaan alam tropis kita. Ingatlah, matahari adalah dokter gratis terbaik yang alam sediakan untuk menjaga kewarasan dan kesehatan tubuh kita.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















