WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Amerika Serikat (AS) akhirnya memecah kebisuan. Washington melontarkan kritik tajam kepada China terkait insiden provokatif di perairan Asia Timur. Tepatnya, AS menyoroti tindakan jet tempur China yang mengarahkan radar ke pesawat militer Jepang pekan lalu.
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS menegaskan posisi Washington pada Selasa malam (09/12/2025). Menurutnya, perilaku agresif Beijing tersebut tidak kondusif bagi perdamaian dan stabilitas regional.
“Aliansi AS-Jepang lebih kuat dan lebih bersatu dari sebelumnya. Komitmen kami terhadap sekutu kami Jepang tidak tergoyahkan,” tegas juru bicara tersebut.
Pernyataan ini muncul di tengah situasi genting. Pasalnya, hubungan Jepang dan China sedang berada di titik nadir setelah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi melontarkan komentar kontroversial soal Taiwan bulan lalu.
Saling Bantah: Siapa yang Memulai?
Insiden radar di dekat kepulauan Okinawa ini menjadi gesekan paling serius dalam beberapa tahun terakhir. Mengarahkan radar pengendali tembakan (fire-control radar) adalah sinyal serangan yang memaksa pilot melakukan manuver menghindar.
Menteri Pertahanan Jepang, Shinjiro Koizumi, membantah laporan media China. Ia menegaskan bahwa jet tempur Jepang tidak mengarahkan balik radar ke jet China dalam insiden Sabtu lalu.
“Terlepas dari pemberitahuan latihan, wajar bagi Jepang untuk mengerahkan jet sebagai bagian dari tindakan pertahanan udara,” jelas Koizumi kepada wartawan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebaliknya, Beijing bersikeras pada narasinya. Mereka menuduh pesawat Jepang berulang kali mendekati dan mengganggu Angkatan Laut China yang sedang melakukan latihan penerbangan di timur Selat Miyako.
Taiwan: “Perdamaian Itu Tak Ternilai”
Presiden Taiwan, Lai Ching-te, turut angkat bicara dari Taipei. Ia menyebut latihan militer China sebagai “perilaku yang sangat tidak pantas”.
Lai mendesak China untuk menunjukkan tanggung jawab selayaknya negara besar. “Perdamaian itu tak ternilai; perang tidak ada pemenangnya,” ujar Lai, Rabu (10/12/2025).
China mengklaim Taiwan yang demokratis sebagai wilayahnya. Bahkan, Beijing tidak menutup kemungkinan menggunakan kekuatan militer untuk mengambil alih pulau yang berjarak hanya 100 km dari wilayah Jepang tersebut.
Diplomasi Telepon Trump
Di balik layar, dinamika politik tingkat tinggi terus bergulir. Duta Besar AS untuk Jepang, George Glass, aktif menyuarakan dukungan di media sosial.
Namun, Presiden Donald Trump memilih pendekatan berbeda. Meskipun berencana mengunjungi Beijing tahun depan untuk pembicaraan dagang, Trump dilaporkan telah menelepon PM Takaichi bulan lalu.
Sumber Reuters menyebutkan bahwa Trump mendesak Takaichi untuk tidak memperburuk perselisihan. Tampaknya, Washington berusaha menyeimbangkan dukungan aliansi dengan kepentingan stabilitas ekonomi global.
Kini, Jepang tetap siaga satu. Mereka kembali mengerahkan jet tempur pada Selasa malam untuk memantau patroli gabungan angkatan udara Rusia dan China yang mengelilingi wilayah negara tersebut.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















