Fenomena BookTok, Video Pendek Menyelamatkan Toko Buku

Sabtu, 13 Desember 2025 - 20:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Industri buku cetak bangkit dari kubur! Bukan karena kritikus sastra, tapi karena video viral di TikTok. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Industri buku cetak bangkit dari kubur! Bukan karena kritikus sastra, tapi karena video viral di TikTok. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Beberapa tahun lalu, para pengamat memprediksi kematian industri buku cetak. Mereka yakin buku elektronik (e-book) dan gawai akan membunuh toko buku fisik. Namun, prediksi tersebut meleset total.

Penyelamat industri ini datang dari tempat yang paling tidak terduga. Bukan dari perpustakaan sunyi atau ulasan koran bergengsi, melainkan dari aplikasi video pendek yang berisik: TikTok.

Sebuah sudut kecil di internet bernama “BookTok” telah mengubah segalanya. Tagar ini telah mengumpulkan miliaran penonton. Seketika, novel-novel fisik kembali menjadi barang buruan panas di kalangan anak muda Gen Z.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Marketing Air Mata: Emosi di Atas Analisis

Cara orang merekomendasikan buku telah berubah drastis. Dulu, ulasan buku berfokus pada analisis plot, gaya bahasa, atau metafora sastra yang rumit.

Kini, BookTok menawarkan pendekatan yang jauh lebih visceral. Kreator konten merekam diri mereka sendiri yang sedang menangis tersedu-sedu setelah membaca bab terakhir sebuah novel.

Baca Juga :  Selebriti Lawan Deepfake AI dengan Hukum Trademark

Mereka melempar buku ke kasur karena frustrasi atau memeluknya erat sambil tersenyum. Lantas, reaksi emosional yang mentah inilah yang memicu viralitas. Penonton tidak peduli dengan teknik penulisan. Sebaliknya, mereka hanya ingin merasakan gejolak emosi yang sama.

Colleen Hoover dan Trope “Enemies to Lovers”

Dampak fenomena ini pada angka penjualan sungguh ajaib. Penulis lama yang bukunya sempat “tidur” di rak, tiba-tiba menjadi best-seller global. Colleen Hoover adalah contoh paling nyata.

Novelnya yang rilis tahun 2016, It Ends with Us, meledak kembali bertahun-tahun kemudian berkat algoritma TikTok. Akibatnya, penerbit kewalahan mencetak ulang buku tersebut demi memenuhi permintaan pasar.

Selain itu, BookTok mengubah cara pembaca mencari buku. Mereka tidak lagi mencari berdasarkan genre luas seperti “romansa”.

Justru, mereka mencari berdasarkan trope atau pola cerita spesifik. Istilah seperti “enemies to lovers” (musuh jadi cinta) atau “fake dating” (pacaran pura-pura) kini menjadi kata kunci utama dalam pemasaran buku.

Baca Juga :  Kontak Tembak di Papua! Buronan KKB Dilumpuhkan Saat Melawan Aparat

Literasi atau Sekadar Estetika?

Meskipun demikian, tren ini tidak lepas dari kritik pedas. Kaum puritan sastra sering kali memandang sebelah mata. Mereka menuduh BookTok hanya mempromosikan buku-buku pop yang “ringan” dan kurang berbobot.

Kritik lain menyasar pada aspek konsumerisme. Banyak pengguna membeli buku hanya demi estetika sampul (cover) yang cantik. Tujuannya, agar buku itu terlihat bagus saat mereka pajang di rak video mereka.

Pertanyaannya, apakah mereka benar-benar membacanya? Fenomena tsundoku (menumpuk buku tanpa membacanya) tampaknya semakin subur di era ini.

Penyelamat di Era Digital

Pada akhirnya, kita tidak bisa menyangkal dampak positifnya. Toko buku yang dulu sepi kini kembali ramai oleh remaja. Mereka antusias mendiskusikan karakter fiksi favorit mereka.

BookTok berhasil membuat kegiatan membaca terlihat “keren” kembali. Maka, terlepas dari motifnya, aplikasi video pendek ini telah melakukan jasa besar. Ia membuktikan bahwa di dunia yang serba digital, kita masih merindukan aroma kertas dan kisah yang menyentuh hati.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang
PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran
António Guterres Saksikan Langsung Horor Kekerasan Geng
Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan
Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila
Mikrofon Bocor Ungkap Obrolan Spontan Para Pemimpin Dunia
Alysa Liu dan Ilia Malinin Siap Beraksi di Skate America
Aliansi SoftBank dan OpenAI: Perangi Krisis Siber Jepang

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 16:24 WIB

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang

Rabu, 17 Juni 2026 - 14:48 WIB

António Guterres Saksikan Langsung Horor Kekerasan Geng

Rabu, 17 Juni 2026 - 13:31 WIB

Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan

Rabu, 17 Juni 2026 - 12:21 WIB

Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila

Rabu, 17 Juni 2026 - 11:12 WIB

Mikrofon Bocor Ungkap Obrolan Spontan Para Pemimpin Dunia

Berita Terbaru

Ilustrasi, Misi damai Vatikan di Asia Timur. Kardinal Lazzaro You Heung-sik menyebut Paus Leo XIV siap mengunjungi Korea Utara guna meredakan ketegangan politik regional. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang

Rabu, 17 Jun 2026 - 16:24 WIB