CARACAS,  POSNEWS.CO.ID – Tekanan Amerika Serikat (AS) terhadap Venezuela mencapai puncaknya. Presiden Donald Trump mengeluarkan perintah mengejutkan pada Selasa malam (16/12/2025).
Melalui platform media sosialnya, Trump mengumumkan blokade laut yang agresif. “Hari ini, saya memerintahkan BLOKADE TOTAL DAN LENGKAP terhadap SEMUA TANKER MINYAK SANKSI yang masuk dan keluar dari Venezuela,” tulisnya dengan huruf kapital.
Langkah ini menandai eskalasi kampanye militer AS yang belum pernah terjadi sebelumnya di kawasan tersebut. Sebelumnya, Washington telah mengerahkan ribuan tentara dan belasan kapal perang, termasuk kapal induk, ke Laut Karibia dan Pasifik.
Armada Terbesar dalam Sejarah
Trump membanggakan kekuatan militernya. Ia menyebut Venezuela kini dikepung oleh “armada terbesar yang pernah berkumpul dalam Sejarah Amerika Selatan”.
“Kejutan bagi mereka akan seperti yang belum pernah mereka lihat sebelumnya,” ancam Trump.
Washington menuduh rezim Nicolas Maduro menggunakan pendapatan minyak untuk mendanai perdagangan narkoba dan kejahatan lainnya. Oleh karena itu, Trump bersumpah akan terus meningkatkan tekanan militer hingga Maduro menyerah.
Bahkan, Kepala Staf Gedung Putih Susie Wiles mengonfirmasi tujuan akhir operasi ini. “Trump ingin terus meledakkan kapal sampai Maduro menyerah (cries uncle),” ujarnya dalam wawancara dengan Vanity Fair.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Maduro: “Mereka Ingin Menjajah Kita”
Presiden Nicolas Maduro merespons dengan retorika berapi-api. Ia menuduh “imperialis dan sayap kanan fasis” ingin menjajah Venezuela demi menguasai kekayaan alamnya.
“Mereka ingin mengambil alih kekayaan minyak, gas, emas, dan mineral lainnya,” seru Maduro di hadapan pendukungnya. Namun, ia bersumpah akan mempertahankan tanah airnya. “Di Venezuela, perdamaian akan menang.”
Pemerintah Venezuela secara resmi menolak perintah blokade tersebut. Mereka menyebutnya sebagai “ancaman yang mengerikan” (grotesque threat) dan upaya irasional untuk mencuri kekayaan negara.
Kritik Kongres: “Ini Tindakan Perang”
Di dalam negeri AS, langkah Trump menuai kritik tajam. Anggota Kongres dari Partai Demokrat, Joaquin Castro, menyebut blokade ini sebagai tindakan inkonstitusional.
“Ini tidak diragukan lagi adalah tindakan perang (act of war). Perang yang tidak pernah diizinkan Kongres dan tidak diinginkan rakyat Amerika,” kritik Castro.
Sementara itu, pasar minyak dunia mulai bereaksi. Harga minyak merangkak naik karena antisipasi pengurangan pasokan. Jika blokade ini bertahan lama, pasar global bisa kehilangan pasokan hampir satu juta barel minyak mentah per hari.
Serangan Mematikan Berlanjut
Situasi di lapangan semakin mencekam. Pentagon melaporkan serangan baru terhadap tiga kapal yang dituduh menyelundupkan narkoba di Pasifik pada Selasa, menewaskan delapan orang.
Tercatat, sejak 2 September, lebih dari 20 serangan udara AS telah menewaskan sedikitnya 95 orang. Meskipun Gedung Putih mengklaim sukses mencegah narkoba, banyak pihak mempertanyakan legalitas dan moralitas operasi militer yang mematikan ini.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















