Teori Hijau: Siapa yang Sebenarnya Memiliki Udara?

Minggu, 21 Desember 2025 - 10:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Asap pabrik tak butuh paspor. Teori Hijau menggugat batas negara yang kaku demi keselamatan bumi. Dok: Istimewa.

Asap pabrik tak butuh paspor. Teori Hijau menggugat batas negara yang kaku demi keselamatan bumi. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Peta dunia di dinding kelas menampilkan garis-garis tegas yang memisahkan satu negara dengan negara lain. Kita menyebutnya perbatasan. Namun, jika kita melihat ke langit, garis itu tidak ada.

Awan, angin, dan racun karbon bergerak bebas tanpa paspor. Hubungan Internasional tradisional selama ini terlalu terobsesi pada negara (state-centric). Mereka menganggap negara adalah aktor tunggal yang berdaulat penuh atas wilayahnya.

Akan tetapi, krisis iklim datang dan menampar arogansi tersebut. Teori Hijau (Green Theory) muncul untuk menggugat. Pertanyaannya, siapa yang sebenarnya memiliki udara, laut, dan hutan jika kerusakan di satu tempat bisa membunuh orang di belahan bumi lain?

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tragedi Kepemilikan Bersama

Teori Hijau menyoroti masalah pelik yang bernama “Tragedi Kepemilikan Bersama” (Global Commons). Atmosfer bumi adalah milik kita semua. Sayangnya, tidak ada otoritas tunggal yang menjaganya.

Masalah polusi lintas batas menjadi bukti nyata. Bayangkan, sebuah pabrik di negara A membakar batu bara demi pertumbuhan ekonominya. Lantas, asap racunnya tertiup angin dan merusak paru-paru penduduk di negara B.

Baca Juga :  Presiden Prabowo Ungkap Korupsi di Semua Lini Pemerintahan & Pesan Tegas Soal UUD 1945

Negara A mungkin berdalih atas nama kedaulatan ekonomi. Namun, negara B menderita tanpa bisa berbuat banyak. Dalam kasus ini, kedaulatan negara A telah melanggar hak hidup warga negara B. Batas politik menjadi tidak relevan di hadapan hukum fisika atmosfer.

Keadilan Iklim: Siapa yang Bayar?

Perdebatan kian memanas saat menyentuh isu uang dan tanggung jawab. Kita mengenalnya sebagai isu Keadilan Lingkungan (Environmental Justice).

Negara-negara maju (Utara) telah melakukan industrialisasi selama ratusan tahun. Mereka menjadi kaya dengan memompa karbon ke langit sejak abad ke-18. Kini, mereka mendesak negara berkembang (Selatan) untuk berhenti menggunakan energi kotor.

Negara berkembang tentu protes keras. Mereka merasa tidak adil. “Kalian yang berpesta, mengapa kami yang harus mencuci piringnya?”

Oleh karena itu, Teori Hijau menuntut prinsip “tanggung jawab bersama namun berbeda”. Negara maju, sebagai pencemar historis, wajib membayar biaya transisi energi negara miskin. Kedaulatan tidak boleh menjadi alasan untuk lari dari utang ekologis masa lalu.

Baca Juga :  Banjir Jakarta Hingga Sore: 115 RT dan 16 Jalan Tergenang, Air Capai 1,8 Meter

Redefinisi Kedaulatan: Hak Asasi atau Hak Alam?

Gagasan paling radikal dari teori ini adalah redefinisi kedaulatan itu sendiri. Dulu, kedaulatan berarti negara bebas melakukan apa saja di dalam wilayahnya.

Kini, pandangan itu berubah. Merusak lingkungan secara masif (ecocide) mulai dianggap sebagai kejahatan kemanusiaan. Jika sebuah negara membakar hutannya hingga menyebabkan krisis iklim global, komunitas internasional berhak melakukan intervensi.

Kedaulatan bukan lagi hak mutlak. Sebaliknya, kedaulatan adalah sebuah tanggung jawab (responsibility). Pemerintah wajib melindungi warganya—dan warga dunia—dari bencana ekologis. Jika gagal, legitimasi kedaulatan mereka patut kita pertanyakan.

Pada akhirnya, kita membutuhkan sistem baru. Tata kelola global yang berpusat pada negara (state-centric) sudah usang dan gagal.

Kita harus beralih ke pandangan Ecocentric. Artinya, ekosistem bumi harus menjadi pusat pertimbangan politik, bukan sekadar kepentingan nasional sempit.

Politik harus tunduk pada batasan alam, bukan sebaliknya. Ingatlah, alam tidak bernegosiasi. Jika kita tidak segera menghapus garis-garis imajiner di peta politik dan bekerja sebagai satu spesies, alam akan menghapus kita semua tanpa pandang bulu.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang
Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap
Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa
Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar
Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang
Home Industry Vape THC di Bali Terbongkar, Omzet Diduga Capai Rp300 Miliar
TPA Jatiwaringin Tangerang Terbakar 15 Hektare, BNPB: 40 Persen Api Sudah Padam
Satgas Ungkap KKB Bakusip Diduga Dalang Pembakaran Pesawat PT AMA

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 20:17 WIB

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:13 WIB

Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap

Senin, 6 Juli 2026 - 05:24 WIB

Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa

Minggu, 5 Juli 2026 - 20:09 WIB

Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar

Minggu, 5 Juli 2026 - 19:56 WIB

Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang

Berita Terbaru

Langkah taktis dua raksasa ekonomi. Intervensi gabungan otoritas keuangan Jepang dan Amerika Serikat mendongkrak nilai tukar yen hingga level 157 per dolar AS. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Mata Uang Yen Melesat Tajam Sentuh Level 157 Per Dolar

Minggu, 2 Agu 2026 - 06:18 WIB