JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Sejarah memiliki kebiasaan buruk untuk mengulang dirinya sendiri. Lebih dari 2.000 tahun lalu, sejarawan Yunani Thucydides mencatat penyebab utama Perang Peloponnesos yang menghancurkan Yunani kuno.
“Adalah bangkitnya Athena dan ketakutan yang hal itu timbulkan di Sparta yang membuat perang tak terelakkan,” tulisnya. Kini, pola mematikan itu kembali menghantui hubungan dua raksasa modern: Amerika Serikat (AS) dan China.
Profesor Harvard, Graham Allison, mempopulerkan fenomena ini sebagai “Jebakan Thucydides”. Intinya, ketika sebuah kekuatan yang sedang bangkit (China) mengancam posisi kekuatan yang sudah mapan (AS), perang sering kali menjadi hasil akhirnya.
Rimba Anarki dan Realisme Ofensif
Mengapa negara besar sulit hidup berdampingan dengan damai? John Mearsheimer, tokoh utama teori Realisme Ofensif, punya jawaban yang suram.
Menurutnya, sistem internasional adalah sebuah rimba anarki. Tidak ada “polisi dunia” yang bisa menjamin keselamatan sebuah negara. Oleh karena itu, satu-satunya cara negara bertahan hidup adalah dengan memaksimalkan kekuatan mereka sendiri.
Negara tidak pernah puas dengan status quo. Justru, mereka akan terus berekspansi sampai menjadi hegemon regional. China ingin mengusir dominasi AS dari Asia, persis seperti AS mengusir kekuatan Eropa dari belahan bumi barat pada abad ke-19. Bagi Mearsheimer, konflik ini adalah konsekuensi logis dari struktur kekuasaan dunia.
Lingkaran Setan “Dilema Keamanan”
Ambisi saling mendominasi ini memicu mekanisme fatal bernama “Dilema Keamanan”. Bayangkan, China membangun kapal induk dan pangkalan militer untuk melindungi jalur dagangnya. Niat mereka mungkin defensif.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, Washington melihat langkah itu sebagai persiapan invasi atau agresi. Akibatnya, AS merespons dengan mengirim armada tempur ke Pasifik dan memperkuat aliansi militer.
Lantas, Beijing merasa terancam dan terkepung. Mereka pun meningkatkan anggaran militernya lagi secara drastis. Akhirnya, terciptalah perlombaan senjata yang tidak berujung. Kedua pihak merasa makin tidak aman justru saat mereka berusaha memperkuat keamanan masing-masing.
Titik Api: Taiwan dan Laut China Selatan
Teori ini menemukan bukti nyata di lapangan. Laut China Selatan dan Taiwan menjadi titik api paling panas yang siap meledak kapan saja.
Beijing mengklaim kedaulatan penuh atas Taiwan sebagai “kepentingan inti”. Sebaliknya, AS berkepentingan menjaga pulau itu tetap dalam orbit demokrasi Barat dan rantai pasok teknologi global.
Jika salah perhitungan sedikit saja terjadi di Selat Taiwan, perang terbuka bukan lagi sekadar teori di atas kertas. Insiden tabrakan kapal atau pesawat bisa menjadi pemicu “Momen Sarajevo” abad ke-21.
Bisakah Diplomasi Mengalahkan Takdir?
Pada akhirnya, apakah perang benar-benar tak terelakkan? Kaum realis struktural mungkin berkata “ya” dengan pesimis.
Akan tetapi, nasib manusia tidak sepenuhnya ditentukan oleh struktur kaku. Kita bukan Sparta dan Athena. Keberadaan senjata nuklir menjadi faktor pembeda (deterren) yang memaksa kedua raksasa ini berpikir seribu kali sebelum menarik pelatuk.
Diplomasi masih memiliki ruang gerak untuk membelokkan sejarah. Maka, tantangan terbesar para pemimpin hari ini adalah membuktikan bahwa Thucydides salah. Mereka harus menemukan cara untuk berbagi kekuasaan tanpa harus saling menghancurkan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia















