The Thucydides Trap: Perang Amerika vs China Tak Terelakkan

Jumat, 19 Desember 2025 - 05:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sejarah berulang? Ketakutan AS pada kebangkitan China mirip Sparta takut pada Athena. Simak analisis

Sejarah berulang? Ketakutan AS pada kebangkitan China mirip Sparta takut pada Athena. Simak analisis "Jebakan Thucydides" yang memprediksi perang besar. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Sejarah memiliki kebiasaan buruk untuk mengulang dirinya sendiri. Lebih dari 2.000 tahun lalu, sejarawan Yunani Thucydides mencatat penyebab utama Perang Peloponnesos yang menghancurkan Yunani kuno.

“Adalah bangkitnya Athena dan ketakutan yang hal itu timbulkan di Sparta yang membuat perang tak terelakkan,” tulisnya. Kini, pola mematikan itu kembali menghantui hubungan dua raksasa modern: Amerika Serikat (AS) dan China.

Profesor Harvard, Graham Allison, mempopulerkan fenomena ini sebagai “Jebakan Thucydides”. Intinya, ketika sebuah kekuatan yang sedang bangkit (China) mengancam posisi kekuatan yang sudah mapan (AS), perang sering kali menjadi hasil akhirnya.

Rimba Anarki dan Realisme Ofensif

Mengapa negara besar sulit hidup berdampingan dengan damai? John Mearsheimer, tokoh utama teori Realisme Ofensif, punya jawaban yang suram.

Menurutnya, sistem internasional adalah sebuah rimba anarki. Tidak ada “polisi dunia” yang bisa menjamin keselamatan sebuah negara. Oleh karena itu, satu-satunya cara negara bertahan hidup adalah dengan memaksimalkan kekuatan mereka sendiri.

Negara tidak pernah puas dengan status quo. Justru, mereka akan terus berekspansi sampai menjadi hegemon regional. China ingin mengusir dominasi AS dari Asia, persis seperti AS mengusir kekuatan Eropa dari belahan bumi barat pada abad ke-19. Bagi Mearsheimer, konflik ini adalah konsekuensi logis dari struktur kekuasaan dunia.

Baca Juga :  118 Ribu Warga Mengungsi di Tengah Gempuran Udara Pakistan-Afghanistan

Lingkaran Setan “Dilema Keamanan”

Ambisi saling mendominasi ini memicu mekanisme fatal bernama “Dilema Keamanan”. Bayangkan, China membangun kapal induk dan pangkalan militer untuk melindungi jalur dagangnya. Niat mereka mungkin defensif.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, Washington melihat langkah itu sebagai persiapan invasi atau agresi. Akibatnya, AS merespons dengan mengirim armada tempur ke Pasifik dan memperkuat aliansi militer.

Lantas, Beijing merasa terancam dan terkepung. Mereka pun meningkatkan anggaran militernya lagi secara drastis. Akhirnya, terciptalah perlombaan senjata yang tidak berujung. Kedua pihak merasa makin tidak aman justru saat mereka berusaha memperkuat keamanan masing-masing.

Titik Api: Taiwan dan Laut China Selatan

Teori ini menemukan bukti nyata di lapangan. Laut China Selatan dan Taiwan menjadi titik api paling panas yang siap meledak kapan saja.

Baca Juga :  BNPB Operasi Modifikasi Cuaca di Jabodetabek Selama 5 Hari, Cegah Banjir dan Cuaca Ekstrem

Beijing mengklaim kedaulatan penuh atas Taiwan sebagai “kepentingan inti”. Sebaliknya, AS berkepentingan menjaga pulau itu tetap dalam orbit demokrasi Barat dan rantai pasok teknologi global.

Jika salah perhitungan sedikit saja terjadi di Selat Taiwan, perang terbuka bukan lagi sekadar teori di atas kertas. Insiden tabrakan kapal atau pesawat bisa menjadi pemicu “Momen Sarajevo” abad ke-21.

Bisakah Diplomasi Mengalahkan Takdir?

Pada akhirnya, apakah perang benar-benar tak terelakkan? Kaum realis struktural mungkin berkata “ya” dengan pesimis.

Akan tetapi, nasib manusia tidak sepenuhnya ditentukan oleh struktur kaku. Kita bukan Sparta dan Athena. Keberadaan senjata nuklir menjadi faktor pembeda (deterren) yang memaksa kedua raksasa ini berpikir seribu kali sebelum menarik pelatuk.

Diplomasi masih memiliki ruang gerak untuk membelokkan sejarah. Maka, tantangan terbesar para pemimpin hari ini adalah membuktikan bahwa Thucydides salah. Mereka harus menemukan cara untuk berbagi kekuasaan tanpa harus saling menghancurkan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

150 Massa Bertopeng Bikin Ricuh May Day Bandung, Polisi Buru Pelaku
May Day Bandung Ricuh, Massa Bakar Videotron dan Pos Polisi di Dago
Heboh May Day 2026: Polda Metro Jaya Tangkap 101 Orang, Sita Bom Molotov
Ukraina Siap Berbagi Keahlian Drone Tempur dengan Jepang
BMKG Prediksi Hujan Guyur Jakarta dan Kota Besar Indonesia Sabtu 2 Mei 2026
Mesin Mati di Perlintasan, Mobil Antar Calon Haji Dihantam Kereta, 4 Orang Tewas
Satgas PHK Resmi Jalan, Dasco: Buruh Bisa Laporkan Upah hingga Ancaman PHK
Libur Panjang May Day, Contraflow Tol Jakarta-Cikampek Diperpanjang hingga KM 47–65

Berita Terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:36 WIB

150 Massa Bertopeng Bikin Ricuh May Day Bandung, Polisi Buru Pelaku

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:20 WIB

May Day Bandung Ricuh, Massa Bakar Videotron dan Pos Polisi di Dago

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:07 WIB

Heboh May Day 2026: Polda Metro Jaya Tangkap 101 Orang, Sita Bom Molotov

Sabtu, 2 Mei 2026 - 06:33 WIB

Ukraina Siap Berbagi Keahlian Drone Tempur dengan Jepang

Sabtu, 2 Mei 2026 - 06:18 WIB

BMKG Prediksi Hujan Guyur Jakarta dan Kota Besar Indonesia Sabtu 2 Mei 2026

Berita Terbaru

Alun-alun teknologi militer. Ukraina menawarkan kerja sama sistem nirawak dan pengalaman medan tempur kepada Jepang guna memperkuat pertahanan Tokyo di tengah perubahan peta keamanan Asia-Pasifik. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Ukraina Siap Berbagi Keahlian Drone Tempur dengan Jepang

Sabtu, 2 Mei 2026 - 06:33 WIB