LONDON, POSNEWS.CO.ID – Perdana Menteri baru Inggris Andy Burnham resmi memulai masa tugas pada hari Senin kemarin. Oleh karena itu, ia menjanjikan rencana kerja sepuluh tahun untuk memulihkan stabilitas politik. Selain itu, ia juga berkomitmen membangkitkan kembali sektor perekonomian nasional yang lesu. Bahkan, Burnham secara jujur mengakui kegagalan enam pemimpin sebelumnya dalam satu dekade terakhir.
Visi Desentralisasi dan Pengendalian Publik
Selanjutnya, Burnham menyampaikan pidato perdana di depan kantor Downing Street. Momen penting ini berlangsung setelah Raja Charles III melantik dirinya secara resmi di istana. Ia berjanji akan meringankan beban biaya hidup masyarakat kelas bawah. Oleh sebab itu, pemimpin baru ini akan melakukan desentralisasi kekuasaan politik secara masif. Ia berkomitmen mengembalikan kendali fasilitas publik langsung ke tangan rakyat.
Sebaliknya, Burnham ingin memperbaiki kerusakan sistem tata kelola negara sejak era 1980-an. Ia menilai privatisasi layanan umum selama ini hanya menyengsarakan warga negara. “Kami akan memindahkan kekuasaan ke setiap sudut wilayah,” tegasnya di depan jurnalis. Langkah taktis ini bertujuan membangun pondasi ekonomi baru yang jauh lebih adil.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kejutan Susunan Kabinet Baru Burnham
Sementara itu, tugas pertama Burnham meliputi pembentukan jajaran kabinet menteri baru. Ia mengejutkan banyak pihak dengan menunjuk John Healey sebagai Menteri Keuangan. Padahal, Healey sebelumnya menjabat sebagai menteri pertahanan dalam kabinet lama. Healey kini menggantikan posisi Rachel Reeves yang kerap membuat blunder kebijakan ekonomi.
Walaupun demikian, Burnham juga menggeser posisi beberapa menteri utama lainnya. Ia memercayakan jabatan menteri luar negeri baru kepada Ed Miliband. Miliband menggantikan Yvette Cooper yang sekarang harus memimpin kementerian kesehatan. Di sisi lain, Shabana Mahmood tetap mempertahankan kursi menteri dalam negeri. Seluruh jajaran menteri baru ini akan menggelar rapat perdana pada hari Selasa.
Suksesi Kilat Tanpa Pemilihan Umum
Alhasil, Burnham tercatat sebagai perdana menteri ketujuh Inggris sejak tahun 2016. Ia memimpin Partai Buruh setelah menggantikan posisi Keir Starmer hari Jumat lalu. Sebelumnya, Starmer mengumumkan pengunduran dirinya menyusul desakan hebat dari internal partai. Starmer akhirnya lengser setelah memimpin pemerintahan selama dua tahun pasca-kemenangan besar. Aturan demokrasi Inggris memang mengizinkan suksesi kepemimpinan tanpa melalui pemilu nasional.
Oleh karena itu, Burnham melangkah mulus karena mengantongi dukungan mutlak dari para legislator. Sebanyak 379 anggota parlemen mendukung penuh pencalonan tunggal tokoh asal Manchester tersebut. Kini, ia bersiap menjalin komunikasi taktis dengan para pemimpin global termasuk Donald Trump. Kedua tokoh bahkan telah berbicara secara langsung melalui sambungan telepon pada Senin sore.
“Saya selalu menerapkan pendekatan ekonomi yang sangat hati-hati,” ujar Burnham yakin. Ia memastikan bahwa pemerintahannya tidak akan mengambil risiko finansial yang berbahaya. Profesor politik Tim Bale menilai kehadiran Burnham mampu mengalirkan energi positif bagi negara. Publik kini menanti realisasi janji perubahan dari sang perdana menteri baru.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia













