Armada Kapal Perang Tiongkok Terobos Jalur Strategis Okinawa

Jumat, 24 April 2026 - 13:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Ketegangan diplomatik di Pasifik. Tiongkok menjatuhkan larangan perjalanan bagi anggota parlemen Selandia Baru setelah mereka nekat mengunjungi Taiwan. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Ketegangan diplomatik di Pasifik. Tiongkok menjatuhkan larangan perjalanan bagi anggota parlemen Selandia Baru setelah mereka nekat mengunjungi Taiwan. Dok: Istimewa.

OKINAWA, POSNEWS.CO.ID – Ketegangan militer antara dua kekuatan besar Asia Timur kembali memuncak di perairan Pasifik Barat. Pemerintah Tiongkok mengonfirmasi bahwa sekelompok kapal perang telah melintasi jalur air sensitif di Prefektur Okinawa pada hari Rabu.

Dalam konteks ini, manuver tersebut dilakukan oleh Formasi Kapal 133 di bawah kendali Komando Teater Timur PLA. Oleh karena itu, Tokyo kini meningkatkan status kewaspadaan di wilayah perbatasan lautnya guna mengantisipasi pergerakan asimetris lebih lanjut pada tahun 2026 ini.

Manuver Balasan: Dari Selat Taiwan ke Yonaguni

Langkah Beijing ini muncul hanya beberapa hari setelah insiden diplomatik yang melibatkan kapal perusak Jepang. Pada hari Jumat pekan lalu, kapal perang Tokyo melintasi Selat Taiwan—sebuah tindakan yang Beijing labeli sebagai “provokasi sengaja” dan “unjuk kekuatan” yang berbahaya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebagai hasilnya, Tiongkok segera merespons dengan mengarahkan armadanya kembali dari latihan di Pasifik melalui Selat Yonaguni-Iriomote. Jalur sempit selebar 65 km ini merupakan urat nadi logistik bagi Jepang. Meskipun demikian, hukum internasional mengizinkan kapal asing melintas di jalur tengah. Namun, otoritas Tokyo menegaskan hak mereka untuk mengambil tindakan jika kapal PLA masuk ke wilayah laut teritorial (12 mil laut).

Baca Juga :  Kapal Tanker Jepang Berhasil Tembus Blokade Selat Hormuz

Yonaguni: Titik Panas Baru Keamanan Asia

Pulau Yonaguni kini berada di radar utama perhitungan keamanan regional. Terletak hanya 110 km dari pesisir timur Taiwan, pulau ini menjadi pilar terdepan pertahanan Jepang. Terlebih lagi, hubungan bilateral memburuk tajam sejak PM Sanae Takaichi menyatakan bahwa serangan terhadap Taiwan merupakan “ancaman eksistensial” bagi Jepang.

Secara khusus, pemerintah Jepang telah mematangkan rencana penempatan unit rudal permukaan-ke-udara jarak menengah di Yonaguni. Bahkan, Tokyo juga berencana memperkuat garnisun militernya di sana. Tiongkok bereaksi keras terhadap kebijakan ini dan menyebut rencana militerisasi pulau tersebut sebagai langkah yang “sangat berbahaya” bagi perdamaian kawasan.

Sejarah Eskalasi dan Kedaulatan Udara

Insiden ini menambah panjang daftar gesekan fisik di perairan tersebut. Pada September 2024, kapal induk Liaoning mencatatkan sejarah sebagai kapal induk Tiongkok pertama yang melintasi perairan tambahan Jepang di selat yang sama. Akibatnya, protes diplomatik keras terus mengalir dari Tokyo ke Beijing.

Baca Juga :  PM Greenland Kecam AS: Sebut Washington Merendahkan

Lebih lanjut, Kementerian Pertahanan Tiongkok menuduh Jepang mengirimkan sinyal yang salah bagi kelompok pro-kemerdekaan di Taiwan. Beijing tetap bersikeras bahwa Selat Taiwan bukanlah perairan internasional, sebuah klaim yang secara konsisten ditolak oleh Washington dan sekutunya. Oleh sebab itu, kehadiran militer asing di jalur tersebut akan selalu memicu reaksi agresif dari armada laut Tiongkok.

Kesimpulan: Menanti Redanya Badai Geopolitik

Masa depan stabilitas Asia Pasifik pada tahun 2026 kini bergantung pada kemampuan kedua negara dalam mengelola komunikasi militer mereka. Pada akhirnya, rentetan aksi-reaksi di Selat Yonaguni ini membuktikan bahwa batas kedaulatan kian tipis di tengah persaingan pengaruh global.

Dengan demikian, masyarakat internasional memantau apakah diplomasi mampu meredam ambisi militer di Pasifik Barat. Di tengah guncangan energi dan ekonomi dunia, konfrontasi terbuka di lepas pantai Okinawa merupakan risiko yang terlalu mahal bagi kesejahteraan peradaban modern di sisa dekade ini.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

BMKG Prediksi Langit Jabodetabek Diselimuti Awan Seharian
Presiden Lebanon Joseph Aoun Desak Jalur Diplomasi
Polda Metro Sikat 141 Curanmor, 317 Ditangkap – Muncul Pertanyaan Efektivitas Pencegahan
Paus Leo XIV Desak Penghormatan Migran dan Hukum Internasional
Rekrutmen Disabilitas Polri Diperluas, Jabatan Struktural Mulai Dibuka
Ukraina Gempur Depot Minyak Rusia di Tengah Mediasi Rahasia
Usia Pensiun Polri Naik, Wamenkum Jelaskan Isi Revisi UU Polri
Rapat Koordinasi DPR dan Danantara: Menata Kebijakan Ekspor

Berita Terkait

Rabu, 10 Juni 2026 - 06:53 WIB

BMKG Prediksi Langit Jabodetabek Diselimuti Awan Seharian

Selasa, 9 Juni 2026 - 17:46 WIB

Presiden Lebanon Joseph Aoun Desak Jalur Diplomasi

Selasa, 9 Juni 2026 - 16:40 WIB

Polda Metro Sikat 141 Curanmor, 317 Ditangkap – Muncul Pertanyaan Efektivitas Pencegahan

Selasa, 9 Juni 2026 - 16:39 WIB

Paus Leo XIV Desak Penghormatan Migran dan Hukum Internasional

Selasa, 9 Juni 2026 - 15:46 WIB

Rekrutmen Disabilitas Polri Diperluas, Jabatan Struktural Mulai Dibuka

Berita Terbaru

Ilustrasi, Kondisi langit berawan di kawasan Jakarta saat BMKG memprediksi seluruh wilayah Jabodetabek mengalami cuaca berawan pada Rabu, 10 Juni 2026.
(Posnews/BMKG)

JABODETABEK

BMKG Prediksi Langit Jabodetabek Diselimuti Awan Seharian

Rabu, 10 Jun 2026 - 06:53 WIB

Pesan kemanusiaan dari Beirut. Presiden Lebanon Joseph Aoun menyampaikan seruan langsung yang langka kepada Israel untuk menghentikan perang dan memulai jalur diplomasi resmi. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Presiden Lebanon Joseph Aoun Desak Jalur Diplomasi

Selasa, 9 Jun 2026 - 17:46 WIB

Ilustrasi, Pesan kemanusiaan dari Madrid. Paus Leo XIV menyampaikan pidato bersejarah di hadapan parlemen Spanyol untuk membela hak migran dan hukum internasional di tengah polarisasi politik. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Paus Leo XIV Desak Penghormatan Migran dan Hukum Internasional

Selasa, 9 Jun 2026 - 16:39 WIB