KYIV, POSNEWS.CO.ID – Pasukan militer Ukraina meluncurkan gelombang serangan drone ke depot minyak di wilayah Rusia dan Semenanjung Crimea. Langkah taktis ini bertujuan untuk menghancurkan pasokan bahan bakar bagi armada perang Kremlin.
Gempuran Udara ke Jantung Energi Rusia
Militer Ukraina menyasar Grushovaya yang merupakan salah satu hub transshipment minyak terbesar di Rusia selatan. Sebab, fasilitas dekat Novorossiysk tersebut menampung cadangan energi dalam jumlah yang sangat masif.
Sementara itu, drone Ukraina juga memicu kebakaran hebat di stasiun distribusi minyak Krasny Yar di Volgograd. Selanjutnya, serangan udara terpisah juga menghantam depot penyimpanan bahan bakar militer Rusia di Feodosia dan Semykolodezkaya, di Crimea.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, akhirnya mengakui adanya masalah pasokan bahan bakar di Semenanjung Crimea. Oleh karena itu, Kementerian Energi Rusia kini berupaya keras merancang langkah-langkah darurat untuk mengatasi krisis tersebut.
Utusan Rahasia dan Kebuntuan Negosiasi Damai
Di sisi lain, Presiden Volodymyr Zelenskyy membuat pengakuan mengejutkan tentang jalur komunikasi rahasia dengan pihak Moskow. Ia mengonfirmasi bahwa mantan pemilik klub sepak bola Chelsea, Roman Abramovich, bertindak sebagai perantara pesan dari Vladimir Putin.
Abramovich kabarnya sempat mengunjungi Kyiv secara diam-diam untuk menyerahkan draf penawaran dari Kremlin. Namun, Zelenskyy menegaskan Ukraina menolak keras opsi penyerahan wilayah Donbas demi meraih perdamaian.
“Kami tidak akan pernah meninggalkan wilayah kedaulatan kami,” tegas Zelenskyy kepada media Sky News pada Senin. Sebaliknya, Zelenskyy menyatakan kesiapannya untuk bertemu Putin di wilayah netral bersama Presiden AS Donald Trump.
Sanksi Raksasa Uni Eropa dan Dampak Kerusakan
Pertempuran udara yang kian sengit ini terus memakan korban jiwa dari kalangan warga sipil kedua belah pihak. Sebagai contoh, serangan drone Rusia di wilayah Zaporizhzhia merusak permukiman warga serta menewaskan dua orang sipil.
Sementara itu, serangan drone Ukraina di Crimea menghantam kereta penumpang yang sedang berjalan dari arah Moskow. Akibatnya, masinis kereta terluka dan asistennya tewas di tempat hingga melumpuhkan seluruh jadwal perjalanan kereta setempat.
Merespons agresi tersebut, Uni Eropa bersiap meluncurkan paket sanksi baru yang menyasar 80 entitas militer Rusia. Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, memproyeksikan bahwa sanksi Barat telah merugikan Rusia hingga USD 1,5 triliun. Dengan demikian, tekanan ekonomi global ini diharapkan mampu membatasi kapasitas produksi senjata Kremlin secara signifikan.
Penulis : Alifa Latifa
Editor : Alifa Latifa












