AS Dorong Suriah Masuk ke Lebanon untuk Lucuti Senjata Hezbollah

Rabu, 18 Maret 2026 - 12:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lampu hijau dari Washington. Amerika Serikat mendorong pemerintahan baru Suriah untuk mengirim pasukan ke Lebanon Timur guna melucuti Hezbollah, memicu dilema keamanan bagi Presiden Ahmed al-Sharaa di tengah eskalasi perang Iran. Dok: Istimewa.

Lampu hijau dari Washington. Amerika Serikat mendorong pemerintahan baru Suriah untuk mengirim pasukan ke Lebanon Timur guna melucuti Hezbollah, memicu dilema keamanan bagi Presiden Ahmed al-Sharaa di tengah eskalasi perang Iran. Dok: Istimewa.

DAMASKUS, POSNEWS.CO.ID – Amerika Serikat dilaporkan sedang membujuk Suriah untuk mengirimkan pasukannya ke Lebanon Timur. Langkah luar biasa ini bertujuan untuk mempercepat proses pelucutan senjata kelompok Hezbollah yang didukung Iran. Namun, Damaskus hingga saat ini masih menunjukkan keraguan besar terhadap proposal tersebut.

Dalam konteks ini, gagasan intervensi Suriah pertama kali muncul dalam diskusi tertutup tahun lalu. Namun, Washington kembali menghidupkan usulan ini sesaat setelah perang AS-Israel melawan Iran meletus pada 28 Februari 2026. Pejabat Amerika Serikat memandang militer Suriah sebagai aktor strategis yang mampu menekan basis-basis Hezbollah di lembah Bekaa.

Dilema Presiden Al-Sharaa: Antara Kedaulatan dan Risiko Perang

Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa menghadapi posisi yang sangat sulit. Meskipun secara historis memiliki ketegangan dengan Hezbollah, Al-Sharaa memilih untuk bergerak sangat hati-hati sejak gempuran udara AS-Israel ke Iran dimulai. Oleh karena itu, Damaskus lebih memilih untuk menempatkan ribuan tentara di sepanjang perbatasan hanya untuk tujuan defensif.

Baca Juga :  Trump Paksa Pemimpin Dunia Gabung Dewan Perdamaian

Lebih lanjut, pejabat senior Suriah mengungkapkan kekhawatiran bahwa intervensi ke Lebanon dapat memicu serangan rudal langsung dari Iran. Selain itu, Damaskus mewaspadai potensi kebangkitan kekerasan sektarian dari minoritas Syiah di dalam negeri yang dapat mengganggu stabilitas Suriah pasca-perang saudara. “Kami sepakat bahwa Suriah harus tetap berada di luar perang ini dan hanya mengambil langkah-langkah pertahanan,” ujar seorang pejabat senior Damaskus.

Respon Beirut: Menjaga Kedaulatan di Tengah Tekanan

Di sisi lain, pemerintah Lebanon mengaku belum menerima pemberitahuan resmi mengenai diskusi AS-Suriah tersebut. Presiden Lebanon Joseph Aoun menegaskan bahwa kedaulatan Lebanon harus dihormati sepenuhnya. Meskipun demikian, Aoun terus berupaya mengejar kebijakan pelucutan senjata Hezbollah melalui otoritas negara Lebanon sendiri.

Dalam hal ini, koordinasi antara militer Lebanon dan Suriah tetap terbuka dalam kerangka pengamanan perbatasan. Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam menyatakan bahwa penguatan militer Suriah di perbatasan bertujuan murni untuk kontrol keamanan internal. Sebagai hasilnya, Lebanon berusaha mencegah terjadinya insiden lintas batas yang dapat memicu konflik baru di wilayah timur yang sensitif.

Baca Juga :  Ariana Grande Positif COVID-19 di Penghujung Tur Promo

Bayang-Bayang Sejarah Dominasi Suriah

Usulan AS ini memicu ingatan kolektif mengenai dominasi panjang Suriah atas Lebanon di bawah dinasti Assad (1976-2005). Intervensi Suriah di masa lalu sering kali memicu ketegangan sektarian yang mendalam antara kelompok Sunni, Kristen, Druze, dan Syiah. Oleh sebab itu, setiap pergerakan pasukan Suriah ke wilayah Lebanon akan dipandang dengan penuh kecurigaan oleh komunitas internasional maupun rakyat Lebanon sendiri.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pada akhirnya, keputusan Suriah untuk melakukan incursion atau tidak akan sangat bergantung pada dinamika perang Iran yang kian memanas. Militer Suriah menyatakan bahwa opsi intervensi tetap berada di atas meja jika terjadi konflik terbuka antara negara Lebanon dan Hezbollah. Dengan demikian, perbatasan timur Lebanon kini menjadi titik pengawasan paling kritis yang dapat menentukan peta kekuatan baru di Timur Tengah pada tahun 2026.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ali Larijani Tewas, Mojtaba Khamenei Tolak Damai Saat Trump Kecam NATO
3,5 Juta Kendaraan Diprediksi Tinggalkan Jakarta Mudik Lebaran, Rekayasa Lalin Digeber
Viral di Instagram, Polisi Ringkus 17 Remaja Penebar Teror Petasan
Mengapa Nuklir Inggris Tidak Menakuti AS, tapi Nuklir Iran Menjadi Krisis?
Logika Kepantasan: Mengapa Negara Mematuhi Aturan Meskipun Tidak Menguntungkan?
Bagaimana Isu Hak Asasi Manusia Mengubah Perilaku Negara Otoriter
Diplomasi Identitas: Mengapa Kedekatan Budaya Lebih Kuat daripada Persekutuan Militer?
Pencuri HP di Masjid Istiqlal Sudah 3 Kali Beraksi, Modus Dorong Jemaah

Berita Terkait

Rabu, 18 Maret 2026 - 12:29 WIB

AS Dorong Suriah Masuk ke Lebanon untuk Lucuti Senjata Hezbollah

Rabu, 18 Maret 2026 - 11:27 WIB

Ali Larijani Tewas, Mojtaba Khamenei Tolak Damai Saat Trump Kecam NATO

Rabu, 18 Maret 2026 - 11:06 WIB

3,5 Juta Kendaraan Diprediksi Tinggalkan Jakarta Mudik Lebaran, Rekayasa Lalin Digeber

Rabu, 18 Maret 2026 - 09:54 WIB

Viral di Instagram, Polisi Ringkus 17 Remaja Penebar Teror Petasan

Rabu, 18 Maret 2026 - 09:18 WIB

Mengapa Nuklir Inggris Tidak Menakuti AS, tapi Nuklir Iran Menjadi Krisis?

Berita Terbaru

Lampu hijau dari Washington. Amerika Serikat mendorong pemerintahan baru Suriah untuk mengirim pasukan ke Lebanon Timur guna melucuti Hezbollah, memicu dilema keamanan bagi Presiden Ahmed al-Sharaa di tengah eskalasi perang Iran. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

AS Dorong Suriah Masuk ke Lebanon untuk Lucuti Senjata Hezbollah

Rabu, 18 Mar 2026 - 12:29 WIB