DAMASKUS, POSNEWS.CO.ID – Amerika Serikat dilaporkan sedang membujuk Suriah untuk mengirimkan pasukannya ke Lebanon Timur. Langkah luar biasa ini bertujuan untuk mempercepat proses pelucutan senjata kelompok Hezbollah yang didukung Iran. Namun, Damaskus hingga saat ini masih menunjukkan keraguan besar terhadap proposal tersebut.
Dalam konteks ini, gagasan intervensi Suriah pertama kali muncul dalam diskusi tertutup tahun lalu. Namun, Washington kembali menghidupkan usulan ini sesaat setelah perang AS-Israel melawan Iran meletus pada 28 Februari 2026. Pejabat Amerika Serikat memandang militer Suriah sebagai aktor strategis yang mampu menekan basis-basis Hezbollah di lembah Bekaa.
Dilema Presiden Al-Sharaa: Antara Kedaulatan dan Risiko Perang
Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa menghadapi posisi yang sangat sulit. Meskipun secara historis memiliki ketegangan dengan Hezbollah, Al-Sharaa memilih untuk bergerak sangat hati-hati sejak gempuran udara AS-Israel ke Iran dimulai. Oleh karena itu, Damaskus lebih memilih untuk menempatkan ribuan tentara di sepanjang perbatasan hanya untuk tujuan defensif.
Lebih lanjut, pejabat senior Suriah mengungkapkan kekhawatiran bahwa intervensi ke Lebanon dapat memicu serangan rudal langsung dari Iran. Selain itu, Damaskus mewaspadai potensi kebangkitan kekerasan sektarian dari minoritas Syiah di dalam negeri yang dapat mengganggu stabilitas Suriah pasca-perang saudara. “Kami sepakat bahwa Suriah harus tetap berada di luar perang ini dan hanya mengambil langkah-langkah pertahanan,” ujar seorang pejabat senior Damaskus.
Respon Beirut: Menjaga Kedaulatan di Tengah Tekanan
Di sisi lain, pemerintah Lebanon mengaku belum menerima pemberitahuan resmi mengenai diskusi AS-Suriah tersebut. Presiden Lebanon Joseph Aoun menegaskan bahwa kedaulatan Lebanon harus dihormati sepenuhnya. Meskipun demikian, Aoun terus berupaya mengejar kebijakan pelucutan senjata Hezbollah melalui otoritas negara Lebanon sendiri.
Dalam hal ini, koordinasi antara militer Lebanon dan Suriah tetap terbuka dalam kerangka pengamanan perbatasan. Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam menyatakan bahwa penguatan militer Suriah di perbatasan bertujuan murni untuk kontrol keamanan internal. Sebagai hasilnya, Lebanon berusaha mencegah terjadinya insiden lintas batas yang dapat memicu konflik baru di wilayah timur yang sensitif.
Bayang-Bayang Sejarah Dominasi Suriah
Usulan AS ini memicu ingatan kolektif mengenai dominasi panjang Suriah atas Lebanon di bawah dinasti Assad (1976-2005). Intervensi Suriah di masa lalu sering kali memicu ketegangan sektarian yang mendalam antara kelompok Sunni, Kristen, Druze, dan Syiah. Oleh sebab itu, setiap pergerakan pasukan Suriah ke wilayah Lebanon akan dipandang dengan penuh kecurigaan oleh komunitas internasional maupun rakyat Lebanon sendiri.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pada akhirnya, keputusan Suriah untuk melakukan incursion atau tidak akan sangat bergantung pada dinamika perang Iran yang kian memanas. Militer Suriah menyatakan bahwa opsi intervensi tetap berada di atas meja jika terjadi konflik terbuka antara negara Lebanon dan Hezbollah. Dengan demikian, perbatasan timur Lebanon kini menjadi titik pengawasan paling kritis yang dapat menentukan peta kekuatan baru di Timur Tengah pada tahun 2026.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia



















