Trump Paksa Pemimpin Dunia Gabung Dewan Perdamaian

Kamis, 22 Januari 2026 - 14:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana pertemuan tingkat tinggi dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un pada akhir tahun 2026. Dok: Istimewa.

Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana pertemuan tingkat tinggi dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un pada akhir tahun 2026. Dok: Istimewa.

DAVOS, POSNEWS.CO.ID – Suasana di resor pegunungan Davos, Swiss, terasa mencekam di balik kemewahannya. “Board of Peace” atau Dewan Perdamaian bentukan Presiden AS Donald Trump, yang banyak pihak lihat sebagai saingan PBB, telah menyudutkan para pejabat negara undangan.

Di sela-sela pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia (WEF), para politisi dan delegasi dari negara Arab, Amerika Latin, hingga Eropa berbisik cemas secara tertutup. Bagi mereka, bergabung dengan dewan usulan Trump kini terasa bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keniscayaan.

Oleh karena itu, pemerintah negara-negara tersebut sibuk menimbang risiko: tetap berada di luar dan mengambil risiko murka Washington, atau masuk ke dalam ketidakpastian.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Siapa yang bisa bilang tidak pada Trump?” ujar seorang pejabat Arab dengan nada pasrah.

Ketakutan ini beralasan. Sejak kembali ke Gedung Putih, Trump mengejar strategi unilateral yang agresif di berbagai front. Mulai dari negosiasi langsung dengan Rusia yang mengabaikan Ukraina, penahanan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, hingga peluncuran rudal ke fasilitas nuklir Iran dan ambisi mencaplok Greenland.

Baca Juga :  Trump vs Eropa: Keretakan Sekutu dalam Misi Maritim Selat Hormuz

Mandat Meluas dan Tiket Masuk $1 Miliar

Seorang pejabat senior Gedung Putih mengklaim sekitar 35 pemimpin dunia telah berkomitmen sejauh ini. Rencananya, Trump sendiri akan meresmikan anggota-anggota tersebut dalam sebuah upacara di Davos, Kamis (22/1) ini.

Awalnya, Washington merancang dewan ini khusus untuk rencana pasca-perang Gaza. Namun, mandatnya kini meluas drastis. Trump menyatakan dewan ini mungkin akan menangani krisis global—peran yang secara tradisional PBB pegang.

“Saya suka PBB, tapi PBB tidak pernah memenuhi potensinya,” sindir Trump dalam konferensi pers Selasa lalu.

Syaratnya pun fantastis. Menurut piagam dewan, Trump mematok harga $1 miliar bagi negara yang ingin mengamankan kursi di meja tersebut.

Eropa Melawan, Anggur Prancis Jadi Sasaran

Meskipun demikian, tidak semua tunduk pada tekanan. Prancis memimpin perlawanan. Presiden Emmanuel Macron berniat menolak undangan tersebut. Menteri Luar Negeri Jean-Noel Barrot menegaskan bahwa piagam dewan itu tidak sesuai dengan komitmen internasional Prancis, terutama keanggotaannya di PBB.

Baca Juga :  Presiden Paraguay Santiago Pena Kunjungi Taiwan

Respons Trump sangat khas: ancaman dagang yang mematikan.

“Saya akan mengenakan tarif 200 persen pada anggur dan sampanye miliknya, dan dia akan bergabung,” ancam Trump. “Tapi dia (Macron) tidak harus bergabung.”

Selain Prancis, Norwegia dan Swedia juga menolak. Sementara itu, Italia dan Jerman masih mengkaji, sedangkan Inggris di bawah PM Keir Starmer mengambil pendekatan sangat hati-hati tanpa memberikan dukungan penuh.

Jabatan Seumur Hidup?

Seorang diplomat Eropa menggambarkan proses ini sebagai “mimpi buruk” birokrasi. Ia menyoroti aturan ketat dalam draf piagam mengenai pencopotan ketua. Tampaknya, perancang aturan tersebut sengaja memosisikan Trump dalam peran ketua seumur hidup.

Ketua hanya bisa mundur secara sukarela. Sebaliknya, dewan eksekutif baru bisa menggulingkannya dengan suara bulat jika ada alasan ketidakmampuan (incapacity).

Paul Salem dari Middle East Institute menilai inisiatif ini sebagai cara Trump mengelola “lingkup pengaruh Amerika”. Ambiguitas mandat dewan adalah strategi yang disengaja.

“Itu bukan hanya gayanya; itu strateginya. Dia tidak ingin orang tahu sebelumnya apa yang akan dia lakukan sebagai negara adidaya,” analisis Salem.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Demokrat Berjanji Batasi Kebijakan Trump Pasca Kemenangan
Partai Demokrat Kuasai Majelis Kongres dan Kalahkan Republik
Jepang Pertimbangkan Bantuan Untuk Mahkamah Internasional
Donald Trump Puji Kemenangan Demokrat dan Salahkan Perang
Partai Demokrat Kuasai Kongres Amerika Serikat, Hentikan Agenda
Pasukan Rusia Bom Sekolah Di Zaporizhzhia, 24 Tewas
Pemerintah Inggris Gandakan Waktu Tunggu Izin Tinggal
Donald Trump Fokus Renovasi Kolam Menjelang Pemilu

Berita Terkait

Jumat, 6 November 2026 - 10:12 WIB

Demokrat Berjanji Batasi Kebijakan Trump Pasca Kemenangan

Jumat, 6 November 2026 - 09:40 WIB

Partai Demokrat Kuasai Majelis Kongres dan Kalahkan Republik

Jumat, 6 November 2026 - 09:05 WIB

Jepang Pertimbangkan Bantuan Untuk Mahkamah Internasional

Jumat, 6 November 2026 - 08:30 WIB

Donald Trump Puji Kemenangan Demokrat dan Salahkan Perang

Jumat, 6 November 2026 - 07:26 WIB

Partai Demokrat Kuasai Kongres Amerika Serikat, Hentikan Agenda

Berita Terbaru

Rumor chipset Galaxy S27 Ultra kembali berbelok: Snapdragon atau Exynos 2700? Simak rangkuman bocoran terbaru. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Bocoran Galaxy S27 Ultra: Snapdragon dan Exynos 2700

Sabtu, 7 Nov 2026 - 19:16 WIB

Honor 700 Series tampil dengan layar kedua di modul kamera belakang. Pre-order sudah berjalan di China. Simak model, warna. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Honor 700 Series Punya Layar Kedua di Modul Kamera

Sabtu, 7 Nov 2026 - 18:15 WIB