BEIJING, POSNEWS.CO.ID – Konflik militer di Timur Tengah secara tidak terduga menjadi katalisator bagi dominasi teknologi Tiongkok. Di saat sebagian besar negara Asia berebut mengamankan cadangan minyak yang menipis, Beijing justru memetik keuntungan finansial dan politik dari percepatan transisi energi global.
Dalam konteks ini, pendekatan Tiongkok terhadap pengembangan sektor energi telah mendapatkan validasi penuh melalui konflik Iran. Oleh karena itu, strategi Presiden Xi Jinping yang menyatukan keamanan energi dengan keamanan nasional sejak satu dekade lalu kini membuahkan hasil strategis yang nyata di tahun 2026.
Benturan Visi: “Dominasi Energi” vs “Kekuatan Kualitas Baru”
Sebelum perang meletus pada Februari lalu, pasar energi dunia menyaksikan perpecahan strategi antara dua kekuatan besar. Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump memfokuskan diri pada keunggulan bahan bakar fosil melalui doktrin “Drill, Baby, Drill”.
Sebaliknya, Tiongkok tetap konsisten memprioritaskan industri rendah emisi dalam Rencana Lima Tahun hingga 2030. Akibatnya, saat kerentanan energi fosil terekspos oleh blokade Selat Hormuz, Tiongkok sudah siap dengan infrastruktur energi alternatif. “Tiongkok berada di garis depan dalam hal ini, jauh melampaui negara lain, dan tentu saja jauh lebih maju daripada Amerika Serikat,” tegas Li Shuo, direktur China Climate Hub.
Lonjakan Ekspor dan Gairah Pasar Modal
Dampak ekonomi dari perang ini terlihat jelas pada kinerja industri Tiongkok. Data menunjukkan bahwa ekspor panel surya, baterai, dan mobil listrik Tiongkok mencapai rekor hampir $22,3 miliar pada akhir tahun 2025—melonjak $47 secara tahunan.
Lebih lanjut, kepercayaan investor terhadap sektor ini semakin menguat. Pada Maret 2026, saham CATL dan BYD di bursa Hong Kong masing-masing naik sebesar $24 dan $11. Sebagai hasilnya, para pelaku pasar modal kini bertaruh bahwa ketegangan geopolitik di Teluk akan mendorong negara-negara yang bergantung pada impor energi, termasuk di Eropa, untuk berinvestasi lebih besar pada sistem penyimpanan baterai dan energi terbarukan asal Tiongkok.
Pakistan dan Inggris: Contoh Nyata Pergeseran Pola Konsumsi
Rumah tangga di berbagai belahan dunia mulai bereaksi terhadap lonjakan harga bensin. Pakistan menjadi contoh awal yang signifikan; negara ini mengimpor lebih dari 50 gigawatt panel surya Tiongkok guna mengurangi ketergantungan pada minyak mentah yang melewati Selat Hormuz. Dengan demikian, Pakistan diproyeksikan mampu menghemat $6,3 miliar biaya impor fosil tahun depan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Secara simultan, tren serupa muncul di Inggris. Permintaan penyewaan kendaraan listrik (EV) di Inggris melonjak sepertiga hanya dalam tiga pekan pertama bulan Maret. Bahkan, produsen EV asal Vietnam, VinFast, mulai menawarkan diskon besar guna merebut momentum dari guncangan harga bahan bakar konvensional ini.
Indonesia: Rekalibrasi Sang Raksasa Batubara
Fenomena paling menarik terjadi di Indonesia. Sebagai eksportir batu bara terbesar di dunia, Indonesia kini justru melakukan rekalibrasi kebijakan guna menjadi pelanggan utama teknologi energi bersih Tiongkok.
Dalam hal ini, Presiden Prabowo Subianto secara agresif mendorong program elektrifikasi transportasi nasional, termasuk rencana produksi mobil listrik domestik. Terlebih lagi, perusahaan-perusahaan Tiongkok telah menyepakati investasi senilai lebih dari $64 miliar dengan PLN. “Akan ada keuntungan finansial langsung bagi perusahaan Tiongkok seiring mimpi transportasi listrik Indonesia mendapatkan perhatian baru,” ujar Putra Adhiguna dari Energy Shift Institute.
Tatanan Baru Geopolitik Energi
Masa depan kedaulatan ekonomi dunia kini sedang bergeser dari penguasaan sumur minyak ke penguasaan rantai pasok mineral dan teknologi hijau. Pada akhirnya, guncangan energi tahun 2026 telah membuktikan bahwa ketergantungan pada fosil merupakan risiko keamanan yang mahal.
Dengan demikian, Tiongkok telah berhasil mengamankan posisinya sebagai “pemberi solusi” bagi krisis energi dunia. Di tahun 2026 ini, keberhasilan Beijing dalam mendominasi teknologi rendah emisi bukan hanya sekadar urusan ekonomi, melainkan instrumen soft power yang paling efektif untuk memenangkan persaingan pengaruh global di abad ke-21.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia



















