BERLIN, POSNEWS.CO.ID – Pemerintah Jerman gagal mengamankan kursi non-permanen di Dewan Keamanan PBB pada hari Rabu waktu setempat. Akibatnya, kekalahan memalukan ini menjadi pukulan telak bagi pemerintahan Kanselir Friedrich Merz yang sedang menghadapi krisis domestik.
Tudingan Lobi Rusia dan Komitmen Terhadap Israel
Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul, memberikan penjelasan lengkap mengenai hasil pemungutan suara di New York tersebut. Menurutnya, dukungan kuat Jerman terhadap Ukraina memicu kemarahan Rusia di panggung diplomasi internasional. Sebab, Rusia secara aktif menghasut negara-negara anggota PBB untuk tidak memilih Jerman.
Selain itu, Wadephul menilai tanggung jawab historis Jerman terhadap Israel juga turut menggerus perolehan suara mereka. Namun, ia menegaskan Jerman tidak akan pernah melepaskan tanggung jawab moral tersebut demi kepentingan politik praktis.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kritik Tajam dari Oposisi dan AfD
Kekalahan memalukan ini langsung memicu gelombang kritik tajam dari berbagai faksi politik di dalam negeri Jerman. Sebagai contoh, wakil ketua fraksi Partai Hijau, Agnieszka Brugger, menyebut pemerintah terlalu pasif dalam meluncurkan lobi.
Sementara itu, partai sayap kanan Alternative for Germany (AfD) menilai hasil ini sebagai bukti kegagalan kebijakan luar negeri. Politisi AfD, Markus Frohnmaier, menuduh pemerintah pimpinan Merz telah mengisolasi Jerman dari pergaulan internasional. Di sisi lain, Frohnmaier beserta rombongan parlemen AfD justru menghadiri forum ekonomi rancangan Vladimir Putin di St Petersburg.
Merz Tetap Optimis Jaga Multilateralisme
Kanselir Friedrich Merz berupaya meredam kekecewaan publik dengan memberikan ucapan selamat kepada Austria dan Portugal. Dengan demikian, kedua negara tetangga tersebut akan mengemban tugas di Dewan Keamanan untuk periode dua tahun ke depan.
Merz menegaskan bahwa kegagalan ini tidak akan mengubah arah kebijakan luar negeri Jerman secara drastis. Oleh karena itu, Jerman berkomitmen untuk tetap menjadi pilar utama yang andal dalam sistem multilateral PBB.
Penulis : Alifa Latifa
Editor : Alifa Latifa












