Donald Trump Teken Aturan Pecat 8.000 Pegawai Negeri

Kamis, 4 Juni 2026 - 15:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

AS kembali menyerang Iran, menewaskan empat orang dalam serangan yang mengenai pesta pernikahan, sementara Trump ancam balasan lebih besar dan harga minyak dunia melonjak. Dok: Istimewa.

AS kembali menyerang Iran, menewaskan empat orang dalam serangan yang mengenai pesta pernikahan, sementara Trump ancam balasan lebih besar dan harga minyak dunia melonjak. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani perintah eksekutif baru pada hari Rabu. Melalui kebijakan ini, ia mempermudah pemecatan sekitar 8.000 pegawai federal bergaji tertinggi di lingkungan pemerintahan.

Langkah radikal ini menyasar kelompok pegawai negeri senior yang memiliki peran memengaruhi arah kebijakan negara. Secara spesifik, aturan baru ini mencabut perlindungan kerja dari pegawai yang berpenghasilan hingga mendekati 200.000 dolar AS per tahun.

Upaya Penertiban dan Loyalitas Birokrasi

Direktur Kantor Manajemen Personel AS, Scott Kupor, memberikan penjelasan lengkap mengenai keputusan tersebut. Menurutnya, pihak administrasi membutuhkan staf yang bersedia dan mampu menjalankan perintah presiden secara patuh.

Kupor menegaskan bahwa setiap pegawai birokrasi tentu boleh memiliki pandangan politik pribadi yang bebas. Namun, pandangan tersebut tidak boleh mengganggu pelaksanaan perintah hukum dan arahan kebijakan pemerintah. Oleh karena itu, mekanisme baru ini memungkinkan pemecatan pegawai pembangkang secara cepat demi efektivitas kerja.

Sementara itu, keputusan ini mempertegas komitmen Trump untuk mendisiplinkan pegawai karir yang menghambat tujuannya. Langkah ini berjalan satu tahun setelah miliarder Elon Musk menyelesaikan tugas pengurangan anggaran belanja pemerintah.

Pembatasan Kuota dan Gugatan Hukum

Trump meyakini bahwa para pegawai negeri karir sering kali menghalangi agendanya selama masa jabatan pertama. Meskipun begitu, jumlah pegawai yang merasakan dampak saat ini berada jauh di bawah estimasi awal.

Baca Juga :  Roti Gratis Tak Cukup, Anak-anak Gaza Tewas Kedingina

Pemerintah sebelumnya memperkirakan aturan baru ini akan menyasar hingga 50.000 pekerja federal. Sebaliknya, pejabat senior menjelaskan bahwa Trump dapat memperluas target tersebut namun belum memiliki rencana jangka dekat.

Di sisi lain, serikat pekerja federal dan sekutunya telah melayangkan gugatan hukum sejak Januari lalu. Sebab, mereka menilai kebijakan ini sebagai tindakan diskriminatif yang merusak stabilitas sistem kerja. Akibatnya, hakim federal sempat menangguhkan persidangan tersebut hingga pemerintah merampungkan revisi aturan secara final.

Penulis : Alifa Latifa

Editor : Alifa Latifa

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hakim Federal Tolak Permintaan Pemerintahan Trump Soal Suara
Menhan AS Pete Hegseth Pecat Perencana Militer Utama
Biaya Perang Iran Melonjak Hingga 47,1 Miliar Dolar AS
Tabrakan Kereta Cepat di Toledo Spanyol Menewaskan 68 Orang
Jepang dan Jerman Sepakat Perkuat Kerja Sama Mineral Kritis
Perayaan Meriah Festival Sembilan Dewa Kaisar
Fenomena Fesyen Gothic Lolita Jepang Kembali Memikat Hati
Lonceng Perdamaian Cenderamata Jepang Ditemukan Kembali

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 12:42 WIB

Hakim Federal Tolak Permintaan Pemerintahan Trump Soal Suara

Jumat, 30 Oktober 2026 - 09:42 WIB

Biaya Perang Iran Melonjak Hingga 47,1 Miliar Dolar AS

Jumat, 30 Oktober 2026 - 08:40 WIB

Tabrakan Kereta Cepat di Toledo Spanyol Menewaskan 68 Orang

Jumat, 30 Oktober 2026 - 07:32 WIB

Jepang dan Jerman Sepakat Perkuat Kerja Sama Mineral Kritis

Selasa, 27 Oktober 2026 - 09:19 WIB

Perayaan Meriah Festival Sembilan Dewa Kaisar

Berita Terbaru

Hakim federal menolak permintaan Pemerintahan Trump untuk menghentikan penghitungan 20 ribu surat suara di California.  Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Hakim Federal Tolak Permintaan Pemerintahan Trump Soal Suara

Jumat, 30 Okt 2026 - 12:42 WIB